OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 60


__ADS_3

“Silahkan duduk.” Livia mempersilahkan Bima duduk disofa yang sederhana, namun tak kalah empuk dari sofa yang ada dirumah lama mereka.


“Bagaimana kabarmu?” Bima bertanya dengan hati yang berdebar-debar.


“Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Bisakah kita langsung ke intinya? Aku takut Arya mencariku nanti."


Bima mulai menjelaskan awal kesalah pahamannya. Bima menjelaskan jika sebenarnya ia menempatkan satu orang untuk selalu menjaga Livia secara diam-diam, namun ternyata Tari mengetahuinya saat orang suruhan itu menemui Bima dikantor. Tari mengiming-imingi dengan bayaran lebih jika dia berhasil memecah belah Bima dan Livia.


Bima juga mengatakan jika dia tersadar akan kesalahannya dari perkataan Rendra yang ia ucapkan saat akan pergi dari hotel kala itu. Setelah itu Bima mencari tahu semua kebenarannya dan mendapati jika semuanya adalah rekayasa Tari. Termasuk saat Tari mengatakan jika Bima telah menyentuhnya, ternyata Tari masih perawan saat akhirnya dibawa oleh Bima untuk melakukan tes kerumah sakit. Setelah memastikan semuanya dan mendapatkan bukti, Bima langsung mencari keberadaan Livia. Namun semuanya terlambat karena keberadaan Livia dan Rendra bak hilang ditelan bumi.

__ADS_1


“Aku tahu jika akan sangat sulit untuk memaafkanku, aku bersalah. Tapi, aku akan tetap memohon padamu untuk memaafkanku, Livia. Aku tak bisa kehilangan dirimu lagi.”


Bima mencoba sedikit mendekat kearah Livia, “Sejak aku mendapatkan surat pengajuan perceraian dari Paman Samuel, duniaku serasa runtuh saat itu juga. Dan aku meyakini jika sakit hatimu pasti sangat dalam saat aku mengatakan hal buruk tentangmu.” Bima mendekati Livia dan berlutut dihadapan istrinya, “Aku tahu jika suatu saat aku akan menemukanmu, maka dari itu aku terus mempertahankan status kita. Kamu masih istriku, Livi. Kamu adalah milikku. Aku mencintaimu.”


“Aku tak bisa kembali padamu, Bim.”


Livia merasa sesak dihatinya, ada rasa haru yang memenuhi relung hatinya, air mata akhirnya kembali menetes membasahi wajah cantik itu, penambahan usia tak membuat kecantikan Livia luntur. Bima memandang kedua mata cantik itu dengan perasaan penuh haru, dengan pelan dia mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh perempuan yang selama ini dirindukannya.


Tangisan pecah saat Bima memeluk tubuh Livia dengan sempurna, kedua insan itu melepaskan rindu yang selama ini terasa berat. Ada kedamaian yang meliputi hati keduanya. Perasaan Bima dipenuhi oleh rasa syukur karena dia akhirnya bisa menemukan kembali belahan jiwanya.

__ADS_1


Setelah tangisan Livia sedikit mereda, Bima sedikit mengendurkan pelukannya dan bertanya sambil memandang lurus kearah kedua mata Livia. “Jadi . . . apa Arya adalah anakku?” tanya Bima dengan hati-hati. Ada sedikit ketakutan jika Arya bukan buah cinta mereka, karena paman Samuel pernah mengatakan jika Livia telah kehilangan janinnya.


Sambil tersenyum, Livia mengangguk. “Ya, Bim. Dia buah hati kita.”


Perasaan memuncah tak dapat lagi Bima gambarkan, betapa bahagianya dia, senyumnya melebar karena perasaan lega, “Oh, my Livia.” Bima akhirnya mencium bibir merah itu setelah sekian lama. Mereka membalaskan semua perasaan yang sempat tertunda. Bima ******* habis bibir merah Livia. Saat ciuman mereka semakin dalam, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Livia. Pintu itu langsung dibuka saat Bima dan Livia belum sempat melepaskan pelukan mereka.


“Tolong hentikan dulu untuk saat ini kegiatan kalian, ada yang sedang menangis mencarimu.” Ucap Clara pada Livia.


Dibelakang Clara menyusul Rendra yang menggendong Arya dibelakang. Bocah kecil itu terlihat habis menangis, “Bundaaa, kenapa tidak menjemput Arya, huaaaaa!” tangis Arya pecah lagi.

__ADS_1


__ADS_2