
“Hai, Max.” sapa Livia.
“Kamu selalu cantik, Sayang.” Max mendekatkan tubuhnya.
“Bisa sedikit menjauh, Max.” pinta Livia. Ia juga mulai menjaga jarak dari sepupu dan juga teman masa kecilnya itu.
“Why? Aku merindukanmu, Livi. Kita sudah lama tidak bertemu.” Protes Max. laki-laki berambut pirang itu justru menarik Livia untuk mendekat kearahnya, dan tentu saja melingkarkan tangannya ke pinggul seksi Livia dan tentu saja tidak sengaja menyentuh kulit punggung Livia sebelumnya.
Tak perlu menunggu lama, dapat Livia saksikan jika pesta Mahardika Group berubah menjadi ajang adu jotos antara Bima dan juga Max. Livia menutup kedua matanya untuk mencoba menurunkan emosinya.
***
“Livia! Livi! Berhenti!” perintah Bima yang sedari tadi terus mengejar Livia dari belakang.
“Apa lagi sekarang, hm?”
“Aku ingin menjelaskannya padamu. Jadi tolong berikan aku kesempatan.”
__ADS_1
“Jadi, sekarang jelaskan padaku.”
“Disini?” tanya Bima bingung. Karena mereka berdua berada ditengah lobi hotel. Tempat acara pesta berlangsung.
“Lalu?”
“Tunggu!” Bima berlari menuju resepsionis dan mendapatkan kunci kamar. Bima memesan Presidential Suite Room. Bima tahu jelas jika ia akan hanya memberikan penjelasan kepada Livia, namun jika semuanya tak terkendali, maka Bima akan membujuk istrinya dengan cara lain, makanya dia sengaja memesan kamar termahal dihotel itu.
“Ayo ikut aku, akan menjelaskannya padamu.” Bima menarik tangan Livia untuk mengikutinya.
Sesampainya didalam kamar, Livia duduk disofa dengan kedua tangan yang bersedekap. Bima tahu jika Livia sudah menunggu penjelasan darinya.
“Aku bersalah. Aku tahu itu. Karena itu dari tadi aku terus meminta maaf padamu.”
“Apa kamu sudah minta maaf pada kakek Galih?”
“Aku bisa melakukannya nanti.”
__ADS_1
“Kamu harus minta maaf sekarang juga pada kakek. Karena kamu telah merusak pestanya. Aku minta sekarang juga!”
“Baiklah. Aku akan menelepon sebentar.” Bima berjalan menjauh menuju balkon. Dapat Livia lihat dengan jelas, jika suaminya itu beberapa kali harus menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya. Dapat dipastikan jika kakek Galih sedang murka padanya.
“Aku sudah meminta maaf pada kakek.” Lapornya dengan melas. “Jadi, apa kamu sudah tidak marah lagi padaku?” tanya Bima. Ia kembali duduk ditempatnya. Dengan sedikit mendongak keatas untuk melihat wajah cantik istrinya yang sedang marah, Bima memasang muka melasnya. “Sial! Kenapa marah saja tetap membuatnya terlihat cantik dan menggoda?” ucap Bima dalam hati.
"Aku masih marah padamu, Tuan Bima.”
“Maaf. Aku tak seharusnya begitu. Tapi saat lihat bajingan itu menciummu dan menyentuh tubuhmu, aku tak bisa mengontrol emosiku. Kamu tahu jika aku laki-laki pencemburu. Kamu milikku. tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku." Bima sedikit menggeram, masih teringat rasa bencinya saat pria lain menyentuh tubuh istrinya.
“Tidakkah harusnya kamu bertanya dulu padaku?”
“Otakku tak bisa berfikir rasional lagi jika menyangkut dirimu.” Kilah Bima.
“Max adalah teman masa kecilku, Bim. Dia juga masih keponakan paman Samuel. Max keponakan tante Kristi, Istri paman. Dan apa-apaan tadi? Kamu langsung menerjangnya dengan membabi buta.”
“Maafkan aku, Livi. Kumohon.” Bima terus saja mengiba.
__ADS_1
Sebenarnya Livia ingin memperpanjang masalah ini mengingat wajah Max yang penuh dengan luka dan lebam, namun melihat Bima memohon padanya seperti ini, membuatnya luluh. “Baiklah, asal berjanjilah padaku. Kalau ada apapun, coba tanyakan dulu padaku. Jangan langsung mengambil kesimpulan.” Pintanya.