
“Terimakasih, Livia. Terimakasih, Sayang.” Dia melepaskan pelukannya dan mencium kembali istrinya. Perasaannya begitu bahagia karena akhirnya Livia menyatakan cinta padanya, pernyataan yang dia tunggu-tunggu selama ini.
Bima mengangkat Livia dengan mudah dan menggendongnya naik kelantai atas. Tanpa melepas ciuman mereka, Bima menurunkan Livia keatas ranjang dengan hati-hati.
“Katakan itu lagi padaku.” Pinta Bima.
“Aku mencintaimu.” Bisik Livia. Bisikan Livia dengan mudah membakar gairah yang tersimpan didalam diri Bima.
Tak butuh waktu lama, Bima berhasil melepaskan semua kain yang menempel ditubuh Livia. Malam ini adalah hubungan pertama mereka dengan perasaan cinta yang sama.
Keduanya begitu memburu dan menggebu-gebu, keringat membasahi seluruh tubuh, kamar yang sepi sudah dipenuhi suara ******* kenikmatan.
“Ahhh! Bima!” teriak Livia saat Bima semakin keras padanya.
“Lagi. Katakan lagi padaku, Livia. Katakan jika kamu mencintaiku.”
Ditengah hembusan nafas yang berat dan pikiran melayang, Livia mengumpulkan kekuatannya untuk berkata, “Aku mencintaimu, Bima. Aku sangat mencintaimu.”
Setelah pernyataan yang kesekian kalinya, Bima memacu tubuhnya dengan cepat dan mereka melenguh bersama dipuncak kenikmatan dunia.
***
“Semuanya sudah lengkap?” tanya Livia sambil menata keperluan Bima yang akan dia bawa selama bekerja diluar.
“Tidurlah. Aku bisa mengerjakannya sendiri.” Pinta Bima.
__ADS_1
“Aku tak apa-apa.”
“Tapi kamu terlihat sangat kelelahan. Maafkan aku. Harusnya semalam aku tak menggila.” Bima memeluk istrinya dari belakang.
Livia tersenyum melihat Bima yang membuat ekspresi penyesalan, “Anggap saja itu ganti selama seminggu kita tak bertemu.”
“Aku merasa khawatir dengan diriku. Aku takut akan sangat merindukanmu, dan berlari pulang menemuimu.”
“Jangan lebai, ah! Cepat bersiap.”
Bima memeluk istrinya dari belakang, “Bagaimana jika kamu ikut saja denganku, hm? Mau ya?” rengek Bima.
Livia membalik badannya dan sekarang dia berhadapan dengan Bima, menangkup kedua pipi suaminya dan berkata, “Cepatlah bersiap. Nanti kamu telat ke bandara.”
“Kalau begitu berjanjilah padaku.”
“Apa itu?”
“Selama aku pergi, pulanglah kerumah utama Admaja. Kakek Anwar pasti sangat senang jika kamu menginap.”
“Aku akan menyibukkan diri selama kamu pergi, jadi tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja.”
“Jauhi Kak Rendra.”
“Kak Rendra tak pernah mendatangiku.”
__ADS_1
“Tapi dia masih menghubungimu untu menanyakan kabarmu.”
“Dia kakakmu, jadi dia juga kakakku. Pasti dia sudah menganggapku sebagai adik perempuannya yang cantik.”
“Kamu memang sangat cantik.” Bima mengecup Livia dan bertahan beberapa detik, “Dan ingatlah, kamu milikku.”
“Aku milikmu.” Livia membalas kecupan itu.
“Tapi, bisakah aku meminta satu hal? Hanya satu saja yang aku inginkan darimu.”
“Apa itu?”
“Kesetiaan. Aku ingin kesetiaan darimu, Bim. Kamu sudah tahu bagaimana kisah masa laluku. Jadi jangan pernah menghianati kepercayaanku.”
“Aku akan pastikan itu padamu.”
“Terimakasih karena telah menyanggupinya. Karena satu yang pasti. Jika kamu menghianatiku, sekali saja, maka aku tak akan berfikir untuk kedua kalinya untuk pergi meninggalkanmu. Aku pastikan itu, Bima.”
Bayangan Livia yang akan meninggalkannya membuatnya bergidik ketakutan, nafasnya tiba-tiba terasa sesak dan perasaan tak nyaman memenuhi relung hatinya, Bima memeluk Livia dengan erat, “Jangan mengatakan itu, Livi. Aku mohon, jangan pernah katakan jika kamu akan meninggalkanku. Aku tak akan mampu hidup tanpamu.”
“Aku percaya padamu. Jadi, sekarang bersiaplah karena waktunya sudah semakin mepet.”
“Kamu yakin tidak apa-apa sendirian dirumah?” tanya Bima lagi mencoba meyakinkan dan membujuk Livia. Livia mengangguk tanda bahwa ia akan baik-baik saja.
Bima memandangi istrinya dengan sayang untuk beberapa saat, lalu dia melepaskan pelukannya, “Baiklah, karena istriku bilang jika ia akan baik-baik saja, maka aku bisa tenang dan bisa pergi sekarang.”
__ADS_1