
Alex membuka matanya dan melihat sekeliling. Ia ada di kamar Sandra, senyum simpul menghiasi bibirnya. Ia bergegas berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Sandra sudah berangkat ke kantor tanpa membangunkan Alex.
Alex mengenakan stelan bajunya yang masih tertinggal di rumah Sandra. Semua baju dan jas Alex masih tergantung rapi di lemari.
Kau bilang benci pada ku tapi kau merawat milikku dengan baik Sandra.
Alex meraih kemeja putih dan jas hitam ia merapikan rambutnya dan bergegas turun ke lantai utama.
Di rumah utama Alex berpapasan dengan Jeremy anak sulung Sandra. Keduanya saling berhadapan dan bertatap muka.
"Hai Jagoan" sapa Alex.
Jeremy terdiam dan berlalu pergi. ia tidak marah pada Alex dan tidak ikut campur urusan ibunya dengan Alex.
"Kau sudah dewasa jagoan" gumam Alex salut.
"Tuan sarapan sudah siap"
"Saya makan di luar saja" kata Alex ramah pada pelayan di rumah Sandra.
"Tapi nyonya Sandra yang membuatkannya"
Alex mengerutkan keningnya, Sandra membuatkan makan pagi untuknya.
Di meja makan sudah siap salad dengan telur dan potongan tomat segar. Ada juga spaghetti tanpa saus pedas. Alex tidak suka dengan saus dan mayonaise.
"Ini yang kau bilang benci pada ku Sandra?"
__ADS_1
akan ku beri pelajaran pada bibir mu yang pandai berbohong pada ku.
***
Josie meminta cuti dan tidak berangkat bekerja. Ia harus mengurus mobilnya.
"Apa masih belum beres?" Alex menyusul Josie ke bengkel. Selesai sarapan ia bergegas pergi dari rumah Sandra karena Josie menelponnya.
"Kemana saja kau?!" Josie memukul bahu Alex dengan geram.
"Aku ..dari rumah Sandra"
"Oh pantas saja aku mencari mu sedari kemarin, rupanya kau sedang bersenang-senang dengan istri tercinta mu yang kejam itu"
Alex hanya tertawa mendengar Josie ngedumel marah padanya.
Alex meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Josh aku harus pergi karena pekerjaan baru ku menunggu, kau tahu bukan aku sedang merintis perusahaan ku dari nol lagi"
"Iya aku tahu, pergi sana aku akan sendirian membereskan masalah ku!"
"Kau tidak sendiri, aku pergi dulu bye!" Alex mengacak gemas rambut Josie yang tergerai.
Tidak berapa lama Bram tiba dengan mobilnya.
"Sial jadi Alex tadi menelponnya?!"
"Alex meminta ku menemani mu disini, sebagai rasa bersalah pada mu baiklah akan ku temani kau seharian"
__ADS_1
"Tidak perlu! Pergilah"
"Kau sudah makan?" Josie terdiam ia memang belum makan sedari tadi. karena buru-buru pergi ke bengkel jadi ia tidak sempat sarapan. Sekarang perutnya keroncongan karena lapar.
"Ayolah di dekat sini ada restoran cepat saji kau mau makan disana?"
Josie berjalan menuju mobil Bram yang terparkir. masa bodoh gengsi dan harga diri, saat ini ia sedang kelaparan.
Bram memandangi Josie yang makan di meja sebelah. Josie tidak mau duduk satu meja dengan Bram.
"Hei Kemana perginya semua makanan itu? Kenapa tubuh mu ramping sekali jika napsu makan mu saja seperti itu?"
Josie tidak menjawab ocehan Bram di meja sebelah. ia membiarkan pria itu memandanginya.
Bram tersenyum dan mengulurkan kotak tissue pada Josie. ia tahu Josie makan seperti itu agar Bram Ilfiel dan berhenti memandanginya.
"Apa kau masih menyukai Alex?"
Josie menghentikan mengunyah makanannya.
"Jadi kau menyukai pria beristri?"
"Tutup mulut mu aku dan Alex hanya berteman"
"Tapi aku lihat ada yang berbeda dari tatapan mata mu padanya"
Josie memejamkan matanya menghela napas mencoba bersabar dengan pria di meja sebelahnya.
Dia bisa membaca perasaan terlarang ku pada Alex! Aku harus berhati-hati padanya.
__ADS_1