OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 18


__ADS_3

Bima mengikuti Livia menuju ruang kerjanya, yang merupakan ruang kerja kakek Anwar pada masanya. Livia memilih untuk duduk disofa tunggal yang tepat berhadapan dengan Bima. Setelah minuman dan camilan disediakan oleh asisten rumah tangga, Livia lebih dulu mengawali obrolan mereka.


“Jujur saja aku akan mengatakannya padamu. Bagaimanapun juga kita akan menjadi sepasang suami istri, yah walaupun itu hanya status saja, tapi aku ingin kamu mengetahui masa laluku.”


“Tentang?” Bima menjawab dengan tenang.


“Tentang . . . jika aku sudah pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain sebelum menikah denganmu. Bukan hubungan asmara, hanya hubungan saling menguntungkan saja.”


“Hubungan diatas ranjang?”


“Begitulah kira-kira.” Jawab Livia singkat.


“Dengan Andra Permana?”


“Hah? Bagaimana kamu tahu?” Livia memandang lekat kearah Bima, dan langsung tersadar sebelum laki-laki itu sempat menjawabnya. “Kamu pasti sudah mencari tahu tentangku. Tapi bagaimana bisa kamu menyimpulkan jika itu Andra?”


“Siapa lagi memangnya? Kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Dan yang selalu berada disisimu hanya dia.”


“Yup, kamu betul.”


“Apa kamu punya perasaan dengan laki-laki itu?”


“Tidak.”


“Baguslah kalau begitu.”

__ADS_1


“Kenapa itu menjadi hal yang bagus?”


“Karena aku adalah pria pencemburu.”


“Pencemburu? Aku rasa kamu tak perlu melakukannya padaku. Bukankah hubungan kita ini hanya status?”


“Tetap saja kamu akan menjadi istriku, dan milikku Livia.” Bima tahu jika ucapannya itu membuat Livia memikirkan sesuatu.


“Tapi kamu cukup berani mengatakannya padaku. Apa kamu tidak takut aku menganggapmu sebagai perempuan nakal?”


“Aku tidak mempermasalahkan anggapan orang lain. Dan jika misalkan kamu membatalkan rencana kita, aku juga tidak masalah. Aku bisa mencari solusi lainnya.”


“Laki-laki lain sebagai suami?”


“Tentu saja. Karena itu yang di inginkan oleh kakekku.”


“Aku tidak mau jika hal itu dipermasalahkan dikemudian hari.” Jawab Livia langsung.


Bima terdiam sejenak, “Aku menerima masa lalumu, dan aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, bolehkah aku bertanya? Mungkin pertanyaan ini sedikit konyol.”


“Silahkan.”


“Seberapa sering kamu melakukannya dengan sekretarismu itu?”


Uhuk!!! Livia tersedak teh nya saat Bima mempertanyakan pertanyaan konyol itu. “Apa aku harus menjawabnya?” tanya Livia dengan ekspresi tak senang.

__ADS_1


“Aku sedang menunggu jawabanmu.”


“Yah . . . tidak sesering itu. Akupun baru-baru ini saja melakukan hal itu karena beban pekerjaan yang membuatku stres.”


“10 kali? Atau lebih?”


“Tidak. Tidak sebanyak itu.”


“Benarkah?”


“Kamu bisa percaya padaku.”


“Setelah rencana kebohongan besar kita kali ini, rasanya sulit untuk percaya padamu.”


“Terserah saja.” Livia sama sekali tidak keberatan jika Bima ragu padanya.


“Kamu tidak ingin bertanya tentangku?” tanya Bima.


“Rumormu diluar cukup jelas untukku.”


“Baiklah kalau begitu. Satu yang perlu kamu tahu. Kamu adalah yang pertama untukku, dan aku berharap juga yang terakhir untukku.”


Livia memandang Bima dengan tatapan yang penuh rasa penasaran, karena Livia merasakan jika laki-laki dihadapannya ini seolah-olah sedang berusaha untuk memonopoli dirinya.


Percakapan terakhir mereka mengakhiri obrolan keduanya. Karena sudah waktunya makan malam, Bima dan Livia bergabung dengan kakek Galih dan juga kakek Anwar.

__ADS_1


Kedua kakek itu tersenyum lebar saat melihat Bima dan Livia turun dari lantai atas bersamaan. Suasana dimeja makan malam itu cukup hangat dan menyenangkan. Livia beberapa kali menyanggah pendapat kedua kakek itu, dan Bima terkadang kebingungan karena dituntut untuk membela kedua kakek tua itu. Pada akhirnya pertemuan kedua keluarga itu berjalan dengan lancar.


***


__ADS_2