
Sandra mendatangi biro hukum untuk mengurus beberapa surat perusahaan. Ia bertemu Yuda.
"Hai Sandra lama kita tidak berjumpa" sapa Yuda.
"Hai, aku kemari untuk mengurus beberapa surat perusahaan"
"Baiklah, aku akan membantumu. aku dengar perusahaan mu di ambil alih oleh teman suami mu?" Yuda tersenyum mengejek.
Sandra terdiam kesal, ia sedang tidak mau berdebat dengan siapapun.
"Baiklah kalau kau sibuk dan tidak bisa membantuku tidak masalah, aku akan pergi sekarang"
"Tunggu Sandra! baiklah aku minta maaf. ayo kita ke ruang kerja ku" kata Yuda mempersilahkan Sandra berjalan terlebih dahulu.
Sandra menceritakan kronologi perusahaannya bisa di ambil alih oleh Bram. Termasuk beberapa surat kuasa ilegal yang Bram pegang untuk menjebak Alex dan dirinya.
"Rumit juga ya, karena dendam masa lalu kau ikut menjadi korban" lagi-lagi Yuda memanasi hati Sandra.
"Alex juga tidak tahu kalau Bram adalah musuh dalam selimut"
"Hahaha! naif sekali kalau Sandra, apa kau tidak mengira jika siapa tahu di belakang mu Alex dan Bram bekerja sama untuk menjatuhkan mu? merebut harta mu?"
Yang di katakan Yuda bisa saja benar.
Tapi Alex sudah berubah, ia terlihat tulus padaku....
"Ayolah Sandra aku yakin saat ini kau sedang berpikir soal itu bukan? aku akan membantu mu merebut perusahaan mu tapi...."
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Kau harus berpisah dari Alex!"
degh!
Yuda adalah pengacara terbaik di negeri ini. reputasinya membela berbagai perusahaan yang sedang tertimpa kasus sudah terkenal seantero negeri. Besar harapan Sandra agar Yuda mau membantunya juga, tapi syarat yang ia ajukan sungguh tidak masuk akal bagi Sandra.
"Alex suami ku! kenapa aku harus berpisah darinya?!"
"Sandra coba kau pikirkan, Alex membuat mu menderita. sejak kau menikah dengannya guncangan demi guncangan kau alami dalam hidup mu. benar bukan?"
Yah semenjak aku bersama Alex memang banyak hal aku lalui tapi ....
"Dan sekarang perusahaan besar yang di tinggalkan mendiang suamimu malah di ambil orang lain juga karena Alex, itu adalah milik anak-akan mu nanti Sandra"
"Yuda entahlah aku tidak tahu..."
"Pikirkan sekali lagi ini demi kedua anak mu aku akan membantu mu tapi kau harus meninggalkan Alex!"
"Ada apa sayang kenapa kemari? aku kira kau sudah tidak Sudi bertemu dengan ku?" kata Bram begitu melihat Josie berada di hadapannya.
Siang itu Josie menemui Bram di perusahaan utama milik Bram.
"Aku terpaksa"
"Terpaksa? demi siapa sayang?" Bram menyeringai. Ia tahu Josie rela menurunkan harga dirinya demi membantu Alex dan Sandra.
"Oh aku tahu pasti kau kemari demi sahabat mu yang tersayang itu?" Bram tersenyum menapakkan kedua lesung pipinya.
"Duduklah Josie aku ingin memandang wajah mu dari dekat"
__ADS_1
Josie terlihat muak, ia tetap berdiri tidak mau duduk.
"Baiklah kalau begitu aku yang akan berdiri agar bisa memandang kecantikan mu"
Bram berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Josie. Ia bersandar di meja kerjanya sembari menarik tangan Josie Hingga berada di pelukannya.
"Lepaskan! aku bilang lepaskan aku Bram!"
"Tidak mau!"
Josie meronta dan mendorong dada Bram mundur.
"Aku kemari untuk meminta mu agar kau kembalikan perusahaan Alex!"
"Hanya perusahaan Alex? perusahaan Sandra tidak?" Bram tertawa.
Josie terlihat salah tingkah, Bram pasti menuduhnya masih menyukai Alex.
"Dengar sayang aku cemburu sekali mendengar kau membelanya"
"Bram jangan kekanakan seperti ini, aku tahu kau ingin membalas perbuatan Alex tapi bukan dengan cara seperti ini"
"Lalu menurut mu aku harus membalasnya dengan cara bagaimana?!" Bram mencengkeram dagu Josie hingga wajah Josie mendongak mengikuti tarikan tangan Bram.
"Kau tidak tahu apa-apa sayang! jadi sekarang pergilah!"
Bram menghempas cengkraman nya hingga Josie sedikit terhuyung. Bram berbalik dan membelakangi Josie.
Josie yang sadar diri bergegas pergi dari ruang kerja Bram.
__ADS_1
Hati Josie hancur, sudah sejahat ini tapi ia masih saja mencintai Bram. perasaannya pada Bram tidak berubah bahkan melebihi saat ia menyukai Alex dulu.