
Sandra dan Alex tiba kembali di rumah. setelah bulan madu yang gagal total malah membuat keduanya bersitegang, kini Sandra memilih sendiri. Alex tidak tinggal di rumah mewah Sandra, ia memilih pulang ke apartemennya.
Sehari tanpa Alex membuat hidup Sandra nyaman dan seolah kembali lagi seperti sebelum ia menikah dengan pria muda itu.
Sandra kembali berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, berpesta semalam suntuk.
Setelah satu Minggu ia tidak bertemu dengan Alex tidak berhubungan dengan pria brondongnya, tidak merasakan sentuhan dan kasih sayang Alex membuat Sandra kesepian. Ia tidak bisa mengusir bayang-bayang Alex dari benaknya.
Ayolah Sandra, lupakan dia kau berhak bahagia tidak lagi di ganggu olehnya.
Beberapa kali Sandra mencoba men-sugesti dirinya sendiri untuk bisa menyingkirkan Alex dari hidupnya.
Tapi sayang sekali ia tidak bisa, selama berpisah sementara dari Alex ia melakukan pesta dan berkumpul bersama temannya agar ia bisa melupakan pria itu. Dan jawabannya adalah percuma, setiap malam Sandra merindukan kehadiran Alex.
tuk...tuk...
Pintu kamar Sandra di ketuk dari luar.
"Iya..."
Anthony membuka pintu dan berjalan perlahan ke arah ibunya. Ia merangkul bahu ibunya yang sedang duduk di depan meja rias sembari tersenyum pada Anthony.
Anthony tahu tadi ibunya pasti sedang melamunkan Alex. Gurat kesedihan nampak di mata wanita 45 tahun itu tanpa bisa tertutupi dari putranya.
"Ada apa Anthony sayang? apa kau perlu uang jajan tambahan?"
__ADS_1
"Tidak ma, uang jajan ku masih banyak"
"Apa wali kelas mu menyuruh mama datang ke sekolah besok?"
"Tidak ma"
"Lalu ada apa?"
"Aku hanya ingin memastikan mama baik-baik saja"
Sandra mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti maksud anaknya.
"Ma Anthony sudah dewasa sebentar lagi lulus sekolah menengah. untuk memahami rasa suka, sedih dan gelisah aku sudah paham ma. Sejak kepergian Alex dari rumah ini mama terlihat murung. Mama sering pergi berpesta dan shoping tapi wajah mama terlihat sedih. Mama jarang sarapan hanya makan malam itu pun sedikit, mama juga lebih banyak diam dibanding bercanda dengan ku atau kakak"
Sandra terdiam memandang buah hatinya. Sudut matanya terasa hangat, ada bulir yang menetes dari sana. Ia tidak menyangka jika Anthony anak bungsunya sudah benar-benar dewasa dan bahkan mengerti ibunya.
Anthony kemudian keluar dari kamar ibunya dan membiarkan ibunya sendiri. Sandra butuh waktu untuk kembali memikirkan pernikahannya dengan Alex.
Tanpa sepengetahuan Sandra Jeremy pergi ke perusahaan Alex. Ia ingin membuat perhitungan dengan pria bedebah itu.
"Tuan Androdelas ada yang ingin bertemu" kata sekretaris Alex.
"Siapa? aku sedang tidak ingin bertemu kolega manapun"
"Maaf tuan yang datang adalah Jeremy Cambpel putera sambung anda"
__ADS_1
"Jeremy?"
"Bagaimana tuan apakah saya bisa menyuruh nya menemui anda atau saya harus memintanya pergi?"
"Baiklah suruh dia masuk"
Tidak berapa lama Jeremy memasuki ruang kerja Alex. Ia mengedarkan pandangannya seperti mengagumi desain interior di ruang kerja itu.
"Duduklah" kata Alex dingin. Ia sedang malas mengalah, sedang malas berbasa-basi dengan Jeremy. Ibunya sudah cukup mengganggu pikiran Alex selama seminggu ini. Dan ia tidak ingin anaknya juga membuat masalah dengannya dan semakin membuat mood Alex jelek.
"Ada apa?" tanya Alex.
"Langsung saja karena aku sebenarnya juga malas berbasa-basi dengan mu, tapi aku kemari karena ibuku"
Alex terdiam urat kesal di wajahnya mulai mengendur. Ia mendengarkan Jeremy berbicara tentang ibunya.
"Jika kau tidak benar-benar menyukai ibuku, tinggalkan saja jangan menyiksanya. Ia terlihat murung akhir-akhir ini, mulai bepergian pesta dan kegiatan tidak penting lainnya. Jujur saja sejak ibuku mengenal dan menikah dengan mu ia mulai merubah sikap dan kehidupannya menjadi lebih baik"
Alex masih terdiam kali ini ia tidak menatap mata Jeremy yang sedang memandangnya. Alex mengalihkan perhatiannya karena tidak ingin anak itu melihatnya juga hancur karena bertengkar dengan ibunya.
"Aku kesini tadinya ingin memukuli mu, aku ingin membuat perhitungan dengan mu karena menyakiti ibuku. Tapi setelah aku melihat mu aku rasa aku tidak perlu repot untuk menghancurkan mu. Kau sendiri terlihat sedang hancur sekarang"
"Jeremy kita adalah pria, kau akan tahu rasanya nanti ketika kau mencintai seorang wanita dan kalian bertengkar hebat. Kau akan jadi pecundang karena rasa rindu, sama seperti ku sekarang yang merindukan Sandra"
Jeremy tersenyum kecil lalu bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Alex. Ia sudah puas bicara dengan ayah sambungnya dan tidak perlu berlama-lama berada di satu ruangan dengannya.
__ADS_1
Alex meraih ponselnya dan bergegas pergi, ia tidak mengejar Jeremy melainkan pergi ke rumah untuk menemui Sandra dan memperbaiki hubungan mereka.