
Laki-laki yang selama ini selalu bersikap dingin kepada orang lain itu tiba-tiba meneteskan air matanya, “Kenapa kamu menghianatiku, Livia?” ucapnya lirih.
“Livia tidak pernah menghianatimu, Bima. Harusnya kamu mencari tahu lebih jelas sebelum melakukan kesalahan itu.”
“Apa?” Bima tercengang.
“Tapi aku harus berterimakasih padamu. Berkatmu, aku akan selalu berada disisi Livia.” Rendra menepuk pundak Bima dan pergi menyusul Livia yang lebih dulu meninggalkan kamar hotel itu.
“Pak Bima, Bapak baik-baik saja?”
“Lepaskan aku!!!” Aura menyeramkan kembali terlihat diwajah Bima. Bima tiba-tiba tersadar jika selama ini dia belum mencari tahu kebenarannya, karena rasa cemburu, Bima memakan mentah-mentah informasi yang dia dapatkan.
__ADS_1
Terlihat Bima sedang terburu-buru menelepon seseorang dan berlari keluar kamar. Tari berusaha menghentikannya, namun usahanya sia-sia karena Bima sudah menghilang menggunakan tangga darurat.
Tari merasa khawatir dikamarnya, dia takut jika Bima mengetahui kebenarannya. Namun pada akhirnya perasaannya bisa tenang, tidak masalah jika Bima mengetahui kebenaran itu, karena semuanya akan terlambat, dan Livia sudah memilih untuk pergi dari hidup Bima.
Livia memilih untuk kembali ke Indonesia secepat mungkin, Rendra menyewa pesawat pribadi untuk mengantarkan adik iparnya itu kembali. Rendra tahu jika Livia sedang didera sakit hati yang begitu luar biasa. Ingin sekali ia memeluk tubuh kecilnya itu, namun Rendra membuang keinginannya itu dan hanya menenangkan Livia dari samping.
Livia masih menangis dalam diam, hanya terdengar isakan yang tertahan. Rendra merasakan sakit hati dan penyesalan. “Andai saja aku menutup rapat-rapat info yang kudapat, ia tidak akan merasakan perasaan yang sesakit itu.” Gumam Rendra dalam hati.
Saat ini bukan perasaan bahagia atau rencana selanjutnya untuk merebut hati Livia, Rendra lebih fokus kepada kesehatan mental dan janin Livia. Ia ingin semuanya baik-baik saja dan Livia bisa tersenyum kembali.
Setelah dua hari mencari tahu, Bima menemukan kebenaran yang membuat dunianya seakan runtuh. Setelah menghajar orang yang memberikan informasi palsu padanya, dia bisa mengetahui kebenarannya. Fakta tentang Rendra lah yang selalu menemui Livia terlebih dahulu, fakta tentang Livia dan Rendra berada dalam kamar hotel karena ada kakek Anwar didalamnya. Orang itu sengaja mengambil foto saat kakek Anwar sudah masuk kedalam, sehingga hanya menampakkan Livia dan Rendra.
__ADS_1
Orang itu mengaku jika Tari membayarnya lebih untuk melakukan itu. Bima meluapkan kemarahannya dengan menghajar orang itu hingga pria itu tak sadarkan diri, jika saja ia tak dihentikan oleh pengawalnya, sudah dapat dipastikan jika Bima akan membunuh laki-laki itu.
Setelah memastikan jika ini semua adalah rencana Tari, Bima dengan yakin juga malam itu ia tidak menyentuh Tari. Bima menyeret Tari kerumah sakit untuk melakukan tes pada selaput daranya. Tentu saja Hendra dan Sintia selaku orang tua Tari menolak tes itu. Tapi Bima menegaskan jika akan menyeret semua keluarga itu sampai kepenjara jika tidak menyetujui tes tersebut.
Bima ingin mendapatkan semua bukti jika dia tidak pernah menyentuh Tari, lalu dia akan menemui istrinya dan meminta maaf. Ia akan mengiba, bahkan ia akan bersujud demi mendapatkan maaf dari Livia.
“Kenapa kamu memaksa Tari untuk melakukan tes itu? Bukankah kalian sudah menodai anakku? Harusnya kamu sebagai laki-laki bertanggung jawab dan menikahi anakku!”
“Perlu Anda ketahui, Pak Hendra. Saya tidak pernah ingat telah melakukannya dengan putri, Anda. Maka dari itu dengan ini saya ingin membuktikan apakah benar atau tidak putri Anda berbohong. Dia bahkan mengatakan jika tengah hamil.”
“Untuk apa? Bukankah kalian tinggal menikah saja? Tari mengatakan padaku jika istrimu sudah menceraikanmu.”
__ADS_1
“Saya tidak akan menceraikannya!” Bima menahan suaranya ditengah rumah sakit yang ramai, “Apa Bapak tahu siapa istri saya?”
Pak Hendra menggelengkan kepalanya, “Tari tidak cerita.”