
“Saya curiga Tari berbohong demi membuat saya bercerai dengan istri saya. Dan nama istriku adalah, Livia. Livia Zahra, anak pertama Anda, Pak.”
Serasa disambar petir disiang bolong, dia mendapati kebenaran jika anak yang selama ini dia sakiti, telah tersakiti kembali dengan tindakan Tari.
“Benar kamu melakukannya, Tari?” Pak Hendra mencengkeram kedua pundak Tari.
“Ayah. Sakit.”
“Cepat, katakan padaku, Tari! Apa kamu sengaja mendekati Bima demi membalas Livia?”
“Aku memang melakukannya, Yah! Aku ingin membalas dendam pada perempuan itu. Karena dia, hidup kita sengsara, karena dia, Ayah tidak lagi menjadi penerus keluarga Admaja, karena dia hidupku hancur.”
“Cukup!!!” teriak Hendra.
“Jangan sakiti dia lagi, kumohon.” Pak Hendra menangis dan menunduk, “Aku telah menyakitinya dengan memilih kalian. Kenapa kamu masih menyakiti anak itu.” Pak Hendra meraung. Dengan mata penuh keyakinan, ia menghampiri Bima.
“Bima. Aku setuju dengan tes ini, aku akan menandatangani surat persetujuan itu.”
“Mas Hendra! Pikirkan Tari.” Istri Pak Hendra menghalangi.
__ADS_1
“Tak cukupkah aku memilih kalian? Apa kalian belum cukup merebut kebahagiaan anak itu?”
“Cepat bawa Tari masuk kedalam.” Perintah Bima pada anak buahnya.
“Baik, Pak.”
“Tunggu! Lepaskan aku. Ayah! Tolong aku, Ayah!”
Karena Tari terus melawan, akhirnya dokter menyuntikkan obat tidur. Beberapa detik berikutnya, Tari tertidur dan akhirnya dokter melakukan pemeriksaan itu. Dari hasil pemeriksaan, dapat dipastikan jika Tari masih belum pernah terjamah oleh laki-laki. Tari masih perawan. Berarti kejadian malam itu hanyalah tipu daya Tari untuk menipu Bima.
Terlihat jelas perasaan lega yang Bima rasakan, dengan bukti itu, Bima berlari menuju rumah, namun yang dia dapati, tak ada sosok Livia dirumah itu. Bahkan barang-barang Livia masih tersimpan rapi ditempatnya. Bima mencari kekediaman utama keluarga Admaja, namun dirumah itu juga tidak ada siapa-siapa. Semua asisten rumah tangga bungkam dan tidak mau mengatakan pada Bima dimana keberaan kakek dan cucunya itu. Saat Bima berlari keperusahaan Livia, disana dia menemukan Paman Samuel yang berada didalam ruang direktur.
Paman Samuel maju dan meninju wajah Bima dengan kuat, Bima tidak melawan karena dia tahu jika itu memang salahnya.
“Maafkan saya, Paman.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Tapi jangan pernah kamu menemui Livia lagi.”
“Tidak, Paman. Ini semua hanyalah salah faham. Saya sudah mendapatkan semua buktinya.” Bima menunjukkan kertas-kertas yang dia kumpulkan sebagai bukti.
__ADS_1
“Semua itu tidak berguna, Bima. Livia sudah memilih keputusannya. Ini!”
Bima menerima amplop coklat yang berisi dokumen. Saat dia membukanya, betapa terkejutnya dia karena itu adalah dokumen persetujuan perceraian yang Livia ajukan dan sudah ditandatangani.
“Tidak, tidak, tidak, Paman. Aku tidak akan menandatanganinya.”
“Terserah apa yang kamu lakukan. Yang penting dengan semua bukti, kami akan berusaha memutuskan pernikahan kalian. Bagaimana bisa kamu membuat luka baru pada seseorang yang sudah terluka parah seperti itu? Pergilah!”
“Paman, tolong kasih tahu padaku. Dimana keberadaan Livia?”
“Pergilah. Anggap saja Livia sudah mati bersamaan dengan janin yang dikandungannya!” paman Samuel berbohong, dia ingin membalas sakit hati Livia.
“Apa? Janin? Kandungan?”
“Kamu telah membunuh anakmu sendiri, Bima.” Bentak paman Samuel. Akhirnya paman Samuel pergi meninggalkan ruangannya karena Bima masih mematung diruangannya, “Dengan begitu kamu akan menyalahkan dirimu, Bima. Terus salahkan dirimu, karena kamu Livia lebih terluka lagi.” Gumam paman Samuel sembari berjalan keluar dari ruangannya.
Diantara keterpurukan Bima saat mengetahui jika calon anaknya telah meninggal, Bima membereskan orang-orang yang berada dibalik kehancuran pernikahannya. Bima terus menolak perceraiannya, dan dengan kekuatannya, dia berhasil mengulur waktu. Hingga persidangan memutuskan untuk mengundur jadwal sidang berikutnya sampai waktu yang tidak ditentukan.
Bima meminta pertolongan kakek Galih, namun kakeknya memilih untuk diam. Setelah mengetahui apa yang Bima lakukan, kakek Galih kecewa, dan merasa bersalah telah menikahkan Livia dengan cucunya yang tidak tahu diri itu. Bima terus menjelaskan kesalah pahaman itu, tapi nasi sudah menjadi bubur, Livia sudah terluka dan memilih untuk bersembunyi.
__ADS_1