OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 61


__ADS_3

Livia ingin berdiri dan mengambil Arya, namun tubuhnya tidak bisa bergerak karena ditahan oleh Bima.


“Apa-apaan kamu, Bim. Lepaskan Livia. Arya menginginkan ibunya.” Perintah Rendra.


“Aku hanya tidak ingin berpisah darinya, Kak. Aku baru saja mendapatkannya kembali.”


Arya turun dari gendongan Rendra dan berjalan mendekati Livia dan Bima. “Lepaskan tangan Paman! Jangan menyentuh Bundaku.” Arya memukul tangan Bima yang melingkari tubuh Livia. Suaranya sangat galak.


Bima melepaskan pelukannya dan Arya naik ke pangkuan Livia. Bocah laki-laki itu menoleh untuk memberikan pandangan peringatan kepada Bima. “Jauhi Bunda! Bunda hanya milikku. Paman jelek jangan dekat-dekat!” ancam Arya dengan bengis.


“Hey, bocah! Dari mana kamu belajar sikap jelek seperti itu?” Bima tak mau kalah.


“Hahahahaha.” Tawa Rendra langsung pecah. Livia dan Clara ikut tersenyum karena tahu kenapa Rendra bisa bersikap seperti itu. “


“Kamu kira dari mana lagi Arya memiliki sikap buruk seperti itu? Tentu saja itu bakat buruk yang menurun dari ayahnya.”


“Apa?” Bima bertanya tak percaya.


“Lihatlah wajahnya, semuanya adalah kopian darimu. Selama Livia hamil, aku yakin pasti setiap hari dia membencimu.” Seisi rumah itu kembali tertawa kecuali Bima dan Arya.

__ADS_1


“Arya tidak mirip dengan Paman jelek ini!” bantah Arya.


Gelak tawa kembali meramaikan seisi rumah kecil itu. Dan akhirnya Bima bisa menyadari jika bocah kecil itu memang benar adalah salinan dari dirinya. Dan juga merupakan saingan beratnya saat ini, karena sama persis dengan dirinya yang sangat mencintai Livia, Arya juga merupakan anak yang posesif terhadap ibunya.


Hari-hari berikutnya Bima selalu datang setiap pagi untuk sarapan bersama dengan kedua anak dan ibu itu. Livia meminta Bima untuk tinggal di penginapan dulu, dia meminta Bima mendekati Arya dengan pelan-pelan. Selama ini Arya menganggap jika Rendra adalah ayahnya dan Clara adalah ibu keduanya.


“Aku ingin segera mendengar Arya memanggilku ‘Ayah’.”


“Bersabarlah. Arya memang sedikit kaku dengan orang lain.”


“Persis denganku.” Akunya sambil tersenyum puas.


“Karena dia memang anakku. Darah dagingku. Terimakasih karena telah bertahan selama ini. Aku tahu jika pasti sangat sulit.”


“Aku tak bisa mengatakan jika hidupku selama lima tahun ini mudah. Tapi sejak kehadiran Arya, aku yakin bisa melaluinya. Terkadang hariku terasa berat saat aku melihat wajah anak kita, lihatlah, dia begitu mirip denganmu.”


“Apa kamu teringat rasa sakit yang ditimbulkan olehku?” tanya Bima dengan cemas.


“Ya, terkadang. Karena sangat menyakitkan jika mengingatnya. Namun aku harusnya tidak menyalahkan keberadaan Arya, karena aku juga menginginkannya.”

__ADS_1


“Maafkan aku, Livi. Aku sungguh meminta maaf padamu dan anak kita.” Bima memeluk Livia dengan sayang.


“Sekarang semuanya sudah baik-baik saja, Bim. Yang lalu biarlah berlalu.”


“Tapi, meninggalnya kakek Anwar, apa karena aku?”


“Bukan. Kakek meninggal karena usianya yang sudah tua. Paling tidak, aku bisa memastikan jika kakek meninggal dengan perasaan bahagia. Di detik terakhirnya, kakek sempat mencium kening Arya dan tersenyum padaku.”


“Kakek pasti sangat terkejut saat mengetahui kehancuran pernikahan kita.”


“Alih-alih terkejut, kakek lebih memilih untuk tegar dan menguatkanku. Kakek sangat takut jika aku tak bisa bertahan. Aku memintanya untuk tetap disisiku dan ikut bersamaku, aku memintanya untuk tidak menyentuhmu.”


“Karena aku penerus Mahardika Group?”


“Karena kamu cucu sahabatnya, dan adik dari Kak Rendra. Selama ini Kak Rendra yang selalu siap untuk menjaga kami disini.”


“Aku tak menyangka jika kak Rendra bisa menyerah atas dirimu. Selama ini dia mencintaimu.”


“Dulu, Kak Rendra pernah mengutarakan perasaanya padaku. Namun aku tidak siap menjalin hubungan baru lagi, terlebih saat itu aku masih mencintaimu. Walaupun hatiku sudah tersayat-sayat atas perbuatanmu.” Livia dapat melihat ekspresi penuh penyesalan diwajah Bima, “Namun sekarang ada kak Clara. Dia perempuan tekun yang terus gencar mendekati kak Rendra, hingga akhirnya luluh dan menerima perasaan Clara.”

__ADS_1


__ADS_2