OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 33


__ADS_3

Untung saja sekarang Bima sudah mempunyai Livia sebagai istrinya, namun kakek Galih mulai mencemaskan jika Rendra berulah. Cucu pertamanya itu mempunyai tekad yang sangat kuat untuk mendapatkan apa yang ingin dimilikinya.


Namun keesokan harinya, Rendra menuruti permintaan kakeknya untuk kembali ke Bali. Tak dipungkiri ada perasaan lega karena mengira Rendra mundur mengejar Livia. Namun tanpa siapapun sadari, jika cucu pertama keluarga Mahardika tersebut sedang menyusun rencana untuk mencuri hati Livia dari Bima.


“Pagi.” Sapa Bima dengan sebuah kecupan ringan dikening istrinya.


“Hmmm.” Jawab Livia singkat sambil mengencangkan seluruh tubuhnya yang terasa kaku.


“Bagaimana kalau kita jalan-jalan setelah sarapan?”


“Aku harus kekantor sebentar, Bim. Ada peluncuran produk baru hari ini.” Jawab Livia dengan tetap menutup matanya yang terasa berat.


“Bukankah kamu masih cuti?”


“Masih. Minggu depan baru masuk kerja.”


“Jadi biarkan saja mereka yang ada dikantor untuk menghandel semua pekerjaan itu.”


“Tak bisa. Ini produk eksklusif dari kantorku. Aku harus datang untuk memantaunya.”


“Bagaimana kalau kita nonton setelah kamu pulang dari kantor?”


“Boleh. Tapi biarkan aku tidur 10 menit lagi.”

__ADS_1


“Apa tadi kamu bilang jam berapa akan kekantor?”


“Peluncuran produknya jam 10 pagi.”


“Kurasa kamu harus bangun sekarang, Sayang. Karena ini sudah jam 9.25.”


“Apa!!!!!” Livia langsung membelalakkan matanya. Dia menatap jam dinding yang benar-benar menunjukkan waktu yang disebutkan oleh suaminya. Livia langsung meloncat dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Saat dia keluar dari kamar mandi, Livia melihat Bima sudah bersiap-siap. “Kamu mau kemana?”


“Aku akan mengantarmu.”


“Tidak mandi dulu?”


Livia memakai kemeja berwarna putih gading dan rok pendek berwarna merah terang. Dengan terampil dia memoleskan make-up kewajah cantiknya. Livia kali ini memakai anting perak yang menjuntai indah kebawah, tak lupa dia memakaikan anting kecil pada tindikan atas telinganya.


Livia memakai sepatu hak tingginya yang menjuntai mutiara indah di beberapa sisinya, berkat sepatu tinggi itu, tubuh Livia terbentuk sempurna, menunjukkan lengkungan seksi pinggulnya.


“Emmmm . . . bukannya itu terlalu seksi, Livi?”


“Apa? Bajuku? Tidak ini biasa saja. Aku biasa memakai baju seperti ini.”


“Tapi . . . bramu sedikit terlihat.” Ucap Bima sambil memfokuskan pandangannya.

__ADS_1


“Baju ini memang didesign seperti itu, Bim. Pun tidak terlalu jelas betul, hanya samar-samar, kan?”


“Bagaimana ini?” tanya Bima.


“Ada apa?” tanya Livia khawatir. “Kamu kurang sehat? Aku bisa berangkat sendiri.”


“Tidak, bukan itu.” Bima menggigit ujung bibirnya, “Aku tak suka kamu memakai baju seperti itu.”


“Tak ada yang salah dengan bajuku, Bim.”


“Bagaimana tidak ada yang salah. Rasanya aku ingin memakanmu sekarang juga karena kamu begitu seksi.” Bima mendekati Livia dan memeluknya dengan paksa langsung mencium bibir merah itu.


“Bim! Nanti make-up ku rusak.”


“Biarkan rusak. Dengan begitu kamu tak akan kemana-mana hari ini.”


“Bima! Lepaskan!” Livia sedikit membentak suaminya.


“Aku akan berbicara serius padamu tentang kebutuhanmu yang satu ini. Sekarang antarkan aku dulu kekantor. Ok?”


“Baiklah.” Bima mengalah. Pria tampan itu melepas jasnya, “Tapi tolong pakai ini untuk menutupinya. Jujur aku tak suka jika laki-laki lain sampai melihatnya.”


“Baiklahhhh, Tuan.” Jawab Livia lelah.

__ADS_1


Bima mengantarkan Livia sampai kedalam ruang pertemuan. Banyak mata yang memandang keduanya. Dulu mereka selalu mengira jika Livia sangat cocok dengan Andra, kali ini pikiran mereka berubah. Livia begitu serasi dengan suaminya.


__ADS_2