OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 42


__ADS_3

Sesampainya digedung pesta Hotel A, Bima dan Livia langsung disambut oleh semua orang. Baru saja ia menginjakkan kakinya kedalam ruangan, namun dari kejauhan dapat Bima rasakan hawa dingin yang serasa ingin membunuhnya dalam diam. Tatapan mata sengit terpancar dari kakek Galih.


Disana kakek Galih sedang berdiri ditemani Rendra, sesekali orang tua itu melayangkan senyum kepada kolega yang sedang berdiri mengelilinginya, namun pandangan menusuk pendiri Mahardika Group itu sama sekali tak berpaling dari cucu dan cucu menantunya itu.


Menyadari hal itu, Bima dan Livia menghampiri kakeknya setelah berhasil memukul mundur beberapa orang yang telah mengerubunginya tadi.


“Hay, Livi.”


“Hay, Kak Rendra.”


“Kamu cantik sekali hari ini.” Puji Rendra tanpa memperdulikan Bima yang sudah menatapnya tajam.


“Terimakasih, Kak.”


“Halo, Kakek.” Sapa Livia sembari memberikan kecupan ringan di pipi kakek Galih.

__ADS_1


“Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu?” tatapan mata kakek tua itu berubah lembut saat menyapa Livia.


“Livia baik-baik saja, Kek.”


“Syukurlah. Kakek sempat khawatir karena nampaknya kamu hidup dengan binatang buas dirumah itu. Sampai-sampai membuatmu telat untuk datang ke pesta sepenting ini.” Jelas kakek Galih menyindir Bima.


Bima tidak menunjukkan rasa bersalahnya, dan tidak menghiraukan protes dari kakeknya. Bima menarik tubuh Livia agar mendekat padanya dan melingkarkan tangannya kepinggul Livia, “Kamu ingin minum sesuatu, Sayang? Aku akan mengambilkannya untukmu.”


“Aku bisa ambil sendiri, aku juga ingin menemui kakek dan paman dulu.”


“Jangan.” Cegah Livia. “Disinilah dulu beberapa saat. Kolegamu akan segera kesini untuk memberikan ucapan selamat kepada para petinggi Mahardika. Aku akan disana bersama kakekku.” Livia menunjukkan keberadaan kakek Anwar dan paman Samuel yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan berat hati Bima harus melepaskan Livia untuk pergi dari sisinya.


“Ck, ck, ck. Coba lihat bocah ini. Aku ingat betul penolakannya untuk menikah, tapi sekarang lihatlah. Apa kamu akan mati jika jauh dari Livia?”


“Kakek betul. Mungkin aku akan mati jika tidak berada didekatnya.” Jawab Bima yang tetap fokus memperhatikan Livia dari belakang.

__ADS_1


Sesuai perkiraan, beberapa partner bisnis mulai berdatangan dan mengucapkan selamat kepada para petinggi Mahardika Group itu. Bima hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya, selebihnya dia akan membiarkan kakeknya dan kakaknya menjawabi basa-basi para pengusaha itu. Pandangannya hanya lurus melihat kearah Livia.


“Kenapa dia terus tersenyum seperti itu walau jauh dariku? Apa hanya aku yang merasa sesak jika tidak berada didekatnya?” batin Bima.


Saat pandangan mereka bertemu, Livia memasang senyum termanisnya. Bima bahagia hanya dengan mendapat senyuman dari gadis yang dicintainya itu, baru saja Bima akan melangkahkan kakinya untuk menjemput ratunya, langkahnya terpaksa terhenti karena pundaknya ditekan oleh kakeknya.


“Tetaplah disini untuk beberapa menit lagi bocah tengil, awas saja kalau kamu pergi.” Ancam kakeknya pelan dengan tetap tersenyum kearah para pengusaha lain.


Livia tahu jika Bima saat ini sedang tertahan, jadi dia hanya terkekeh kecil melihat ekspresi suaminya yang tersiksa. Sebenarnya ingin sekali Bima berlari untuk melindungi Livia-nya, karena sejak tadi banyak sekali pengusaha muda yang datang mendekati istrinya itu. Bima menahan amarahnya setiap kali laki-laki lain yang mencoba mendekati Livia menunjukkan wajah ketertarikannya kepada gadis yang dicintainya.


“Awas saja mereka. Aku akan cari tahu dari perusahaan mana mereka.” Bima terus saja menggerutu dengan kesal. Namun wajahnya tetap tenang, dan dingin, karena dia bersiap membunuh dalam tatapan matanya.


“Livia!” ada seseorang yang memanggil Livia dari kejauhan. Bima juga memperhatikan laki-laki bule dengan bola mata biru itu.


Sedikit berlari kecil, pria itu menghampiri Livia dan tanpa sungkan mengecup pipi Livia. Aura pembunuh dapat Livia rasakan dari kejauhan, diam-diam dia melirik Bima yang sudah menggelapkan pandangannya kearahnya, dapat Livia ingat dengan jelas, jika suaminya itu adalah laki-laki pencemburu.

__ADS_1


“Siapa bajingan itu?” tanya Bima dalam hati. Laki-laki itu terlihat sangat akrab dengan kakek Anwar juga paman Samuel. Membuat Bima berpikir yang tidak-tidak.


__ADS_2