OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 26


__ADS_3

Kali ini Bima dan Livia menunda rencana bulan madu mereka, dan tentu saja jika rencana bulan madu itu dari awal memang tidak direncanakan karena selama ini Livia mengira jika rumor tentang suaminya benar adanya. Namun kakek Galih dan kakek Anwar tentu saja tidak tinggal diam, mereka berdua selalu menanyakan kapan dan dimana rencana bulan madu pengantin baru itu.


Setelah sampai dirumahnya, Livia mencoba mencari-cari referensi rumah baru di beberapa website developer. Gadis itu menginginkan rumah yang tidak terlalu besar, karena hanya akan di tinggali mereka berdua saja.


Saat Livia sedang sibuk melihat-lihat, ada panggilan masuk di handphonenya, nama Bima tertera dilayarnya.


“Ya, Bim?”


“Kamu dimana Livi?”


“Aku dirumahku sekarang.”


“Aku akan segera kesana. Tapi aku tak mau masuk kedalam rumah.”


“Baiklah. Hubungi aku jika kamu sudah ada didepan rumah.” Livia mengerti ke-engganan Bima.


“30 menit lagi aku akan sampai.”


Sesuai perkiraan Bima, dia sampai didepan rumah Livia 30 menit kemudian. Livia keluar untuk ikut suaminya. Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam itu memasuki kawasan perumahan elit.


Livia tanpa banyak bertanya mengikuti kemana langkah suaminya pergi. Mereka memasuki satu rumah yang terdiri dua lantai. Didalamnya sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan mereka berdua.


“Selamat malam. Ibu pasti istri Pak Bima, Bu Livia.” Sapa Erika dengan ramah. Dia adalah marketing eksekutif dari perusahaan developer terkemuka.

__ADS_1


“Malam, Mbak.” Jawab Livia dengan ramah.


“Baik, Bu. Saya akan menjelaskan sepintas tentang rumah ini. Seperti yang kalian tahu, jika perumahan ini terletak didaerah strategis. Penjualannya juga sudah 80% hampir terpenuhi. Rumah ini terdiri dari dua lantai, satu kamar utama yang cukup luas dilantai atas, dan satu kamar tamu dilantai bawah. Seperti yang ibu lihat, rumah ini sudah dilengkapi dengan furniture modern, namun jika Bu Livia tidak suka atau bukan selera Ibu, kita bisa membicarakan ulang tentang harganya karena adanya pengurangan furniture.”


“Saya rasa tak ada masalah dengan furniture rumah ini. Saya cukup suka.”


Erika menunjukkan wajah kagumnya, “Pak Bima sangat beruntung mendapatkan Bu Livia.”


Bima yang mendengarnya diam-diam merasa bangga karena perkataan Erika.


“Kalau boleh tahu, kenapa begitu?” tanya Livia bingung.


“Karena kebanyakan pembeli kami selalu meminta adanya perubahan dalam furniture yang sudah kami siapkan. Padahal setiap rumah memiliki model furniture yang berbeda. Hanya Bu Livia yang tidak terlalu ribet.”


“Yaaa . . . mungkin karena ini hanya akan menjadi rumah sementara.” Ucap Livia dengan pelan. Namun perkataannya cukup dapat bisa didengar oleh Bima yang berada tepat disampingnya.


Bima mengikuti istrinya dari belakang dengan tenang. Sedangkan Livia masih sibuk melihat-lihat kamar utamanya.


“Kamu bisa memilih, Bim. Akan pakai kamar utama dilantai dua, atau kamar dibawah.” Ucap Livia memecah keheningan.


“Apa maksudmu, Livi? Bukankah kita suami istri?” jawab Bima dengan nada yang tak bersahabat.


“Kita suami istri diatas perjanjian, Bim. Aku rasa kamu pasti masih mengingatnya.”

__ADS_1


“Bukankah semalam kita sudah melakukan hubungan suami istri?”


“Kamu lupa jika hubungan seperti itu bisa dilakukan tanpa ikatan apapun?”


“Lalu apa menurutmu yang bisa membedakan hubungan suami istri yang sebenarnya?”


“Hmmmm . . . mungkin perasaan. Cinta? Tapi aku tak memiliki perasaan itu.”


“Bagaimana kamu tahu jika kamu tidak mencobanya, Livi?” Bima menarik istrinya untuk menghadap padanya.


“Karena tidak akan ada waktu untuk mencoba, Bim. Ingat! Pernikahan kita ini tak nyata. Kita tak akan selamanya menjadi sepasang suami istri.” Livia melepaskan pelukan dengan paksa.


“Jika kamu tetap ingin kita berpisah kamar, lebih baik kita akhiri hubungan palsu ini saat ini juga.”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku jika kamu tak memberikanku waktu untuk merayumu, maka lebih baik selesaikan saja hubungan sia-sia ini. Tapi . . . kurasa itu akan sangat berbahaya untuk kakek Anwar, melihat kesehatan beliau yang kurang bagus.”


“Kamu mengancamku?”


“Aku tidak mengancammu, Sayang. Aku hanya sedang bernegosiasi. Jika kamu setuju, tidak akan ada yang dirugikan dalam hal ini.”


“Kenapa kamu melakukan ini?”

__ADS_1


“Karena aku tidak pernah berfikir untuk bercerai setelah kita menikah.” Bima mendekati Livia lagi dan menyentuh wajah cantik itu.


“Bukankah aku pernah berkata padamu jika aku tertarik denganmu? Aku tak pernah setertarik ini dengan perempuan manapun. Hanya kamu, Livi. Dan aku sudah membuktikannya padamu saat malam pertama pernikahan kita.” Bima mengecup pipi Livi yang mulai bersemu merah.


__ADS_2