OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 30


__ADS_3

Bima tak senang melihat Livia memberikan perhatian pada kakaknya. Karena sebenarnya Livia belum tahu jika Rendra memiliki rencana busuk untuk merebut Livia dari tangannya.


“Untukku, Sayang?” Bima menyodorkan gelas kosongnya. Livia mengisi gelas itu dengan air putih. “Terima kasih.” Ucap Bima sambil mengecup pipi Livia. Livia malu karena kedua kakeknya mentertawakan sikap Bima yang seperti anak kecil.


“Arrrgghh!” Bima menjerit karena Livia mencubit pahanya dengan keras. Livia tanpa berekspresi dan meneruskan makannya.


Kedua kakek itu yang menyaksikan interaksi kedua cucu mereka kembali tertawa bahagia. Tidak pernah mereka kira jika kedua cucu yang tadinya menolak pernikahan akan terlihat sangat serasi didepan mata mereka.


“Tidak mau menginap saja, Kek?” tanya Livia pada kedua kakeknya saat mereka akan berpamitan pulang.


“Bagaimana bisa kita mengganggu pengantin baru. Betul kan, War.”


“Betul, Galih. Lebih baik kita pulang saja.”


“Bagaimana jika aku saja yang menginap, Kek.” Tawar Rendra.


“Jangan aneh-aneh. Ayok cepat pulang.” Kakek Galih menarik tangan Rendra.


“Akhirnya mereka semua pulang. Tinggal kita berdua.”


“Aku mau membereskan meja makan dulu.”


“Biar aku bantu.” Bima membantu mencuci piring setelah di ajarkan sebentar oleh Livia. Seumur hidup baru kali ini Bima menyentuh sabun cuci piring.


“Pekerjaan ini sangat berat. Bagaimana jika kita mengambil asisten rumah tangga yang datang pergi?”


“Untuk apa? Aku bisa melakukannya.”


“Tapi nanti kamu pasti akan sibuk. Kata Erika, ada yayasan yang khusus menawarkan asisten rumah tangga yang datang saat ada pekerjaan. Jadi lebih aman jika sudah tersertifikasi.”


“Ok. Tapi nanti saja saat aku sudah masuk kantor.”


“Lalu, bagaimana bisa kamu canggung dengan Kak Rendra?” tanya Bima saat dia selesai membantu Livia.


Livia duduk dimeja makan sambil meminum satu gelas orange jus, “Kamu ingat ceritaku kemarin? Saat aku bertemu dengan Kak Rendra didepan kamarmu."

__ADS_1


"Aku ingat."


"Saat aku keluar dari kamar, aku melihat Kak Rendra berdiri tak jauh dari kamarmu. Wajahnya begitu terkejut saat melihatku. Dia bertanya apakah aku mengingatnya?”


“Lalu?”


“Tentu saja aku tidak mengingatnya. Dan, yah . . . dia memaksakan ingatanku untuk mengingatnya.”


“Apa yang dia lakukan padamu?”


“Dia hanya memaksa menggenggam tanganku. Tapi aku bisa menepisnya. Makanya tadi kak Rendra juga minta maaf padaku.”


“Jangan terlalu dekat dengannya.”


“Kenapa?”


“Aku tidak suka. Perhatikan aku saja, jangan laki-laki lain.”


“Kamu cemburu?”


“Ya. Aku cemburu.” Bima mendekati Livia dan mengangkat tubuhnya.


“Kamu harus tahu jika aku pria pencemburu. Dan saat aku merasa cemburu, aku akan menghukummu.”


“Apa? Kamu akan menghukumku?”


“Tapi tidak hari ini. Hari ini aku akan memberikanmu hadiah.” Ucapan Bima membuat Livia tiba-tiba merinding.


“Bagaimana jika kita mulai masuk kedalam kamar? Kita bisa istirahat.”


“Benar-benar istirahat?” tanya Livia dengan panik. Karena selama seminggu penuh ini juga, Livia tidak pernah lelap dalam tidur. Karena Bima selalu merayunya dan membuatnya merasakan kenikmatan dunia.


“Benar. Hari ini kamu sudah bekerja keras dengan memasak untuk kami. Ini hadiah dariku.” Bima meletakkan tubuh istrinya dengan pelan.


“Ada yang ingin kutanyakan padamu?”

__ADS_1


“Apa itu?” Bima berbaring disebelah Livia dan menarik istrinya untuk masuk kedalam pelukannya.


“Bagaimana bisa kamu menahan hasratmu selama ini? Bukannya banyak perempuan cantik dan seksi yang selalu mengelilingimu.”


“Entahlah. Aku hanya tidak tertarik saja pada wanita lain selain dirimu.”


“Kenapa? Kenapa kamu bisa tertarik denganku?”


“Kamu ingat jika kita pernah bertemu disuatu pesta?”


Livia mengangguk, “Pesta Intan.”


“Saat itu temanmu sedang melecehkanku.”


“Dia hanya ingin membuktikan.”


“Tapi dia dengan sengaja memegangnya, itu sebuah pelecehan.”


“Maafkan saja, Intan. Dia memang seperti itu. Lalu?”


“Saat itu kamu marah padaku. Dan terlihat tidak ada ketertarikan dimatamu.”


“Hanya karena itu?”


“Entahlah. Aku juga bingung dengan diriku. Dengan perempuan lain milikku ini sama sekali tidak tergerak, tapi entah hanya denganmu saja, aku begitu berhasrat.” Tangannya mulai bergrilya dipaha Livia.


“Lalu apa tanggapan Intan saat dia tahu kamu menikah denganku?” tanya Bima yang sudah mulai menyusup diantara leher Livia.


“Tentu saja dia syok hebat.” Jawab Livia dengan susah payah. “Bim, malam ini bisa kita tidur saja?”


“Aku tidak janji bisa melakukan itu.” Kini tangan Bima sudah menyusup dibalik rok Livia.


“Ahhh! Bima! Aku tidak bisa bertahan jika kamu menyentuhnya.” Tubuh Livia sudah merespon dengan panas.


“Jangan ditahan, Sayang. Lepaskan saja.” Tangan Bima bermain dibagian bawah milik Livia. Jemarinya menari-nari menggelitik bagian tersensitif Livia. Bibirnya masih sibuk mengecup lekuk leher istrinya. Sedangkan tangan satunya sedang sibuk meremas sesuatu.

__ADS_1


“Bima, aku . . . ahhhhh!” Livia merasakan pelepasan akibat permainan tangan Bima.


Livia bangkit dari tidurnya dan menindih tubuh Bima. Laki-laki tampan itu kebingungan. “Kalau begitu, sekarang aku yang akan bermain.” Tatap mata licik Livia.


__ADS_2