
Alex memberikan Sandra buket bunga tulip putih kesukaan Sandra.
"Kau cantik sekali sayang, terimakasih sudah mau menjadi istriku dan memaafkan segala kesalahan ku"
"Oh Alex...." Sandra berkaca-kaca memandang Alex.
"Apa kita kan selalu bersama?" tanya Sandra tiba-tiba.
"Tentu sayang ..aku akan selalu menjaga mu"
"Jangan tergoda wanita lain"
"Tidak akan"
"Bahkan jika wanita itu sangat cantik dan bodynya juga bagus?"
"Iya tentu aku akan menolak mereka jika mendekati ku"
"Termasuk Josie Michelle?"
"Termasuk Josie, kami hanya berteman jika kau keberatan aku akan menjauhinya sayang"
pelayan mengantarkan hidangan yang menggugah selera. kali ini tidak ada masakan gosong atau ke-asinan.
Selesai makan malam dari restoran keduanya langsung pulang dan beristirahat di kamar.
Alex membersihkan dirinya dan berganti pakaian begitu juga Sandra.
Sandra berbaring di atas tubuh Alex yang sedang memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Lima menit sayang, aku ada pekerjaan yang harus di bahas" kata Alex sembari mengusap lembut rambut Sandra.
Aroma parfum menguar saat Sandra menyibakkan rambutnya.
Alex tersenyum dan tidak tahan dengan godaan itu. ia meletakkan ponselnya di atas meja di samping tempat tidur.
"Kapan kau terlihat jelek?" tanya Alex. ia selalu mendapati istrinya dalam keadaan cantik, sexy dan wangi.
"Tadi sewaktu aku di dapur"
Alex tertawa mengingat wajah Sandra yang cemong dengan tepung dan entah apa lagi bahan masakan yang menempel di wajahnya tadi sore.
"Tapi bagi ku kau yang tercantik, meski seperti tadi sore cemong tapi kau tetap lebih cantik dari bidadari"
"Yang benar?" Sandra menarik hidung mancung Alex.
"Auhhh sakit sayang!"
"Akan ku balas ..!" bisik Alex di telinga Sandra.
Keduanya bercanda dan tertawa bersama di atas tempat tidur. Sandra sesekali bercerita soal pekerjaannya dan ia juga bertanya tentang bisnis baru Alex.
Waktu sudah larut Alex memandang wajah Sandra yang tertidur lelap di pelukannya. Ia mengusap perlahan wajah cantik itu.
Alex berhasil memperbaiki hubungannya dengan Sandra. Ia tidak akan mengkhianati Sandra. Wanita itu sungguh berarti baginya.
***
"Pergilah sebelum aku di Labrak oleh istrimu!" Josie terlihat cemas sekaligus kesal dengan keberadaan Bram di apartemennya.
__ADS_1
"Tadi kau cemburu padaku sekarang kau mengusir ku?"
"Cemburu? aku tidak cemburu pada mu Bram! aku hanya ...hanya..."
"Hanya mencintai ku?" goda Bram, ia gemas melihat Josie panik mencari alasan.
"Jangan percaya diri seperti itu Bram, nanti kau bisa malu karena tebakan mu salah besar"
"Baiklah Josie sayang mungkin sekarang kau belum mencintai ku dan masih ada Alex di dalam hati mu. tapi aku pastikan lain kali kau akan memilih ku di banding Alex"
Bram tersenyum memandang Josie dengan tatapan lembut.
"Pergilah aku mohon" kali ini Josie mengiba agar Bram lekas pergi dari apartemennya.
"Kenapa? kau terlihat panik. tenanglah aku sudah bukan suami orang" kata Bram.
"Oh melegakan sekali jadi kau bisa bermalam disini, makan disini dan kau bisa seenaknya mendatangi ku kapanpun di manapun begitu?!" Josie kesal bukan main.
"Baik sayang aku akan pergi tapi jika lama aku tidak muncul jangan merindukan ku"
"Tidak akan!"
Bram tersenyum dan mencubit pipi Josie. Ia bergegas pergi dari apartemen Josie.
Lusa Bram akan berlibur jauh, ia ingin menghilangkan segala kenangannya bersama Angelica.
Josie duduk di atas ranjangnya, membayangkan kebodohannya melabrak Bram dan Maura yang bahkan Maura ternyata adalah adik kandung Bram.
Sepertinya akhir-akhir ini aku jadi bodoh karena pria itu. aku kesal setengah mati padanya tapi aku juga tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Josie menarik selimutnya dan ia mulai berusaha memejamkan matanya. Josie tidak ingin terlambat di meeting besok.