
Sesampainya disana, tak lupa ia mengirimi pesan untuk istrinya, Bima mengabarkan jika dia telah sampai dengan selamat. Livia juga sempat melakukan panggilan video dengan suaminya itu.
“Apa yang kamu lakukan hari ini?”
“Yah, seperti biasa. Aku kekantor dan berkutat dengan pekerjaanku.”
“Jangan lupa makan. Jangan sampai kamu sakit. Tunggu aku.”
“Tentu. Kamu juga jangan sampai kelelahan dalam bekerja. Kalau begitu, aku tutup panggilannya.”
“Livia!”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.” Ucap Bima dengan senyumnya. Membuat Livia merona.
“Aku juga mencintaimu, Bima.”
Bima mengakhiri panggilan videonya dengan penuh semangat, maka dari itu ia memilih langsung untuk bekerja, dia meminta Tari memadatkan jadwalnya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, jadi dia bisa pulang sebelum waktu yang dijadwalkan.
__ADS_1
“Silahkan minumnya, Pak.” Tari memberikan satu gelas minuman dingin kepada Bima yang sekarang sibuk melihat beberapa berkas diruang kamarnya. Bima menyewa satu kamar hotel dengan dua ruang tidur yang terpisah. Dia melakukannya untuk mempermudah pekerjaannya.
“Pak Bima tidak ingin makan malam dulu, Pak? Sejak pagi Bapak belum makan makanan berat.”
“Aku tidak apa-apa, kamu pergilah makan dulu. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku.”
“Tidak, Pak. Saya akan menunggu disini.”
“Sudah malam, aku tak memerlukan data darimu lagi. Makanlah lalu istirahatlah.”
Tari melihat Bima yang terfokus pada pekerjaanya. Jadi dia memilih memesan makanan melalui telepon hotel. Tari memesan beberapa makanan berat. Beberapa menit kemudian, ada yang menekan bel kamarnya, Tari membukakan pintu dan pelayan masuk mengantarkan makanan.
“Silahkan makan dulu, Pak. Jangan sampai Bapak sakit. Bukankah Bapak bekerja keras seperti ini karena ingin segera bertemu dengan Bu Livia? Jadi silahkan jaga kesehatan Anda, Pak.” Tegas Tari.
“Apa cukup makanannya, Pak? Mau saya pesankan lagi?”
“Tidak. ini sudah cukup. Makanlah.” Bima makan dengan lahap dan cepat. Dia ingin kembali bekerja.
Tari makan dengan sembrono, dengan sengaja dia meneteskan saus makanan keatas kemeja putihnya yang kancingnya terbuka cukup lebar. Bima tak sengaja melihatnya, namun Bima tak mempermasalahkannya. Namun kali ini saus merah itu kembali menetes ke baju Tari.
__ADS_1
“Tari.”
“Ya, Pak?”
“Bersihkan dulu saus yang jatuh kebajumu.”
“Oh!” Tari pura-pura terkejut. Dalam hatinya dia senang karena ternyata Bima memperhatikannya. Tari membuka kemeja putihnya dengan tenang.
“Apa yang kamu lakukan!” Bima terkejut karena Tari membuka baju tepat didepan matanya.
“Baju saya kotor, Pak. Tenang, Pak. Saya masih memakai pakaian dua rangkap.” Tari sengaja tersenyum dengan genit. Saat Tari membuka kemejanya dan menyisakan kemban berwarna putih. Terlihat jelas dada yang menyembul ingin keluar dari kemban itu.
Tari dengan sengaja mencondongkan tubuhnya dan beralasan agar saus tidak menetes lagi keatas bajunya, tentu saja itu membuat Bima dapat melihat jelas lekukan buah dada yang padat.
Bima berkelakuan aneh seketika, Tari diam-diam tersenyum puas karena merasa dapat memprovokasi pimpinannya.
“Saya sudah selesai.” Bima menyelesaikan makanannya dan masuk kedalam kamar. Sayup-sayup terdengar suara pancuran air yang mengalir, menandakan jika penghuni kamar itu sedang mandi.
“Apa dia merasa panas? Apa aku telah membangunkan sesuatu miliknya?” gumam Tari dengan senyum liciknya.
__ADS_1
“Brengsek!” teriak Bima didalam kamar mandi, “Gara-gara Tari, kerinduanku pada Livia langsung memuncak.” Bima mengacak kasar rambutnya.
Sebenarnya yang terjadi adalah Bima semakin merindukan istrinya setelah melihat tubuh terbuka Tari. Namun nampaknya Tari salah paham dan merasa jika kelakuan aneh Bima karena perbuatannya.