
Sandra terduduk lemas di lantai ruang kerjanya. wajahnya memucat dan gemetar. sekretarisnya mencoba menelpon Alex untuk segera datang melihat kondisi Sandra.
Tidak berapa lama Alex tiba di perusahaan milik Sandra.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex pada sekretaris Sandra.
"Saham perusahaan merosot tajam" kata sekretaris Sandra.
Alex terdiam, ia sudah tahu apa yang akan terjadi jika saham perusahaan merosot. Perusahaan terancam gulung tikar..
Alex berpikir sejenak sebelum menemui Sandra. Ia menelpon seseorang untuk mencari tahu apa penyebab kemerosotan saham perusahaan.
Pintu ruang kerja Sandra terbuka. Alex berjalan perlahan mendekati Sandra yang masih terduduk di lantai. ia berjongkok dan ikut duduk sembari memeluk Sandra.
Sandra menangis sejadinya di pelukan Alex.
"Apa yang harus aku lakukan Alex? karyawan akan di PHK dalam jumlah ribuan"
Alex mengusap rambut Sandra. Ia sedang memutar otak mencari solusi.
"Tenanglah sayang aku ada disini, semua akan baik-baik saja"
__ADS_1
Sandra memeluk Alex lebih erat, setidaknya ia merasa tenang karena Alex menemaninya.
"Baiklah sekarang kau harus bangkit Sandra. tenangkan dirimu lebih dulu, ayo kita pulang" Alex membantu Sandra berdiri. Ia meraih tas Sandra seraya menggenggam tangan istrinya keluar dari perusahaan.
Setibanya di rumah Alex mengantar Sandra ke kamar. Ia menggantikan baju kerja Sandra dengan piama.
"Berbaringlah, minum ini agar kau bisa beristirahat" Alex menyerahkan sebutir obat tidur dan segelas air putih.
"Lex aku takut kehilangan semua"
"Jika aku masih di sampingmu aku pastikan kau tidak akan kehilangan perusahaan"
"Alex melepas jasnya dan berbaring di samping Sandra.
Tidak berapa lama Sandra tertidur, Alex bergegas bangun dan mengenakan jasnya. Ia harus mencari solusi untuk masalah besar yang terjadi.
Aku harus bagaimana sekarang? kenapa saham perusahaan sebesar ini bisa jatuh?
Alex pergi ke perusahaannya mengadakan meeting besar. Ia berdiskusi dengan Bram dan Josie untuk menemukan jalan keluar.
"Jadi kau akan menyuntikkan dana ke perusahaan Sandra?! Josie meradang.
__ADS_1
"Apa kau gila?! Lex perusahaan yang di pimpin Sandra itu besar jika kita menyuntikan dana ke perusahaan yang nyaris bangkrut kita juga akan bangkrut Lex!" Josie semakin gusar.
"Josie tenanglah" Bram memegang bahu Josie. wanita itu seketika terdiam.
"Akan ku pikirkan lebih dulu Lex, jika perusahaan ku bisa membantu kalian aku akan melakukannya" kata Bram.
Josie memandang Bram dengan tatapan tidak percaya. ia kesal kenapa Bram sama cerobohnya dengan Alex.
"Kau tahu seperti apa kita bekerja keras membangun perusahaan ini hingga menjadi sebesar ini?! kau ingat Sandra sempat mendepak mu dari perusahaan dan aku menggantikan semua pekerjaan mu?!"
Josie berdiri dari duduknya dan memukuli bahu Alex agar pria itu waras kembali.
Bram bangkit dan meraih tangan Josie. Ia memandang Josie dan mengajaknya berjalan keluar ruang meeting.
"Josie jangan salahkan Alex, karena jika hal ini terjadi padamu aku juga akan seperti Alex membela dan melindungi wanita ku mati-matian"
"Aku benci padamu!" kata Josie ketus, Bram tersenyum melihat tingkah Josie.
"Sayang aku kembali ke perusahaan ku dulu" Bram mengecup rambut Josie dan berlalu.
Josie tidak habis pikir kenapa ia jatuh cinta pada pria ceroboh seperti Bram.
__ADS_1
Alex juga sama saja dia sudah di butakan cintanya pada Sandra.