
“Ayah. Jangan pergi.” Ucap Arya dalam tangisnya.
“Ayah akan tetap bersama Arya. Terimakasih, Sayang. Terimakasih.” Bima memeluk dan mengecup pipi bocah kecil itu.
Akhirnya Bima mendapatkan pengakuan yang selama ini dia tunggu-tunggu dari anaknya. Livia turut meneteskan air mata bahagianya, merasa senang dan tentram, karena akhirnya mereka akan bisa berkumpul kembali bersama-sama.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Arya, akhirnya Bima ikut tinggal disatu rumah dengan Livia dan Arya. Disela-sela bermainnya bersama Arya, Bima menyempatkan untuk melakukan panggilan video untuk memimpin rapat, sedangkan pekerjaan lainnya dia serahkan kembali kepada Yuda, yang tentu saja kembali membuat sepupunya itu uring-uringan karena beban pekerjaannya yang bertambah.
“Dimana Arya?” tanya Bima setelah dia menyelesaikan rapat onlinenya malam itu.
“Arya sudah tidur dikamarnya.”
“Akhirnya!” Bima melemparkan tubuh besarnya keatas ranjang dimana Livia yang juga sudah bersiap untuk tidur.
Cup! Cup! Cup! Bima mengecup setiap jengkal leher putih milik Livia. “Apa yang kamu lakukan, Bim?” protes Livia karena merasa kegelian.
“Aku hanya sedang meluapkan rasa rinduku padamu. Kamu tahu betapa beratnya?”
“Apa yang berat?” Livia pura-pura tak tahu.
__ADS_1
“Kamu masih bertanya apa yang berat, hm?” Bima memeluk Livia dengan gemas. Bima menggelitik Livia sehingga perempuan cantik itu kewalahan.
“Cukup, cukup, ampuni aku. Aku tahu, aku tahu.”
“Benarkah kamu tahu?” tanya Bima memastikan. Dia melanjutkan sentuhannya dan membuat Livia mulai melayang.
“Kamu tahu jika aku merindukanmu?”
“Ya, aku tahu.” Jawab Livia dengan berat.
“Kamu tahu jika aku menginginkanmu?” Livia hanya bisa mengangguk sambil merasakan setiap sentuhan dari Bima.
“Dan apa kamu tahu jika aku sangat ingin menyentuhmu sekarang juga?” tanya Bima dengan suara beratnya. Bima terus saja memprovokasi tubuh Livia dengan sentuhan jemarinya.
“Oh, my Livia.” Bima menggeram, dan kini menyerang bibir Livia dan mengunci ciuman mereka dengan ciuman yang dalam. Suasana dikamar itu semakin panas, hasrat menggebu karena tak pernah tersentuh setelah sekian lamanya. Bima kembali menjadi laki-laki yang mabuk akan tubuh istrinya itu. Ia sangat suka ketika mendengar Livia mendesah, ketika Livia memanggil namanya ditengah-tengah pertempuran mereka, dan yang paling Bima rindukan adalah ekspresi Livia saat sedang berada pada kendalinya. Semuanya ingin Bima dapatkan malam ini juga. Tapi . . .
Brakkk!!! Livia dan Bima terlonjak kaget karena pintu kamarnya terbuka dengan kasar.
“Bunda.” Panggil Arya. Bocah laki-laki itu berjalan perlahan dengan mata sedikit tertutup karena rasa kantuk yang masih ada. “Arya mau tidur dengan Bunda.”
__ADS_1
“Ba-baiklah. Kesini sayang.” Jawab Livia sambil membetulkan baju tidurnya. Bima melotot melancarkan protesnya kepada Livia. Livia hanya tersenyum tak enak menanggapi suaminya.
“A-Arya kan sudah biasa tidur dikamar sendiri, jadi Bunda biar Ayah yang temani, ya?” bujuk Bima saat Arya mulai menaiki tempat tidur.
“Tidak. Arya mau tidur dengan Ayah dan Bunda.”
“Emm, emm, bagaimana kalau Arya tidur dengan Ayah Rendra dan tante Clara? Ayah antarkan kesana sekarang, ya?”
“Nggak mau! Arya pokoknya mau tidur sama Bunda!”
“Tidak boleh! Arya sudah memonopoli Bunda dari pagi sampai sore. Sekarang waktunya Ayah sama Bunda.” Bantah Bima.
“Nggak mau, Ayah!” lawan Arya.
“Arya Putra Mahardika! Kamu sebagai laki-laki sejati harus berbagi bunda dengan ayah!” Bima juga terus melawan.
“Nggak mau! Nggak mau! Nggak mau! Bunda milik Arya! Ayah jahaatttt! Huuaaaa!!!!” Arya menangis ditengah malam.
Begitulah hari-hari berikutnya yang mereka lewati. Setiap hari selalu saja terjadi pertengkaran antara anak dan ayah itu yang selalu mengingkan Livia untuk diri mereka seorang. Sedangkan Livia yang akhirnya merasa pusing karena harus berada ditengah-ditengah kedua laki-laki yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Ditengah-ditengah kegemparan yang selalu terjadi disetiap harinya, rumah itu selalu dipenuhi perasaan bahagia dan gelak tawa karena perasaan cinta yang diluapkan dari para penghuninya.
Terimakasih telah membaca kisah Livia dan Bima. Mohon maaf apabila masih banyak terjadi kesalahan dari penulisan maupun alur cerita. Saya sebagai penulis masih perlu banyak belajar dalam pembuatan sebuah novel. Terimakasih atas saran, kritik, like dan dukungannya. Selamat berjumpa lagi di karya berikutnya. (Melambai-lambai ^_^)