Nyonya Kaya & Suami Brondong

Nyonya Kaya & Suami Brondong
Bab 68


__ADS_3

Jeremy berangkat ke kantor lebih pagi. Di lift ia bertemu atasan nya yaitu Jovina.


Jeremy menyunggingkan senyum manisnya menyapa Jovina yang acuh tak acuh padanya. Pagi itu Jeremy mengenakan kemeja lengan panjang berwarna navy di padu dengan dasi yang lagi-lagi adalah milik Alex.


Pagi itu Jeremy mengenakan sepatu kets putih dan tas ransel hitam. ia masih terlihat seperti mahasiswa dengan style nya.


Jovina memandang jengah pada pria muda itu. ia sendiri tampil terlihat dewasa dengaan rok span se lutut blazer dan rambut yang di gerai monoton.


Pagi itu Jovina sengaja merias wajahnya sedikit tebal dengan lipstik merah merona.


"Nona Jovina...sepertinya hari ini anda nampak berbeda" bisik Jeremy sebelum keluar dari lift.


Jovina melirik kearah Jeremy yang tersenyum melihatnya.


Dasar pria muda, kau tertarik dengan ku bukan? sayang sekali aku tidak suka dengan mu! batin Jovina percaya diri.


"Maksudku Anda terlihat menor sekali" kata Jeremy menahan tawanya sambil berlalu keluar dari lift begitu pintu lift terbuka.

__ADS_1


Jovina mengerutkan keningnya dan bergegas menuju toilet kantor untuk merapikan riasannya.


Jovina memandang dirinya di cermin dan hampir putus asa dengan dirinya yang tidak juga berhasil mendapat kenalan untuk pesta tahun baru nanti. mau tidak mau ia harus menyetujui perjodohan yang akan di lakukan oleh ibunya.


"Huft...!"


Meeting pagi di mulai semua petinggi perusahaan ada di ruangan meeting. Jovina presentasi dengan cemerlang dan memukau. Jeremy sebagai bawahannya tentu bangga.


Divisi marketing berhasil menaikan target penjualan produk utama perusahaan dan itu tidak lepas dari kerja keras Jovina dan anak buahnya.


Hari itu setelah pulang bekerja akan di adakan perayaan makan bersama dan minum-minum. Semua sudah memenuhi bar yang jadi langganan perusahaan.


Jovina mabuk karena ia sebenarnya tidak bisa minum. Jeremy memapah Jovina menuju mobilnya dan berniat mengantar Bosnya itu pulang.


"Nona dimana rumah mu?" tanya Jeremy sembari bersiap dengan kemudinya.


"Rumah? aku tidak mau pulang! aku tidak mau ada pesta perayaan tahun baru yang .....memuakkan! ibu akan menjodohkan ku aku tidak mau! ibu aku janji akan membawa pendampingku tapi jangan memilihkan aku pria botak gendut dan menyebalkan yang usianya kepala empat!" Jovina meracau tidak karuan.

__ADS_1


Jeremy tertawa mendengar ocehan Jovina di kursi belakang. Ia menjalankan mobilnya menuju apartemen Jovina yang ia tahu setelah mengirim pesan pada salah satu staf dan bertanya alamat Jovina.


"Aku tidak mau...di jodohkan!" Jovina kembali meracau.


"Memangnya kalau usiaku menjelang empat puluh kenapa? apa aku jelek?! hei kau sopir apa aku jelek?!" tanya Jovina pada Jeremy yang fokus menyetir sembari menahan tawa.


"Tidak nona anda cantik"


"Kau cerdas sopir, sayang sekali aku tidak mengenal mu jika aku mengenal mu aku akan menyewa mu sebagai pendamping ku! aku akan membayar mu dalam jumlah besar"


"Tentu saja nona" jawab Jeremy sembari tersenyum.


Setelah sadar Jovina telah tertidur di apartemennya . Kepalanya terasa pusing dan perutnya mual. ia mencoba mengingat bagaimana ia bisa tiba di kamarnya dengaan selamat.


Siapa yang mengantarku pulang?


Jovina belum ingat ia hanya samar-samar mengingat seorang sopir yang mengantarkannya pulang kemarin malam.

__ADS_1


Jovina bergegas ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Ia harus menghilangkan sisa mabuknya.


untung hari ini weekend aku bisa bersantai menikmati hari ku. persetan dengan pendamping yang akan di tanyakan di pesta tahun baru nanti!


__ADS_2