
*Rumah utama keluarga Mahardika*
Sesampainya dirumah, Livia tidak mampu menahan rasa kantuk dan lelah yang menderanya. Livia memutuskan untuk tidak menghadiri makan bersama kedua keluarga besar dan memilih untuk tidur dikamar Bima. Jadi hanya Bima yang ikut bergabung dalam makan siang itu.
“Apa yang kamu lakukan kepada cucuku, Bim! Kenapa Livia bisa selelah itu?” kakek Anwar memarahi cucu menantunya dan menyudahi makannya.
“Apa yang kamu risaukan, War. Mereka berdua sudah menikah, apalagi memangnya? Kaya belum pernah muda saja.” Sergah kakek Galih.
“Tapi, tapi kan . . .”
“Ssssttt! Sudah jangan berisik ikut campur urusan anak muda. Katanya mau cepat menimang cicit?” tambah kakek Galih.
“Tapi jangan sebrutal itu juga kali. Kasihan cucuku.” Gumam kakek Anwar.
Semua keluarga tertawa karena mendengar gumaman kakek Anwar yang sedang mengkhawatirkan cucunya.
“Maafkan Bima, Kek. Mungkin semalam Bima memang sedikit kelewatan.” Jawabnya sambil sedikit terkekeh.
“Apanya yang mungkin? Kamu pasti sengaja.” Kakek Anwar masih belum meredakan emosinya. Namun perasaan marahnya tidak berlangsung lama, karena sekarang dia bersyukur Livia sudah menikah dengan seseorang dari keluarga yang dikenalnya. Paling tidak jika dirinya meninggal, akan ada seseorang yang terus berada disisi cucunya.
“Setelah ini berarti giliranmu, Rendra.” Kali ini kakek Galih menargetkan cucu pertamanya.
“Betul, Rend. Kamu harus segera menyusul Bima.” Tambah kakek Anwar.
“Rendra sedang mengejar seorang gadis, Kek. Rendra belum bisa menemukannya.”
__ADS_1
“Apa itu juga yang membuatmu tidak bisa datang kepesta pernikahan adikmu kemarin?” tanya kakek Galih.
Rendra hanya mengangguk dan tersenyum sambil tetap menyuapkan makanan kemulutnya.
“Kenapa kamu masih belum bisa mendapatkannya, Kak?” tanya Bima yang sedari tadi hanya mendengarkan dengan tenang.
“Aku hanya bertemu dengannya dua kali. Tapi aku lupa menanyakan namanya.”
“Kau langsung mengejarnya?” tanya Bima penasaran.
“Kurasa aku suka padanya.”
“Pastikan dulu rasa sukamu itu masuk ke jenis apa, Rend. Jangan sampai kamu salah melangkah.” Kakek Anwar memberikan saran.
“Kurasa aku mencintainya, Kek.” Jawab Rendra dengan senyumnya. Kali ini wajah laki-laki 32 tahun itu terlihat sangat berseri. Wajahnya tak kalah tampan dari adiknya.
Setelah makan siang bersama, kakek Anwar memilih untuk pulang terlebih dahulu karena tidak mau mengganggu istirahat cucu kesayangannya itu. Di ikuti beberapa keluarga dari pihak kakek Galih dan juga Paman Samuel, mereka semua memilih untuk berpamitan. Tersisa kakek Galih, Rendra, Bima, dan Livia yang masih tertidur dikamarnya.
Kakek Galih masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, menyisakan Bima dan kakaknya diteras samping rumah.
“Sudah lama, Kak, kau tak pulang.”
“Benar, Bim. Ini kalau bukan karena pernikahanmu, aku rasa aku akan tetap berada di Bali.”
“Bagaimana dengan tawaranku tempo lalu, Kak?” tanya Bima dengan suara beratnya.
__ADS_1
“Maksudmu, kembali bergabung keperusahaan?”
Bima mengangguk pelan, “Sudah waktunya, Kak, untuk kembali.”
“Tidak, Bim. Aku sudah menyerahkan semua ahli waris utama padamu. Aku tidak ingin berkutat dengan pekerjaan yang membelengguku disuatu ruangan. Aku menyukai kebebasan.”
“Apakah melukis itu menyenangkan?”
“Tentu saja, Bim.” Rendra tiba-tiba saja teringat lukisan gadis yang selama ini dicarinya. Dengan detail Rendra melukis wajah gadis yang hanya dia temui dua kali saja itu. Kakak Bima itu tiba-tiba tersenyum sendiri, dan hal itu membuat adiknya kebingungan.
“Kenapa, Kak? Apa kau sudah mulai gila?”
“Kurasa aku memang mulai gila.” Lagi-lagi Rendra tersenyum.
“Karena perempuan itu?”
Rendra tersenyum, “Ya. Karena aku teringat dengannya.”
“Memangnya pertemuan kalian seperti apa? Kenapa bisa kamu menjadi seperti ini, Kak?”
“Pertemuan kami biasa saja. Hanya saja, saat aku melihat kedua matanya yang tersenyum padaku, saat itulah aku berfikir jika dia orangnya.”
“Perasaan memang susah ditebak. Kalau begitu, kita lanjutkan obrolan kita lain kali, Kak. Sebelum istriku bangun, aku akan ke kantor sebentar.” Bima berdiri dari duduknya.
“Siapa nama istrimu?”
__ADS_1
“Livi, Kak. Livia namanya.”
“Oh! Ok.” Rendra belum bertemu dengan adik iparnya itu.