
“Kamu tidak ingin pergi dengan baik-baik?” Bima mulai mengintimidasi.
“Jika Bapak membuang saya, saya tidak akan tinggal diam. Saya akan membeberkan perbuatan Bapak kepada semua orang! Terutama istri tercinta Pak Bima.” Tari menguatkan tekadnya.
“Jangan berani-berani kamu mendekatinya!”
“Kenapa, Pak? Bukannya istri Anda juga melakukannya?”
“Apa maksudmu?”
“Istri Bapak juga sudah berselingkuh dibelakang Pak Bima. Dia melakukannya dengan kakak kandung Bapak, bukan?”
“Bagaimana bisa kamu . . .” mata Bima bergetar tak percaya.
__ADS_1
“Saya juga mendapatkan informasi yang sama dengan yang Bapak terima. Bagaimana bisa, disaat Anda pergi, istri bapak itu berselingkuh dengan kakak kandung Anda?” Tari sengaja membakar emosi Bima, “Bukankah dia lebih mirip dengan seorang pelacur?”
“Tutup mulutmu!” Bima mencengkram kerah baju Tari dengan amarah. “Jangan pernah menjelek-jelekkan istriku.”
“Memang apalagi yang dilakukan laki-laki dan perempuan didalam kamar hotel, Pak? Semua orang akan tahu apa yang akan mereka lakukan. Masuk malam dan pulang pagi. Apa mereka berdua hanya menumpang tidur?”
Bima sudah tidak bisa membendung emosinya, namun dia juga tidak bisa memukul seorang perempuan, “Pergilah!” Bima menyentakkan tubuh Tari.
“Biarkan saya tetap berada disisi Pak Bima, maka saya tidak akan memberitahukannya kesiapa-siapa jika Pak Bima telah menyentuh saya.” Setelah mengatakan hal yang berisi ancaman itu, Tari memasuki kamarnya dengan tersenyum puas. Dapat dia dengar dari dalam kamar jika Bima mengamuk diruang tengah dan membuang barang-barang yang ada diruangan itu. Bima melirik androidnya yang bergetar diatas meja kerjanya, dan ada nama Livia diatas layarnya. Ada perasaan rindu, namun amarahnya lebih menguasai hatinya.
Hari-hari berikutnya, Bima membiarkan Tari tetap menjadi sekretarisnya dan bekerja disisinya, namun karena perasaannya sedang kacau, membuat pekerjaannya terhambat. Dia harus membatalkan beberapa kali jadwal pertemuannya, bahkan harus menjadwalkan ulang karena sama sekali tidak bisa fokus ditengah rapat. Tentu saja Tari merasa senang saat melihat laki-laki yang sedang di incarnya itu menjadi kesulitan dalam bekerja. Dengan begitu, dia memiliki waktu lebih untuk terus menghasut Bima dan membuat laki-laki itu memilihnya.
Bima sudah membeli android baru, namun tidak pernah sekalipun dia mencoba menghubungi ataupun mengangkat panggilan dari istrinya, ia takut jika mendengar suara Livia, ia akan luluh dan memaafkannya begitu saja.
__ADS_1
Sudah lebih dari dua minggu dari waktu kerja yang dijadwalkan, namun Bima masih belum kembali ke Indonesia. Amarahnya masih memuncak dan bertambah besar saat mendapatkan laporan jika kakaknya masih sering menemui Livia.
Rendra mengirim seseorang untuk mencari tahu apa yang terjadi karena Livia sangat menyedihkan. Saat dia menemui gadis pujaannya itu, pandangan Livia sering kosong. Livia memilih untuk tidak mencari tahu karena dia ingin menjaga kepercayaannya kepada suaminya. Dia takut akan rasa kecewa, ingatan masa lalunya begitu menyakitkan, Livia tak yakin bisa menanggungnya jika kemungkinan terburuk yang terjadi, jadi Livia memilih untuk menunggu. Dia cukup bersyukur jika pesan singkatnya dan panggilannya terhubung walaupun tidak ada jawaban dari Bima. Paling tidak gadis cantik itu tahu, jika suaminya masih hidup.
Kakek Galih pernah menghubungi cucu keduanya itu dan memarahinya karena tak memberikan kabar kepada cucu menantunya, namun Bima kembali tidak memberikan respon dan hanya beralasan jika sedang ada masalah dalam pekerjaannya. Beberapa kali kakek Galih dan kakek Anwar mencoba menghibur Livia karena merasa khawatir, tapi Livia selalu meyakinkan kepada kedua kakeknya jika ia baik-baik saja.
“Livi, Livia?” panggil Rendra ditengah-tengah pertemuan mereka. Rendra menemui Livia diruangannya.
“Ya, Kak.” Livia akhirnya terfokus dengan kakak iparnya itu. “Maafkan aku.”
“Tak apa. Bagaimana kabarmu hari ini?” Rendra begitu khawatir karena wajah Livia terlihat sangat pucat.
“Aku baik-baik saja, Kak.”
__ADS_1
“Kamu yakin?” pertanyaan Rendra dibalas anggukan dari Livia. “Aku sudah dapat kabar tentang Bima.”