OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 52


__ADS_3

Deg! Livia tersentak. Jantungnya berdegup hebat, dalam hatinya ada perasaan takut, namun juga perasaan lega karena akhirnya dia akan bisa mengetahui bagaimana kabar suaminya. “Apa dia baik-baik saja, Kak?”


“Ya. Bima baik-baik saja. Hanya pekerjaannya saja yang sedikit terhambat. Yang membuatnya pulang lebih lama dari jadwal yang sudah ditentukan.”


“Syukurlah, Kak. Aku tenang jika dia baik-baik saja.” Livia menghembuskan nafas leganya.


“Tapi . . .”


“Kenapa, Kak?” perasaan cemas kembali hinggap dihatinya.


“Aku tak tahu apa ini alasan Bima tidak menghubungimu sama sekali.”


“Kenapa, Kak? Katakan semuanya padaku.” Livia sudah terlanjur penasaran.


“Apa kamu tahu jika Bima pergi bersama sekretarisnya?”


“Ya, Kak. Aku tahu itu.”


“Kamu tidak menaruh curiga?”


“Tidak, Kak. Aku percaya pada Bima.”


“Maka harusnya kamu juga tahu jika Bima dan sekretarisnya memakai ruang yang sama untuk sementara tinggal di Singapura.”

__ADS_1


“Apa?!” Livia terkejut. Tiba-tiba kepalanya terasa berat, dan pandangannya menjadi berputar. Livia pingsan.


Rendra langsung berlari menghampiri Livia, saat dia mencoba memanggil-manggil Livia dan tidak ada jawaban dari gadis itu, Rendra menggendongnya dan membawanya kerumah sakit. Tentu saja seisi kantor gempar karena direktur mereka tiba-tiba jatuh pingsan. Namun sebelum membawa Livia masuk kedalam mobil, Rendra berpesan kepada sekretaris sementara Livia untuk merahasiakan ini kepada kakek Anwar, dia takut jika kakek Livia akan terkejut dan mempengaruhi kesehatan jantungnya.


Sesampainya di rumah sakit, Livia ditangani oleh dokter IGD, beberapa saat kemudian, dokter keluar dan menemui Rendra.


“Apa Anda suaminya?”


“Bukan, Dok. Saya kakak iparnya. Bagaimana keadaan adik saya?” tanya Rendra penuh khawatir.


“Adik ipar Anda baik-baik saja. Hanya saja saat hamil muda biasanya memang mempengaruhi kondisi tubuh dan batinnya.”


“Apa, Dok? Hamil? Livia hamil?”


“Apa adik saya sudah sadar, Dok?”


“Sudah. Anda bisa menemuinya. Dan setelah mengurus pembayaran, Anda bisa membawanya pulang.”


“Terimakasih, Dok.” Setelah itu Rendra masuk dan menemui Livia. Perlahan Rendra membuka tirai penutup, ia menyaksikan Livia membelai perutnya dengan sedih.


“Kenapa kamu sedih? Harusnya kamu merasa senang, kan?” Rendra iba dan tak tega untuk memprovokasi lanjut Livia.


Rendra sendiri merasa aneh, harusnya dia bahagia melihat pernikahan Bima dan Livia di ujung tanduk, tapi saat melihat ekspresi sedih Livia, Rendra merasa telah bersalah. Hatinya terasa sakit saat melihat orang yang dicintainya bersedih dan merana.

__ADS_1


“Harusnya aku tak membiarkanmu merasakan sedih seperti ini, Livi.” Ucap Rendra dalam hati.


“Jangan sampai Bima tahu jika aku hamil, Kak.”


“Hah? Kenapa?”


“Aku ingin memastikan terlebih dulu, apakah Bima benar-benar mengkhianatiku. Jika dia melakukannya, aku tak akan membiarkannya bertemu dengan anak ini, selamanya.” Tekad Livia begitu kuat.


Selama dia menunggu dokter berbincang dengan Rendra, dia sudah memikirkan langkah apa yang akan ditempuhnya. Livia sudah pernah merasakan menjadi seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, maka dari itu, jika Bima benar-benar menghianatinya, dia berjanji tidak akan membiarkan anaknya merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan, karena saat dia sudah kehilangan kepercayaannya akan sebuah pernikahan, maka dia akan meninggalkan Bima.


Getarannya sebagai calon seorang ibu yang membuatnya semakin kuat, Livia dapat menyisihkan traumanya akan masa kecilnya yang menyedihkan, dan berjanji akan membahagiakan anak yang ada dalam kandungannya, bagaimanapun juga. Jika Bima benar-benar melakukan kesalahan itu, Livia tidak akan membiarkan anaknya mengetahui siapa dan bagaimana ayahnya, agar anaknya kelak tidak merasakan hal yang sama dengannya.


“Lalu, bagaimana jika Bima benar-benar melakukannya?”


“Aku akan berpisah dengannya, Kak.” Jawab Livia sambil tersenyum memandang kakak iparnya itu. Rendra jelas melihat senyuman yang dipaksakan keluar dari bibir merahnya. Senyum itu menampakkan luka.


“Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”


“Bisa mengantarku ke Singapura besok, Kak?”


“Tunggu! Tubuhmu masih belum sehat. Istirahatlah dulu.”


“Tidak, Kak. Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku harus mendapatkan kepastian.”

__ADS_1


__ADS_2