
Sandra meminta sopir untuk menjemputnya di jalan dekat rumah Alex. serta meminta supir pengganti untuk mengembalikan mobil Alex. Sandra menunggu sopir sembari bersembunyi karena Alex pasti mencarinya.
Air mata Sandra mengalir deras. Dalam hati ia mengutuk Alex dan ibunya.
Dasar pria tak tahu di untung. Kau pikir aku tergila-gila pada mu?! kita lihat saja aku akan membuat mu sangat menyesal. Kau tidak akan mendapatkan sepeserpun hartaku.
Supir pribadi Sandra tiba di lokasi, Sandra bergegas masuk kedalam mobil dan terdiam. Ia melanjutkan tangisnya. Sandra sakit hati dan dendam sekali di perlakukan demikian di rumah ibu Alex tadi.
Karena lelah menangis Sandra sampai tertidur di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.
"Nyonya ...nyonya ..maaf nyonya "
Sopir itu membangunkan Sandra yang tertidur di kursi belakang.
"Ada apa?" suara Sandra terdengar parau.
"Kita sudah sampai di rumah nyonya"
"Oh iya" Sandra bergegas masuk kedalam rumah. Ia melewati kedua anak nya yang sedang makan malam.
"Mama..." Anthony memanggil ibunya.
Sandra bergeming dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia ambruk di atas tempat tidur king size miliknya. Disana biasanya ada Alex yang selalu menjahilinya.
Air mata Sandra membanjiri wajahnya, merusak riasanya. Tapi siapa yang peduli toh ia sebentar lagi juga akan berpisah dari Alex.
"Lihat saja aku akan menyingkirkan mu selamanya" gumam Sandra.
Alex tiba di rumah Sandra, ia keluar dari dalam mobilnya.
"Apa nyonya sudah di dalam?" tanya nya pada sopir pribadi Sandra.
"Sudah tuan nyonya baru saja tiba"
Alex bergegas masuk kedalam rumah. Ia berpapasan dengaan Jeremy anak sulung Sandra.
Keduanya saling berpandangan, Jeremy mengedikkan bahunya. pertanda ia tidak ikut campur urusan rumah tangga ibunya.
Alex menepuk bahu Jeremy dan berlalu pergi . Ia berjalan cepat menuju kamar Sandra.
__ADS_1
"Sandra! ..."
Tidak ada jawaban, pintu kamar juga terkunci dari dalam.
"Sandra sayang! buka pintunya sayang. Aku mau bicara"
"Tidak ada yang perlu di bicarakan Lex! aku benci pada mu!!"
Bugh!...
Terdengar Sandra melempari pintu dengan barang-barang.
Alex terdiam dan tetap berdiri di depan pintu kamar. Ia menyadari kesalahannya yang tadi telah mengabaikan Sandra.
"Sayang aku minta maaf, bisakah kita bicara sebentar?"
"Pergi!" bentak Sandra sembari menangis.
"Kau pikir siapa kau dan keluargamu?! kenapa menginjak harga diri ku?! apa kau pikir aku tidak akan berharga tanpa mu Alex?"
"Sandra, maaf sayang"
Sandra membuka matanya dengan malas. Ia menangis semalaman sampai tertidur. Wajahnya sembab dan berantakan. Ia tidak bergairah dan lesu.
Setiap kali bertengkar dengan Alex ia merasa hancur, Sandra benar-benar jatuh cinta pada pria yang lebih muda darinya itu.
Sandra berjalan gontai menuju kamar mandi, ia berjinjit mengindari benda-benda yang berserakan di lantai kamarnya. Ia membanting setiap benda di ruangan itu bahkan ada yang sampai pecah.
Sandra mandi dan menenangkan diri di bawah guyuran air. Rasanya kewarasannya sedikit kembali setelah terkena guyuran air dingin. Ia memakai kimono mandinya dan keluar dari kamar mandi. Ia lupa berjingkat sehingga menginjak pecahan vas bunga yang ia banting semalam.
"Auchhhh!" pekik Sandra. Ia melihat telapak kakinya berdarah dan robek.
"Astaga kakiku"...
"Sandra?!" Suara Alex terdengar memanggil dari luar kamar. Pria itu belum juga pergi rupanya.
Sandra terduduk di lantai, kakinya berdarah cukup banyak karena ada pecahan vas yang menancap di telapak kakinya.
"Ya Tuhan..."
__ADS_1
"Sayang buka pintu! Sandra kau kenapa?!"
"Sandra memandang panik ke arah pintu. Jika ia minta tolong pada Alex ia gengsi.
"Jeremy...! panggilkan Jeremy aku tidak mau dengan mu!"
"Jeremy sudah berangkat ke kampus"
"Anthony!"
"Anthony sudah berangkat sekolah"
"Sial!" gumam Sandra sembari menahan sakit dan ngeri melihat benda tajam itu menancap di telapak kakinya.
Terdengar Alex mendobrak pintu kamar. Dan tidak berapa lama pintu terbuka.
Alex terpaku melihat Sandra terduduk di lantai dan kakinya berdarah.
"Sayang .." Alex segera mendekati Sandra.
"Pergi bodoh, aku tidak perlu bantuan mu!"
"Sudahlah Sandra nanti saja kau lanjutkan marah mu itu" Alex segera mengangkat tubuh Sandra dan membawanya ke lantai utama.
"Siapkan mobil!" perintah Alex pada sopir.
"Baik tuan"
"Kita ke rumah sakit cepat!"
"Baik tuan"
Alex mencabut benda yang menancap di kaki Sandra dengan hati-hati. Sandra menjerit sembari menggigit bahu Alex dengan kuat.
Alex memejamkan matanya menahan sakit akibat gigitan Sandra.
Setelah mengeluarkan pecahan vas itu dari kaki Sandra, Alex segera membalut lukanya dengan saputangan bersih dari sakunya.
Peluh mengalir di kening Sandra. Refleks Sandra merangkulkan kedua tangannya di bahu Alex sembari menahan sakit di kakinya.
__ADS_1