
Sementara itu ditaman belakang . . .
“Jadi bagaimana? Apa kita menjodohkan saja cucu-cucu kita yang keras kepala itu?”
“Tapi . . . apa betul kalau Bima baik-baik saja? Soalnya ini mengenai calon cicitku, yang juga berarti calon penerus perusahaanku selanjutnya setelah Livia.”
“Tidak usah khawatir. Bima sangat sehat sebagai laki-laki. Aku sudah pernah bertanya tentang laporan kesehatannya. Dan semuanya aman.”
“Kamu yakin, Galih? Maafkan aku jika sedikit kasar. Aku tidak mungkin menikahkan Livia dengan laki-laki yang, emm . . . maaf tidak punya bibit untuk masa depan. Apalagi rumor yang beredar begitu kuat, bukan?”
“Aku tahu kekhawatiranmu. Aku juga merasakannya. Kita sebagai orang tua pengganti untuk cucu-cucu kita, tentu saja takarannya tidak akan bisa sama jika dibandingkan dengan orang tua kandung mereka. Tapi aku yakin, tujuan kita sama, yaitu ingin cucu-cucu kita hidup dengan berkecukupan dan bahagia.”
“Dan aku bisa pastikan padamu, War. Kalau Bima itu laki-laki yang sehat. Aku tidak akan berbohong padamu dan menjebak Livia.” Tambah kakek Galih.
“Baiklah. Tapi bagaimana caranya? Livi tidak akan bisa dengan mudah mau menuruti keinginan kita. Sudah berapa banyak laki-laki yang dia tolak, bahkan dia menolaknya sebelum melihat wajah mereka.”
“Kita harus bermain intrik kalau begitu.”
“Caranya?” kakek Anwar merasa bingung.
Kakek Galih membisikkan sesuatu ke telinga kakek Anwar. Senyuman merekah diwajah kakek Anwar karena merasa rencana kakek Galih sangat sempurna. Rencana klasik, namun persentase keberhasilannya berpeluang besar.
__ADS_1
Hari-hari berikutnya, Livia menjalani hari-harinya seperti biasa. Dia akan sibuk dengan beberapa rapat, lalu temu janji dengan klien diluar kantor, terkadang dia juga harus belajar langsung dari pamannya apabila mendapatkan kendala dalam usahanya memajukan perusahaan.
“Paman rasa, sudah waktunya kamu untuk memegang kendali perusahaan ini, Livi.” Ucap pamannya siang itu. Saat keponakannya singgah dan duduk diruang kerja direktur utama.
“Tapi ada syarat yang diberikan oleh kakek, Paman. Livi kesulitan mewujudkannya.”
“Paman tahu jika syarat dari kakekmu itu semuanya adalah demi kebaikanmu. Beliau hanya ingin ada pendukung utama yang selalu ada untukmu.”
“Tapi Paman pasti tahu kenapa Livi tidak bisa mewujudkannya.”
“Kamu harus bangkit dari keterpurukan, Livi. Ini sudah sangat lama sekali kamu terkurung dalam ketakutanmu itu.”
“Saran dari Paman, bagaimana jika kamu mencoba untuk menikah? Paman yakin, jika kamu mengenal seseorang yang tepat, maka lukamu akan perlahan sembuh, Sayang.”
“Namun bagaimana jika orang itu ternyata tidak tepat?” Livia memandang pamannya dengan putus asa dan penuh keraguan.
Paman Samuel tak bisa menjawab pertanyaan Livia, karena dalam hidup memang penuh ketidakpastian. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan keinginan besar kakekmu?”
“Livi akan mencoba menundanya selama mungkin, Paman.”
Paman Samuel hanya bisa bersedih melihat keponakannya yang masih terluka oleh masa lalunya. Masa lalu yang menoreh luka dalam akibat ulah ayah kandungnya sendiri, yang memilih keluarga barunya dan membuangnya tanpa perasaan menyesal.
__ADS_1
Handphone paman Samuel tiba-tiba berdering, wajah Paman Samuel tiba-tiba menegang setelah menerima panggilan tersebut dan suaranya menunjukkan rasa khawatir.
“Bagaimana kondisinya? Dan ada dimana sekarang? . . . Ok, saya akan sampaikan pada Livia.”
“Ada apa, Paman? Telepon dari siapa?”
“Barusan Pak Hermawan menghubungi.”
“Asisten pribadi kakek?”
“Betul. Pak Hermawan mengabari jika kakekmu siang ini dilarikan kerumah sakit.”
“Apa!” Livia langsung berdiri dari duduknya.
“Ayo sekarang ikut Paman kerumah sakit.”
Livia masih mematung ditempatnya, dengan wajah yang penuh ketakutan. Beberapa tahun yang lalu kakeknya juga pernah mengalami hal seperti ini saat mendapat serangan jantung. Maka dari itu, kakek Anwar mundur dari jabatannya sebagai direktur utama.
“Livia! Sadar! Kita harus kerumah sakit sekarang.” Paman Samuel menyadarkan keponakannya yang mematung ketakutan.
Tanpa mengatakan apa-apa, Livia setengah berlari mengikuti pamannya dari belakang. Sekretaris paman Samuel dan Andra menyusul setelahnya setelah mendapat pemberitahuan dari paman Samuel.
__ADS_1