OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 28


__ADS_3

“Masa lalu, adalah milik orang lain. Yang terpenting adalah masa depanmu. Tidak akan kubiarkan Livia menjadi milik orang lain. Dia milikku.” gumam Bima.


Livia mengedarkan pandangannya kebeberapa penjuru untuk melihat kira-kira apalagi yang dia temukan, saat kedua matanya menemukan sosok yang tak asing untukknya, dia melambaikan tangan dan menyuruh sosok itu untuk datang kepadanya. Dengan langkah ringan Bima melangkah dan mendekati Livia. Laki-laki tampan itu langsung memeluk tubuh Livia dengan erat.


“Bim? Ada apa? Apa ada sesuatu yang buruk?” tanya Livia karena dia bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba.


“Tidak. Aku hanya merindukanmu saja.”


“Gombal banget sih. Susah benar dipercaya jika kamu selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.” Livia memukul dada Bima dengan pelan.


“Bagaimana kamu bisa berfikir begitu?”


Livia menjinjitkan kakinya dan mendekatkan wajahnya ditelinga Bima, “Kamu tidak terlihat amatir saat malam pertama kita.” Bisik Livia.


“Karena aku menunggumu selama ini. Jadi aku mempelajarinya untuk memberikan yang terbaik untukmu, Sayang. Apa kamu ingin cara yang lainnya?” bisik Bima.


“Tak perlu bicara yang aneh-aneh. Kira-kira apalagi yang kurang?” Livia mengalihkan pembicaraan yang mulai terasa panas.


“Aku serahkan semua padamu. Karena kamu adalah ratuku.” Bisik Bima tepat didepan telinga istrinya.


Livia menghindar karena terkejut dan memandang aneh suaminya, “Kamu benar-benar tak apa-apa kan, Bim? Kamu belum gila kan?”


“Aku gila karenamu, Sayang.” Kali ini Bima mengecup bibir Livia tanpa rasa malu.


“Disini banyak orang, Bim. Dasar tak tahu malu!”


“Apa kalau ditempat sepi aku boleh aneh-aneh padamu?”

__ADS_1


Mata Livia melotot memperingati suaminya yang ternyata memiliki sifat jahil itu. Tak pernah Livia duga jika Bima yang selama ini terkenal sebagai pria impoten dan tak tertarik dengan perempuan manapun, ternyata memiliki sifat seperti ini.


“Baiklah, baiklah. Aku akan diam.” Ucap Bima yang sudah tahu jika istrinya sedang marah.


Setelah berbelanja semua perlengkapan, Bima dan Livia memutuskan untuk menyelesaikan menata rumah mereka malam ini juga. Karena besok mereka langsung pindah, maka penataan semuanya akan mereka lembur satu malam ini.


“Apa kamu lapar?” tanya Livia saat mereka sampai dirumah baru mereka.


“Aku lapar dan kelelahan.” Bima menghempaskan tubuhnya diatas sofa ruang tengah. “Tidak kusangka jika berbelanja seperti ini saja bisa menguras tenagaku.”


“Mandilah. Aku akan buatkan makanan.”


“Kamu bisa masak?” Bima terhenyak dari tidurnya.


“Tentu saja aku bisa. Memasak adalah hobiku.”


“Jangan berharap yang berlebihan. Kedepannya aku akan sibuk karena posisiku bukan lagi sebagai wakil.”


“Sudah punya bahan? Mau keluar sebentar untuk membeli bahannya?”


“Tak perlu. Aku tadi sudah membeli spageti dan bahan lainnya.”


“Bagus sekali. Kalau begitu aku akan mandi dulu dikamar atas.”


Bima masuk kedalam kamarnya dengan penuh suka cita. Livia juga tidak marah lagi karena kemarin telah di ancam olehnya, gadis itu cukup mempunyai pemikiran terbuka sebenarnya. Walaupun pernikahan mereka adalah sebuah perjanjian, tapi Livia tahu jelas tentang perannya sebagai seorang istri. Dia tetap akan memberikan apa yang Bima inginkan, tapi untuk hati, siapa yang bisa menduga.


Setelah Bima menyelesaikan mandinya dan memakai baju yang Livia sediakan, dia turun kebawah dan mendapati dua piring spageti karbonara sudah tersaji di meja makan. Livia juga sudah selesai membersihkan dapurnya dan bersiap untuk duduk dikursinya.

__ADS_1


“Boleh mulai makan?” tanya Bima saat sudah duduk dikursinya. Dia sangat bersemangat untuk mencicipi masakan istrinya.


“Silahkan.” Livia memberikan satu gelas air putih untuk suaminya.


Bima makan dengan lahap. Makan malamnya kali ini rasanya sangat berbeda sekali dari biasanya. Walaupun hanya spageti saja, namun hatinya sangat senang karena dia dapat makan masakan dari istrinya.


“Boleh tambah?” Bima mengangkat piringnya yang kosong.


“Tentu.” Livia mengambil piring itu dan menyendokkan satu sendokan besar spageti dan sausnya.


“Makanlah yang banyak, kita akan bekerja keras setelah ini.”


“Diranjang?” goda Bima.


“Bim!!!”


“Ok, baiklah. Maafkan aku.” Bima persis seperti anak kecil di usianya yang sudah menginjak 29 tahun.


“Apa kamu pernah bertemu dengan Kak Rendra?” Bima mengawali obrolan mereka.


“Aku tidak mengingatnya. Apa Kak Rendra juga mengatakannya padamu?”


“Juga?” tanya Bima.


“Yup. Hari setelah pernikahan kita, saat aku keluar dari kamarmu, aku bertemu dengan Kak Rendra. Dan dia yakin jika pernah bertemu denganku.”


Bima tidak mau mengungkapkan jika selama ini Rendra mencari keberadaan Livia, “Oh, begitu.” Jawab Bima singkat.

__ADS_1


Setelah itu, obrolan mereka semakin ringan dan membahas segala hal kecil yabg ada dirumah, makan malam mereka selesai, keduanya langsung bergegas untuk membereskan semua barang yang berhamburan diseluruh penjuru ruang. Setelah truk pengantar barang datang, mereka hanya meletakkannya diteras rumah, jadi Bima mengangkat semuanya untuk dimasukkan kedalam.


__ADS_2