
Ini adalah wajah Alex yang sedang galoon alias galau...kira-kira semacam inilah dia ...hehe
Alex duduk di bar bersama Bram temannya. Ia meminta pekerjaan pada Bram.
"Jadi Sandra mengambil alih perusahaan mu?"
Alex terdiam tidak menjawab. Ia memang bersalah dalam hal ini.
"Kesalahan apa yang kau lakukan sampai istrimu marah besar Lex? Apa karena wanita lain?"
"Aku di jebak Bram"
"Wow siapa yang berani menjebak seorang Alex?"
"Yuda dan kedua wanita itu"
"Yuda? Siapa dia? Dua wanita siapa lagi Lex?"
"Yuda pria brengsek yang sepertinya tertarik dengan Sandra, dua wanita tentu saja Emely dan Maura"
Bram tertawa menepuk bahu Alex. Ia meneguk minuman di gelasnya.
"Sandra memang sudah cukup usia Lex tapi wajah nya sangat cantik dan body nya juga bisa dibilang lebih bagus dari wanita lajang kebanyakan. jadi ku ingatkan kau untuk berhati-hati"
Alex menoleh ke arah Bram dengaan pandangan ingin memukul mulut si Bram.
"Aku kemarin bertemu Josie, dia menanyakan kabar mu. Jika aku berhasil bertemu dengan mu Josie ingin aku mengabarinya"
Alex hanya terdiam. Ia bahkan melupakan Josie karena beberapa waktu ini ia merasa sibuk dengan Sandra.
"Bagaimana kau ingin aku mengabarinya?" tanya Bram lagi.
__ADS_1
"Tidak, jangan katakan apapun padanya"
"Kenapa Lex? sepertinya dia menyukai mu"
"Sudahlah satu wanita seperti Sandra sudah membuatku nyaris gila. jangan di tambah lagi dengan yang lain"
Satu wanita saja sudah membuatku jatuh miskin apa lagi dua atau lebih. aku bisa gila dan berantakan gara-gara wanita.
Sandra apa ini karma? tadinya aku ingin melukai mu dan sekarang aku sendiri yang melukai ku ....
"Oke Lex kau bisa memakai apartemen ku jika kau mau, tinggalah disana"
"Bernar kah?"
"Asistenku akan memberikan kunci apartemen pada mu"
Bram menepuk bahu Alex kembali mencoba memberi semangat pada kawannya itu. Ia lalu meninggalkan bar dan Alex yang minum seorang diri di dalam sana.
***
"Pak Yuda bisakan anda pergi dari rumah saya? saya hanya ingin sendiri"
Wajah Yuda berubah menjadi kecut karena di usir oleh Sandra. tidak ada pilihan akhirnya ia pergi meninggalkan rumah Sandra.
"Ma..." Jeremy mendekati ibunya. Keduanya duduk di ruang tengah.
"Jeremy kau sudah pulang?"
"Aku sudah pulang sejak tadi ma, mama akhir-akhir ini sibuk jadi tidak memperhatikan ku dan Anthony"
"Maafkan mama sayang, mama sedang pusing"
"Apa karena Alex?"
__ADS_1
Sandra terdiam, sekali lagi wajah Alex berkelebat di pikirannya. Sandra memang benci pada Alex tapi tak bisa di pungkiri sedetik pun wajah Alex tidak pergi meninggalkan hatinya.
"Aku tahu Alex bersalah pada mama tapi sebaiknya mama juga jangan dekat-dekat dengan bekas pengacara ku itu. Aku rasa dia tidak jauh lebih baik dari Alex"
Sandra terkesiap mendengar perkataan Jeremy barusan. Apa itu berarti Jeremy membela Alex?
"Kau membelanya Jer?"
"Tidak ma, aku juga tidak menyukai Alex tapi ia pernah berjasa dalam hidup Jeremy yaitu bersusah payah membebaskan Jeremy dari tahanan. aku rasa lebih baik mama berpikir kembali jika bisa berdamai dengannya mama lakukan saja tapi jika tidak bisa mama jangan dekat-dekat dengan Yuda itu!"
Sandra terdiam mendengarkan pendapat Jeremy.
Alex...apa kau di luar sana sudah makan? apa kau punya tempat tinggal?
Sandra malah tidak tenang memikirkan nasib Alex sekarang.
"Nyonya ada tamu" seorang pelayan menghampiri Sandra.
"Siapa? Alex ?"
"Bukan tuan Alex tapi seorang wanita cantik nyonya"
"Wanita cantik?" Sandra berjalan menuju ruang utama. Disana duduk Josie yang terlihat menunggu Sandra.
"Selamat malam Nyonya Sandra" sapa Josie. Sandra tak bergeming ia tahu jika wanita di hadapannya adalah Josie. wanita yang pernah hampir membuat Alex benar -benar jatuh hati.
"Saya Josie Michel salah satu direktur di perusahaan Group A"
"Perusahaan itu dulu milik suami anda Alexi Androdelas dan sekarang menjadi milik anda karena di kuasai oleh CB Group"
"Lalu...?" kata Sandra ketus.
"Aku menyukai suami anda Alex" pengakuan Josie ini bak petir menyambar telinga Sandra.
__ADS_1
"Tapi anda tenang saja karena Alex tidak menyukai ku apa lagi wanita lain di luar sana. Ia hanya mencintai anda. Dan aku kecewa setelah melihat perilaku anda padanya. saya harap anda bisa berpikir jernih nyonya atau kalau tidak aku akan beennar-benar merebutnya dari mu"
Josie meraih tasnya dan bergegas pergi dari rumah Sandra. Meninggalkan Sandra yang masih berdiri mematung karena perkataan Josie tadi.