OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 31


__ADS_3

“Livi, apa yang akan kamu lakukan!” sebelum Bima sadar, Livia sudah melepaskan celana Bima, dan tentu saja dengan mudah dia menemukan sesuatu yang sudah menegang. “Apa yang kamu . . . ahhhh!!! Livia!!!” erang Bima.


Tubuh Bima melengkuh. Baru kali ini dia merasakan hal seperti ini. Tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan yang baru saja dirasakannya. Livia memainkan lidahnya dengan terampil, dengan mata nakalnya, dia menatap Bima dari bawah.


“Perasaan apa ini? Kenapa rasanya begitu nikmat?” gumam Bima dalam hati. Nafasnya sudah tak beraturan. “Kenapa tatapan matanya sangat menggoda, oh Livia.” Erang Bima dalam hati.


Bima sudah tak tahan lagi, dengan cepat dia membalikkan posisinya saat ini, sekarang Livia berada dibawah kendalinya.


“Izinkan aku untuk memberikan kenikmatan padamu, My Queen. Oh, My Livia.”


Sepersekian detik, Bima menghentakan milikknya menerobos masuk kedalam inti Livia. Livia melenguh dan merasakan kenikmatan yang luar biasa karena gerakan maju mundur Bima. Semakin lama semakin cepat, Livia kehilangan akal sehatnya. Hanya ******* yang keluar dari bibir merahnya.


Saat Bima merasakan ada sesuatu yang akan keluar, dia mempercepat gerakannya dan merasakan puncak kenikmatan berdua dengan orang yang dicintainya.


Rencana Livia untuk beristirahat malam ini lagi-lagi tak berjalan mulus. Perlu beberapa kali penyatuan untuk membuat Bima berhenti. Setelah memastikan jika kebutuhan Bima tersalurkan, Livia membersihkan diri dikamar mandi, saat gadis cantik itu keluar, dia menemukan Bima sudah duduk dengan mata yang tajam saat memandangnya.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa kamu terlihat marah?”


“Apa kamu pernah melakukannya dengan laki-laki lain?” tanya Bima serius.


“Berhubungan badan? Bukannya aku sudah mengaku padamu? Apa sekarang kamu akan mempermasalahkan masa laluku?”


“Bukan, bukan hal itu.”


“Lalu?”


“Emmm, itu. Saat kamu . . . “Bima bingung bagaimana caranya mengatakannya.


Bima mengangguk, dan entah mengapa tiba-tiba Bima merasakan tubuhnya kembali memanas hanya dengan mengingat hal yang sempat dilakukan Livia, “Aku merasa terganggu dengan hal itu. Entah kenapa aku marah jika memikirkanmu melakukan hal itu pada laki-laki lain.”


Livia duduk disebelah Bima. “Bukankah kamu pernah mengatakan jika akan menerima masa laluku?”

__ADS_1


“Kamu betul. Tapi jika aku mengingat kamu masih berada didekat laki-laki itu saat akan kembali kekantor nanti, itu membuatku sangat marah.”


Livia menangkup wajah Bima dengan kedua tangannya, “Aku tidak melakukan itu dengannya. Hubunganku dengannya hanya sebatas mencari kepuasan semata. Tidak lebih. Tidak ada perasaan di antara kami.”


Bima diam-diam merasa tenang mendengar penjelasan dari istrinya, “Lalu, bagaimana denganku? Apa kamu mempunyai perasaan padaku?” Bima menggenggam tangan Livia.


“Aku tidak tahu dengan perasaanku saat ini. Yang pasti, setelah satu minggu lebih berdua denganmu, aku merasa nyaman. Kamu memperlakukanku dengan baik.”


“Tentu saja aku harus melakukan itu. Kamu istriku. Selamanya.”


“Kenapa kamu bisa yakin dengan kata-kata itu?”


“Cintailah aku, Livi. Maka aku akan membuatmu bahagia sepanjang hidupmu.” Bima mengecup punggung tangan Livia.


“Aku takut dengan perasaan itu, Bim. Aku takut akan tersakiti.” Livia akhirnya menceritakan sumber traumanya selama ini yang membuatnya tidak ingin menikah ataupun memiliki anak.

__ADS_1


Ibu Livia dulu dinikahkan oleh ayahnya karena permintaan kakek Anwar. Setelah kakek Anwar membantu perekonomian keluarga Rehardi, dia meminta anak pertama dari keluarga itu untuk menjadi menantunya.


Waktu berjalan, dengan sepenuh hati ibu Livia mencintai suaminya. Namun ternyata, selama itu dia merasakan kesepian. Karena ayah Livia telah memiliki kekasih hati yang selama ini selalu mengisi ruang hatinya.


__ADS_2