OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 53


__ADS_3

Keesokan harinya, Livia dan Rendra dengan penerbangan pertama berangkat ke Singapura. Sepanjang perjalanan Rendra memperhatikan Livia yang begitu tenang. Gadis itu sangat tenang untuk ukuran seseorang yang akan mendatangi suaminya yang sedang bermain api dengan perempuan lain. Namun ketenangan Livia tampak menakutkan dan mengkhawatirkan.


Livia memejamkan matanya dan membuang nafas beratnya secara perlahan, berulang kali ia melakukannya untuk menghilangkan rasa cemasnya. Masih segar dalam ingatannya saat dia membalas perasaan cinta Bima. Namun belum genap satu tahun pernikahannya, dia harus menghadapi sesuatu yang sangat dia takutkan selama ini jika dia terjebak dalam perasaan bernama cinta.


Tapi kali ini berbeda, demi janin dalam kandungannya, dia bertekad untuk terus menjadi kuat. Menjadi Livia yang selama ini mandiri, menjadi Livia yang selama ini bisa bertahan hidup tanpa suami yang dicintainya.


Sesampainya di Singapura, Livia menemui rekan bisnisnya, orang tersebut cukup terkemuka di negara itu, dia ingin meminta bantuannya untuk bisa masuk kedalam kamar milik Bima dengan akses khusus.


Dengan bantuan rekan bisnis Livia, gadis itu mendapat akses masuk kedalam kamar Bima. Saat Livia dan Rendra masuk kedalam kamar itu, keadaan kamar itu rapi sekali, namun ada satu yang membuat Livia terhenyak, salah satu kamar masih rapi seakan tak ada yang menempatinya, dan satu kamar lagi sangat berantakan dan ada noda lipstik diatas bantalnya. Livia sedikit syok dan membuat tubuhnya limbung.


“Kamu tidak apa-apa, Livi?” Rendra menahan tubuh Livia yang akan terjatuh.


“Aku tak apa-apa, Kak.” Jawab Livia dengan senyuman yang dipaksakan.

__ADS_1


“Duduklah. Mari kita tunggu dengan tenang. Jangan berfikir yang macam-macam.” Rendra membantu Livia duduk di ujung sofa, ditempat itu sedikit tersembunyi dari pintu depan. Membuat mereka berdua sedikit tertutupi dengan dinding pembatas ruangan.


Tepat jam 1 siang, suara pintu depan terbuka. Jantung Livia berdegup hebat, menantikan apa yang akan disaksikannya.


“Lepaskan tanganku!” perintah seseorang dengan suara yang sangat familiar ditelinga Livia.


“Kenapa begitu, Pak. Bukankah jika saya benar-benar hamil, kita akan menjadi sepasang orang tua?”


“Siapa yang hamil?” suara itu mengejutkan Bima dan Tari.


“Livia.” Bima terkejut dan panik. Tapi saat dia ingin mendekati Livia, langkahnya terhenti karena emosinya meluap saat dia melihat laki-laki yang saat ini berdiri dibelakang Livia.


“Kak Rendra! Kalian!”

__ADS_1


“Pak Bima.” Tari bergelayut ditangan Bima.


Livia memandang tak percaya, karena Bima tidak menangkis sentuhan Tari dihadapannya. “Apa kamu yang hamil? Tari?”


“Aku belum memastikannya, tapi jadwal menstruasiku sudah telat satu hari, Kak Livia.”


“Kak Livia?” Bima terkejut.


Livia tersenyum mencemooh, “Aku tidak pernah menduganya jika sekretaris yang selama ini berada disisi Bima ternyata perempuan rendahan sepertimu. Baru saja aku mengetahuinya pagi ini saat mendapatkan informasi tentangmu. Kamu sangat persis dengan ibumu, Tari. Bakat kalian merebut suami orang sungguh hebat.”


“Apa?” Bima terkejut. Tapi dengan cepat dia bisa mengerti apa yang dimaksud Livia. Tari adalah adik tirinya, jelas Bima dengan cepat.


Rendra tampak tenang, karena dia sudah mengetahuinya saat mencari tahu tentang Bima.

__ADS_1


“Jadi ini alasanmu, Bim. Kamu sama sekali tidak menghubungiku dan tidak mau membalas pesanku. Karena kamu sudah hidup bahagia dengan perempuan rendahan itu disini?”


“Lalu apa bedanya denganmu?” tatap Bima tajam. Bima dilingkupi perasaan marah karena merasa dikhianati dan perasaan cemburu.


__ADS_2