
“Satu kopi pahit dan . . . Kak Rendra mau apa?”
“Satu kopi panas saja, dan jangan lupa kasih gula.”
“Baik, Pak.” Kata pelayan bagian dapur kantin.
“Kamu suka kopi pahit ternyata, Livi.” Rendra memulai obrolannya saat mereka sudah duduk berhadapan.
“Aku harus sering terjaga saat pekerjaanku cukup banyak, Kak. Dan kopi pahit membantuku untuk itu. Oh, iya. Kenapa Kakak ada dikantorku? Bukankah Kak Rendra kembali ke Bali hari ini?”
“Aku menunda kepergianku. Ada salah satu galeri seni yang menghubungiku dan memintaku untuk menjadi pembimbing seni lukis digaleri mereka.”
“Galeri mana, Kak.”
“The Art God Gallery.”
“Galeri bagus itu. Kapan Kak Rendra akan mulai kelasnya?”
“Mereka akan memberikan kabar selanjutnya. Ini hanya pekerjaan freelance aja sih.”
“Jadi Kak Rendra akan tinggal di Jakarta?”
“Kalau ada hari kosong panjang, aku bisa kembali ke Bali.”
“Permisi, Bu Livia.” Salah satu karyawan mendatangi meja Livia dan Rendra. “Mohon koreksinya, Bu. Untuk perekrutan sekretaris baru Ibu.”
“Apa sudah ada kabar dari kuasa hukum kita, Cita?”
“Sudah, Bu. Mereka sudah dalam proses hukum di kepolisian.”
“Bagus. Ini juga sudah sesuai.” Livia mengembalikan smart tablet yang tadi diserahkan oleh Cita.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi, Bu.” Livia menjawabnya dengan anggukan kecil.
“Kamu cari sekretaris baru, Livi?”
Livia mengangguk sambil mengecek pesan yang dikirimkan oleh kuasa hukum perusahaannya.
“Kenapa?”
“Karena dia punya perasaan padaku, Kak.” Jawab Livia enteng.
Rendra terpukau dengan kejujuran gadis cantik dihadapannya itu, “Dan kamu tidak menyukainya?”
“Aku hanya merasa terganggu karena ternyata dia mempunyai perasaan seperti itu. Dan sepertinya akan sulit bekerja sama untuk kedepannya. Lagi pula jika Bima tahu, mungkin dia juga akan marah.”
“Apa yang tidak kuketahui?” tiba-tiba suara Bima muncul dari belakang Livia, “Dan kenapa Kak Rendra ada disini?” tanyanya dengan sengit.
“Aku hanya sedang ingin mampir saja sambil bertanya tentang galeri pada adik iparku. Apa itu salah?”
“Aku tak jadi kembali ke Bali, Bim.” Rendra berdiri dan berhadapan dengan Bima. “Aku akan tetap berada disini. Jadi biasakan dirimu.” Rendra menepuk bahu adiknya.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Livi.”
“Ya, Kak, hati-hati, dan terimakasih banyak atas bantuannya.” Ucap Livia dengan senyum tulusnya.
“Sama-sama.” Rendra meninggalkan sepasang suami istri itu.
“Apa itu tadi? Hati-hati? Kenapa kamu memberikan perhatian pada Kak Rendra?” todong Bima saat dia menggantikan duduk ditempat Rendra.
“Aku hanya bersikap baik, Bim. Bukannya dia kakakmu? Sudah seharusnya kan aku berbuat baik kepada keluarga.”
“Tidak dengan Rendra. Jauhi dia Livia.”
__ADS_1
“Dia sudah menolongku, Bim. Sudah ah! Jangan marah.”
“Menolong? Karena video live yang beredar itu?”
“Kamu tahu?”
“Aku tahu saat sedang perjalanan kesini. Tapi saat aku meminta orangku untuk mencari keberadaan penyebar video itu, dia mengatakan jika masalah itu sudah ditangani.”
“Kak Rendra yang membantu.”
“Dia?” Bima terheran-heran. Karena yang selama ini dia tahu jika kakaknya hanya pandai melukis.
“Betul. Kak Rendra yang menemukan tersangka itu. Aku punya rencana untuk merekrutnya masuk kedalam tim IT perusahaanku. Bagaimana menurutmu?”
“Tidak! Jangan! Aku menolaknya.”
“Kenapa?”
“Ya . . . karena . . .” Bima harus memutar otaknya untuk mencari alasan, “Tadi Kak Rendra bilang datang karena ingin bertanya tentang galeri?”
“Betul. Kak Rendra diminta untuk menjadi pembimbing dalam kelas seni melukis.”
“Nah! Karena Kak Rendra pasti akan sangat sibuk, jadi jangan. Hubungan saja ketua Tim IT kita, biar mereka bisa saling membantu jika ada masalah.”
“Ide bagus.”
Wajah Bima langsung sumringah karena Livia menerima sarannya. Dan juga dia memastikan jika kakaknya harus jauh-jauh dari istrinya. Masih menjadi sebuah pertanyaan, kenapa kakaknya harus mendatangi Livia jika hanya untuk sekedar menanyakan tentang galeri.
“Sudah selesai? Ayo kita pulang.”
“Aku akan keruanganku sebentar.”
__ADS_1
Bima mengekor dibelakang Livia. Dengan tegap dia mengawal Livia sampai kedalam ruangannya.