
Senyum lebar mengembang diwajah pria tampan itu, “Apa kamu benar-benar memaafkanku?”
“Berjanjilah dulu padaku.”
“Ya, aku berjanji!” jawab Bima dengan semangat.
“Kalau begitu masalah kita sudah selesai, ayo kita pulang. Ini sudah larut malam.”
“Tunggu!” cegah Bima.
“Aku sudah membayar kamar ini, jadi bisakah kita bermalam disini saja hari ini?”
“Aku tidak bawa baju ganti, Bim. Jadi ayo pulang saja.”
“Itu tidak masalah, Sayang. Karena kamu tidak akan memerlukan baju pengganti.”
“Apa? Apa maksudmu?” tanya Livia dengan ngeri.
__ADS_1
“Karena aku ingin mengambil hadiahku sekarang juga. Aku tidak bisa menerima pengunduran waktu lagi.” Bima dengan mudah mengangkat tubuh istrinya.
“Tunggu! Tunggu, Bima. Bolehkah aku mandi dulu?” Livia mencoba mengulur waktu. Entah kenapa dia merasakan jika malam ini akan menjadi malam yang melelahkan untuknya.
“Mandi? Ide bagus.”
Livia tersenyum lega mendapat persetujuan dari Bima, “Baiklah kalau begitu, bisakah turunkan aku sekarang? Aku akan membersihkan badanku dulu.”
“Kenapa harus menurunkanmu?”
“Hah? Apa?”
“Oh, tidak!” Livia berteriak dalam hati. Mau bagaimanapun caranya, dia tidak pernah bisa lepas dari cengkraman binatang buas berstatus suaminya itu. Livia hanya mampu menyiapkan hati dan tubuhnya, karena hanya dalam hitungan menit, ia tahu jika Bima akan berkuasa atas tubuhnya.
***
Pernikahan Livia dan Bima sudah berjalan selama enam bulan, dan selama itu tidak pernah seharipun Bima melepaskan istrinya dari pandangannya. Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu dipesta Mahardika Group, Bima lebih protektif untuk menjaga Livia. Dia juga semakin posesif karena melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kepopuleran Livia. Banyak laki-laki lain yang mengambil kesempatan untuk mendekati istrinya saat ia tidak berada didekat Livia. Namun, sekarang Bima sedikit lebih santai, karena berhasil membuat sekretaris Livia untuk menjadi mata-matanya, jadi jika ada laki-laki lain yang berusaha untuk mendekati istrinya, sekretarisnya itu akan berusaha menjauhkan Livia dari pria brengsek manapun.
__ADS_1
Bima juga tidak melihat pergerakan Rendra lagi, hanya sesekali mendapatkan laporan jika Rendra berkunjung kekantor Livia, namun jarang bisa bertemu karena tentu saja, sekretaris Livia tidak melaporkan kehadiran Rendra pada pimpinannya itu.
Hari yang tenang, dihari minggu ini Livia dan Bima sepakat untuk menghabiskan waktu dirumah. Pagi ini setelah sarapan, keduanya duduk bersama diruang tengah untuk menonton berita bersama. Hari minggu itu mereka lalui dengan bersantai sambil menikmati kebersamaan.
Livia menyiapkan camilan yang telah mereka beli dimalam sebelumnya. Kini Livia sudah terbiasa dengan sikap manja dari Bima Dwi Mahardika. Sampai saat ini saja, terkadang Livia masih tidak percaya jika laki-laki yang terkenal dengan aura intimidasinya bisa takhluk padanya.
Malamnya, Bima dan Livia kembali duduk bersama disofa ruang tengah setelah mereka makan malam bersama. Malam ini Livia ingin menonton film romantis, jadi Bima menemaninya. Ditemani film romantis yang memancarkan aura keintiman yang penuh dengan gairah, dan juga lampu ruang yang remang-remang menambah suasana yang bisa dengan mudah memicu sebuah pergulatan panas. Tentu saja Bima sudah menahannya sejak tadi, karena ia ingin pujaan hatinya menikmati waktu istirahat bersamanya tanpa harus kelelahan.
“Besok aku harus keluar negeri.” Bima mengawali obrolan mereka.
“Berapa lama?”
“Satu minggu. Aku khawatir denganmu. Bagaimana jika kamu ikut saja denganku. Nanti sekalian kita bisa bulan madu. Kita belum bisa melaksanakan bulan madu kita karena pekerjaan kita yang padat.” Sesal Bima.
“Kita sudah seperti bulan madu, hampir seeeetiap harinya, Bim.” Jelas Livia.
Bima tersipu malu, “Tapi kan kita hanya berada dirumah saja. Bagaimana? Ikut ya!”
__ADS_1
“Aku pimpinan utama sekarang, Bim. Bagaimana bisa aku seenak hati meninggalkan pekerjaanku? Aku punya tanggung jawab besar sekarang.”