
Alex pulang larut malam dalam keadaan mabuk. sejak kejatuhannya hampir setiap hari Alex pergi ke bar dan mabuk-mabukan tidak jelas. Sandra muak melihat kelakuan suami berondong ya yang menyebabkan banyak masalah itu.
"Kau setiap hari mabuk dan lari dari kenyataan Alex! kau tidak akan mendapatkan perusahaan mu terlebih perusahaan ku jika cara mu seperti ini!"
"Sandra...sayang...hentikan..." gumam Alex di sela mabuknya. Ia berbicara tidak jelas lalu ambruk di tempat tidur.
Jeremy mengetuk pintu kamar Sandra yang terdengar sedang ribut dengan Alex.
"Ada apa Jer?"
"Ma aku mau bicara sebentar"
"Baiklah ayo kita turun ke ruang tengah saja"
"Baiklah"
Sandra menuju uang tengah di ikuti anak sulungnya.
"Ma aku sudah lulus kuliah dan aku perlu magang bekerja"
Sandra terhenyak, ia baru menyadari jika Jeremy sudah lulus. selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan dan pekerjaannya sampai melupakan anak-anaknya.
"Oh sayang maafkan mama"
"Ma Jeremy tahu perusahaan mama di ambang kebangkrutan, tidak mungkin Jeremy magang di tempat itu"
__ADS_1
"Benar Jer nanti mama usahakan kau magang di perusahaan teman mama"
"Tidak perlu ma aku sudah dapat perusahaan yang menerima ku"
"Benarkah? perusahaan apa itu?"
"Otomotif ma"
"Baiklah kalau begitu, selamat sayang maaf mama tidak bisa berbuat banyak saat ini"
Jeremy mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Sementara Sandra duduk termenung di sofa sembari menangis.
***
"Untuk apa kau kesini?!" Josie tidak minat begitu tahu Bram mendatanginya di apartemennya.
"Bram apa kau masih bisa mengurusi cintamu setelah kau menghancurkan orang lain?!"
"Bagiku cinta dan pekerjaan berbeda Josie...ayolah aku ingin bicara"
"Aku tidak mau"
"Josie..."
"Pergilah Bram aku tidak ingin melihat mu!"
__ADS_1
"Kau yakin tidak ingin melihat ku lagi? baiklah jika itu mau mu Josie aku pun akan pergi dari mu tapi ingatlah aku selalu mencintai dan menerima mu jika kau akan kembali padaku dan mendukung ku"
"Pergi!"
Bram menarik tangan Josie dan merengkuhnya kedalam pelukannya.
"Aku akan pergi, kenapa kau galak sekali pada ku sayang?" Dalam hitungan detik Bram sudah menyambar bibir Josie.
Josie mencoba menghindar dan mendorong bahu Bram tapi percuma. Pintu apartemen menutup rapat karena Bram sengaja menyenggolnya dengan sebelah kakinya.
Josie dan Bram ambruk di sofa ruang tamu apartemen Josie.
"Aku akan pergi tapi aku ingin memberi mu hadiah yang tidak akan pernah kau lupakan sayang"
Bram ******* bibir Josie dengan ganas dan menindihnya.
Josie mencoba berontak dan menendang Bram dengan kaki panjangnya tapi seperti biasa Josie selalu kalah tenaga.
"Tenanglah Josie, aku yakin setelah ini kau hanya akan memikirkan diriku kemanapun kau pergi! cintaku pada mu harus berbalas Josie" Bram semakin meracau di atas tubuh Josie.
"Bram!...." Josie setengah berteriak dan mencakar lengan Bram yang mengungkung tubuhnya.
"Aku jauh lebih baik di bandingkan cinta pertama mu yaitu si penipu Alexi Androdelas itu!"
"Bram!..." Josie terisak tidak berdaya. Disatu sisi Alex adalah temannya tapi Josie juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia mencintai pria macam Bram.
__ADS_1
Josie memejamkan matanya, hatinya ikut hancur. Ia sudah resign dari perusahaan entah besok ia akan bekerja di mana lagi.
Semoga saja Bram tidak mencuranginya dengan memblokir seluruh aksesnya di perusahaan lain. Jika itu Bram lakukan maka habislah karier Josie.