
Livia terkejut dengan jawaban yang Bima katakan. Serasa tak percaya karena mereka hanya bertemu beberapa kali saja. Namun tatapan mata laki-laki tampan itu begitu meyakinkan dan Livia tak bisa menemukan kebohongan dikedua bola mata hitam itu.
“Aku rasa kita harus menyudahi pernikahan ini.” Livia sontak turun dari tempat tidurnya dan ingin menjauh dari Bima. Namun belum sempat dia melangkahkan kaki, tubuhnya oleng karena tangannya ditarik dari belakang. Kini Livia terkungkung oleh pelukan Bima.
“Kenapa kamu ingin menyudahi pernikahan ini?” tanya Bima tegas.
“Kamu pasti sudah tahu jika sebenarnya aku tidak ingin menikah apalagi memiliki anak.”
“Karena itu kamu mau menikah denganku? Karena aku impoten?”
Livia mengangguk pelan dengan segudang kekhawatiran di kepalanya. Dia terkejut karena tiba-tiba Bima menyandarkan kepalanya dibahu Livia.
“Aku tidak tahu apa alasanmu tidak ingin menikah dan tidak ingin memiliki anak. Aku juga percaya jika kamu nanti akan mengatakannya sendiri padaku. Namun satu yang pasti, Livi. Aku akan setia padamu. Ketidak tertarikanku kepada perempuan selama 29 tahun membuktikan jika aku tidak pernah bermain-main dengan perempuan sembarangan manapun, Livi. Jadi . . .” Bima membalik tubuh istrinya agar berhadapan dengannya, “Jadi, apa lagi yang kamu takutkan?”
Pikiran Livia berkecamuk dengan segala kenyataan yang baru saja di ungkapkan oleh suaminya, yang dengan sangat meyakinkan jika perkataannya memang benar adanya. “Tapi aku tidak mencintaimu, Bim. Bagaimana bisa kamu bisa bertahan dengan seseorang yang tidak mencintaimu.”
Dengan tatapan mata lurus memandang kearah kedua mata istrinya, Bima berkata, “Maka aku akan membuatmu mencintaiku.” Belum selesai Livia terkejut untuk yang kesekian kali, Bima meraih dagu Livia dan mulai mencium kembali bibir ranum itu. Kali ini Bima tidak akan membiarkan gadis berparas cantik itu dapat melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Dengan lembut Bima menyapukan sentuhannya kepada kulit putih Livia. Tubuhnya memanas, begitu pula dengan gadis yang saat ini sedang dirayunya. Livia dapat merasakan jika tangan suaminya sedikit bergetar setiap menyentuh kulitnya, dan jantung Bima yang berdegup kencang bisa dia rasakan saat tubuh mereka menyatu. Kali ini Livia yakin, jika dia memang yang pertama bagi suaminya.
Livia memilih untuk percaya kepada ucapan Bima kali ini, dia lebih merilekskan tubuhnya dan menerima segenap perasaan yang tercurah dari suaminya. Malam itu keduanya menyatu menjadi satu menuju kenikmatan dunia yang tiada tara.
Keesokan harinya, Bima bangun lebih awal walaupun mereka berdua hanya tertidur selama satu jam.
“Kamu menyebut dirimu bukan binatang?” Livia marah melihat suaminya yang sudah segar setelah mandi.
Bima terkekeh kecil mendengar istrinya saat ini sedang marah. Livia sengaja membalut tubuhnya dengan selimut tebal agar tidak diserang lagi oleh Bima.
“Maafkan aku. Tolong maklumi saja, selama ini aku belum pernah melepaskan nafsuku sekalipun.”
“Maafkan aku, Sayang.” Bima mendekati istrinya yang masih terbaring diranjang.
“Terimakasih karena sudah mau menuruti keinginanku semalam penuh.” Bima mengecup hangat kening istrinya.
“Aku tidak bisa menolaknya karena kamu menerkamnu dengan cepat.”
__ADS_1
“Apa aku laki-laki yang begitu hot?” goda Bima.
Kedua pipi Livia memerah, karena kulitnya yang putih, tak sulit untuk menunjukkan dia saat ini sedang malu. “Manisnya istriku sedang malu-malu. Bagaimana kalau satu ronde lagi?”
“Tidak, tidak, tidak. Aku menolak.” Jawab Livia sembari menjauhkan tubuhnya dari Bima. Bima tertawa melihat tingkah laku Livia.
“Kalau begitu, mandilah. Ayo kita kerumahku dulu. Tadi kakek mengabari jika semuanya menunggu kita untuk makan siang.”
“Makan siang?”
“Iya, ini sudah jam 10 lewat, Livi.” Gemas Bima pada Livia.
“Lelah sekali rasanya.” Susah payah Livia bangun dari tidurnya dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya. Pelan-pelan Livia berjalan kearah kamar mandi karena dia kesulitan untuk berjalan.
“Baiklah Nyonya Bima, suamimu ini akan membantumu untuk menuju kekamar mandi.” Bima mengangkat tubuh Livia dengan mudah.
“Jangan, jangan, jangan! Turunkan aku, Bim!” Livia tidak bisa menolak tubuh Bima karena kedua tangannya ada berada didalam selimut.
__ADS_1
Livia ngeri melihat kedua mata Bima yang memandangnya, mengisyaratkan begitu liciknya dia, “Anda tidak akan menyesal, Nyonya Bima. Saya akan membantu membersihkan tubuh Anda setiap incinya. Hahahahaha.” Tawa Bima meledak sembari membopong tubuh Livia masuk kedalam kamar mandi.
“Tidaaaaakkkk! Seseorang tolong akuuu!” teriak Livia, yang tentu saja tidak didengar oleh siapapun. Bagaimanapun juga hotel bintang 5 yang sangat terkenal di Jakarta itu memiliki ruangan kedap suara yang sangat bagus.