OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 36


__ADS_3

Andra terdiam sesaat dan mulai menyesali tindakannya yang baru saja ia lakukan. Terlintas masa depan yang akan ia lalui, yaitu berpisah dengan Livia.


Andra menundukkan wajahnya, “Apa kamu akan memecatku, Liv?”


“Aku tidak akan melakukan itu. Aku anggap hal yang baru saja kamu lakukan tidak pernah terjadi. Tapi . . . pindahlah menjadi sekretaris wakil direktur yang baru. Dia juga belum mendapat sekretaris. Kamu bisa membantunya.”


“Tapi siapa yang akan membantumu, Liv?” Andra berusaha ingin tetap berada disisi Livia.


“Aku masih bisa mencarinya sebelum aktif kembali. Sekarang menghadaplah kepada HRD. Aku akan menghubungi pak Saka untuk memperbarui isi perjanjian kerjamu. Aku tidak akan mengingat hal ini, jadi bersikaplah seperti biasa, dan hapus perasaanmu itu.”


“Baiklah.” Jawab Andra lemas, “Maafkan aku, Livia. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” Pinta Andra dengan mengiba.


“Aku sudah mengatakan jika kejadian barusan tidak pernah terjadi. Jadi jangan mengungkitnya lagi. Aku tak ingin kehilangan teman, Ndra. Jadi kumohon buang jauh-jauh perasaanmu padaku.”


Ada rasa kecewa, namun juga perasaan lega karena Livia mau memaafkannya, paling tidak dia masih mempunyai kesempatan untuk tetap berhubungan dengan gadis yang dicintainya itu. Andra berjalan gontai keluar dari ruangan Livia, baru saja dia ingin membuka pintu dari dalam, tapi pintu itu terdorong oleh seseorang dari luar.


“Bu Livia, kita ada masalah.” Lapor Bramantya, manager eksekutif pemasaran.


“Masalah apa?”


“Produk baru kita disinyalir berbahan minyak babi dan merkuri, Bu.”


“Apa? Bagaimana bisa?”

__ADS_1


“Seluruh tim sudah berkumpul diruang rapat, Bu.”


Livia setengah berlari keluar untuk menuju ruangan rapat yang diadakan secara mendadak.


“Bagaimana bisa ini terjadi?” tanya Livia saat dia sampai didalam ruang rapat. “Bagaimana tim kualifikasi produk?”


“Terakhir kemarin kami melakukan pengecekan produk, dan semuanya aman dari bahan-bahan tersebut, Bu.” Kata kepala lab kepada Livia.


“Kabar itu tersebar dari mana?”


“Ada seseorang yang membuat penilaian produk kita secara live di sosmed, Bu. Dan itu berdampak cukup buruk karena pengikutnya sudah jutaan orang. Banyak komplain yang kita terima. Banyak artikel yang mengecam kita hanya dalam beberapa menit.”


“Bisa kamu lacak dari mana orang itu?”


“Live nya sudah dari 30 menit yang lalu selesai, Bu. Namun saya kesulitan untuk menemukan IP nya. Jejak digitalnya diproteksi dengan sempurna.”


Tok . . . tok . . . tok . . . semua pandangan beralih kearah pintu ruang rapat.


“Kak Rendra? Ada apa Kakak kesini?”


“Apa ada masalah, Livi?” tanya Rendra karena melihat situasi yang cukup serius.


“Ada seseorang yang mencoba menjatuhkan produk baru kami, Kak. Tapi aku masih belum bisa mendapatkan asal penyebarannya.”

__ADS_1


“Sudah berapa lama?”


“Live terakhirnya 30 menit yang lalu.”


Rendra menghampiri Marsel yang bertugas sebagai pengamanan IT, “Boleh saya pinjam laptopnya?”


“Kak Rendra mau apa?”


“Aku akan mencari asal penyebar utama video tersebut. Masih ada waktu untuk menangkapnya.”


Marsel menatap Livia menunggu persetujuannya, Livia mengangguk memberikan ijin. Marsel berdiri dan mempersilahkan Rendra untuk duduk. Rendra langsung fokus dengan kode-kode yang dia ketikkan, entah apa itu, Livia tidak mengerti. Sedangkan Marsel memperhatikannya dengan serius dari belakang Rendra.


“Ketemu!” data berikutnya berisikan campuran kode-kode dan juga menunjukkan alamat IP beserta user yang dipakai untuk menyebarkan video pencemaran produk itu.


“Cepat kirim tim untuk menangkapnya. Tuntut dia seberat mungkin.” Perintah Livia.


“Baik, Bu.” Tim hukum langsung melaksanakan perintah Livia.


“Kamu akan menuntutnya dengan berat, Livi?” tanya Rendra.


“Tentu saja, Kak. Dia sudah membuat kerugian besar pada perusahaanku. Dampaknya cukup kuat karena kandungan yang dia sebutkan itu tidak akan bisa diterima oleh masyarakat.”


“Tidak ingin mengecek kandungannya sekali lagi?”

__ADS_1


“Kepala laboratorium tadi sempat melakukan pengecekan singkat, dan memastikan jika tidak ada kedua kandungan itu. Entah kenapa dia mencoba menjatuhkan produk baru kami.” Livia memijat pelipisnya yang terasa nyeri, lalu gadis itu memperhatikan kakak iparnya yang tersenyum saat melihatnya. “Turun yuk, Kak. Kita kekantin kantor.”


“Boleh.” Rendra mengikuti Livia menuju kekantin kantor perusahaan kosmetik itu.


__ADS_2