
Kini tinggal Rendra sendirian yang masih terjaga dirumah itu. Setelah Bima pergi ke kantornya. Ia memilih untuk menuju kamarnya yang berada di ujung lorong melewati kamar Bima.
Saat dia melewati kamar Bima, langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang.
“Ada apa ini?” Rendra menyentuh dadanya. Pandangannya beralih saat pintu kamar yang tak jauh dari tempatnya berdiri terbuka.
Betapa terkejutnya Rendra saat mengetahui sosok yang keluar dari dalam kamar Bima. Sosok yang selama ini dia cari-cari keseluruh penjuru Bali, yang selalu dia mimpikan ditiap tidurnya, sosok yang melekat dihatinya karena senyumannya, sosok yang membuatnya terpikat seperti orang gila.
Livia bingung karena menemui laki-laki yang belum pernah dia temui sekalipun, tapi dengan cepat Livia mengingat jika laki-laki didepannya itu adalah cucu pertama keluarga Mahardika. Fotonya terpampang besar diruang tamu utama.
“Oh! Hay, Kak. Perkenalkan aku Livia.” Livia menggantung tangannya berniat untuk menjabat tangan Rendra. Tapi laki-laki itu masih mematung ditempatnya dengan tatapan tak percaya.
“Kak? Kakak baik-baik saja?”
“Apa kamu tak mengingatku?” tanya Rendra dengan ketir.
“Apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
__ADS_1
“Bali. Pantai Kuta.” Jelas Rendra.
“Maaf, Kak. Sepertinya kita belum pernah bertemu. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Livia berniat turun kelantai bawah untuk mencari Bima. Tapi langkahnya terhenti karena Rendra menahannya.
“Tunggu!” Rendra menahan tangan Livia.
“Jangan kurang ajar, Kak. Walaupun kamu adalah kakak iparku, kesopanan itu tetap harus di utamakan.” Livia melepaskan genggaman tangan Rendra dengan paksa.
“Maaf, maafkan aku. Tapi bisakah kamu mengingat-ingatnya lagi? Kita pernah bertemu dua kali di Bali.” Harap Rendra disertai rasa panik.
“Kurasa tidak ada yang harus di ingat, Kak. Permisi!” Livia meninggalkan Rendra yang masih terpukul mengetahui kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa gadis yang selama ini didambanya ternyata telah menjadi milik adiknya.
Rendra teringat sesuatu. Dia berlari menuju kamarnya dan mencari handphonenya. Cepat-cepat dia menekan nomor sepupunya yang dirasa dapat menjawab semua pertanyaannya.
“Halo, Kak Rendra.” Jawab seseorang dari seberang sana.
“Yuda, apa kamu ingat, hal yang kamu ceritakan beberapa hari yang lalu?”
__ADS_1
“Tentang apa, Kak?”
“Tentang Bima. Bima yang bersedia menikah karena ada perjanjian dengan istrinya.”
“Ya, Kak. Aku ingat pernah mengatakan itu padamu dulu. Kenapa, Kak?”
“Apa yang kamu katakan benar?”
“Hmmm? Aku rasa memang seperti itu, Kak. Apalagi Bima sangat lama tidak pernah berhubungan dengan perempuan, namun sekarang dia bersedia menikah. Oh, iya, dulu juga Bima pernah mengatakan padaku jika Livia yang melamarnya. Padahal mereka berdua tidak saling berhubungan sebelumnya. Semuanya serba terburu-buru.”
“Ah! Atau jangan-jangan . . . Livia sebenarnya sudah hamil anak Bima, Kak?” Yuda memiliki praduga yang berlebihan.
“Tutup mulutmu!” Rendra langsung menutup panggilan teleponnya secara sepihak.
“Tidak mungkin jika Livia hamil. Apalagi mereka baru-baru ini saja berkenalan. Aku harus menemui Bima.” Rendra mencoba menghubungi adik kandungnya itu, namun panggilan teleponnya tidak tersambung.
Livia yang sedari tadi turun kelantai bawah tidak menemukan sosok Bima dimanapun, saat dia ingin berpamitan untuk pergi, Livia meluangkan waktunya sebentar untuk menemui kakek Galih. Walaupun saat ini dia merupakan cucu menantu dikeluarga Mahardika, Livia tetap bersikap santai dengan kakek Galih.
__ADS_1
Setelah bercakap-cakap sebentar, Livia berpamitan untuk pulang. Karena dia tidak bisa menghubungi Bima, Livia memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya. Sebelum Livia kembali beraktivitas kepekerjaannya kembali, dia berencana untuk menyelesaikan urusannya untuk mencari rumah. Bima tidak mau mereka berdua tinggal dirumah lama Livia, dia merasa jika rumah itu pasti pernah didatangi oleh Andra, dan Bima tidak menyukainya.