
Semua orang tahu jika Bima adalah pemimpin bertangan dingin, dengan sorot matanya yang sepekat malam, jarang ada seseorang yang tidak merasa terintimidasi hanya dengan berdekatan dengannya, tapi siapa disangka, jika ada sifat Bima yang bertolak belakang jika berada didekat Livia. Entah sejak kapan laki-laki berusia 29 tahun itu selalu bermanja-manja dan tidak pernah menutupi perasaannya, entah itu malu, bahagia, marah, ataupun jika dia sedang cemburu.
Bima melewatkan beberapa hari lagi setelah cutinya habis, dia benar-benar mendampingi Livia saat pemilihan sekretaris, dan akhirnya dia tersenyum puas saat Livia memilih seorang perempuan untuk menjadi sekretarisnya.
“Sudah puas, Tuan?” tanya Livia pada suaminya. Livia dan Bima kembali keruangan direktur setelah selesai ikut dalam seleksi sekretaris baru.
“Sangat puas, Nyonya.” Bima mengangguk-anggukan kepalanya dengan wajah kemenangannya.
“Sekarang pergilah kekantormu. Sudah lebih tiga hari kamu tidak masuk kerja!” usir Livia.
“Seorang direktur punya hak untuk itu, Sayang.” Bima menarik tubuh Livia agar duduk diatas pangkuannya. Kini dia sibuk menciumi leher putih istrinya.
“Geli, Bim!”
“Hmmmm . . . benarkah? Bagaimana kalau begini?” sekarang tangan Bima meremas dada Livia.
__ADS_1
“Cukup! Aku harus bekerja. Sebentar lagi Paman Samuel akan datang. Cepat pergilah kekantor.” Livia mendorong paksa tubuh besar suaminya.
“Tak bisakah sebentar saja? Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Ok?” rengek Bima.
“Tidak!” jawab Livia tegas. “Jika kamu melakukannya, maka aku juga tidak akan bisa mengendalikan diriku. Dan jika aku tidak bisa mengendalikan diriku, maka aku tak yakin bajuku bisa tetap rapi. Lalu bagaimana aku nanti jika harus bertemu dengan Paman?”
“Paman pasti mengerti, kok. Sebentar aja, mau ya?” Bima terus merengek.
“Sudah sana cepat kembali. Kalau tidak, Yuda akan marah-marah lagi padamu. Aku harus bekerja, Bim. Lihatlah!” Livia menunjuk berkas laporan yang menumpuk diatas mejanya.
“Baiklah, kalau begitu.” Bima akhirnya menyerah. “Jangan lupa memberikanku imbalan nanti malam karena aku sudah menurut padamu.”
“Aku pergi dulu. Kabari aku jika ada sesuatu yang kamu perlukan.” Bima mengecup kening istrinya.
“Baik, Tuan.” Jawab Livia dengan senyuman. Dia masih berdiri didepan pintu ruangannya saat melihat Bima memasuki lift dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Livia merasakan rasa nyaman yang teramat tentram saat bersama dengan suaminya. Terlebih sifatnya yang bertolak belakang selama ini, entah kenapa terlihat begitu menggemaskan dimata Livia.
Livia menyentuh dadanya dan merasakan jantungnya berdetak kencang, “Apa aku sudah jatuh cinta padanya?” gumam Livia. Livia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja rasa malu menyerang dirinya, tak pernah ia sangka jika akhirnya ia akan merasakan debaran kepada seorang laki-laki. Hanya dalam waktu satu bulan, Bima berhasil merebut hati Livia.
Tanpa Livia sadari, jika ada dua mata yang memperhatikannya dalam sunyi. Andra diam-diam memperhatikan Livia yang mulai merasakan perasaan jatuh cinta. “Apa ini akhirnya, Liv? Apa aku harus menyerah sekarang?” gumam Andra dengan perasaan yang teramat sakit. “Semoga kamu bahagia Livia, dan tolong jangan membenciku.” Andra memilih untuk mundur dari perasaannya. Karena ia tahu jika sampai kapanpun tak ada perasaan cinta untuknya. Yang terpenting untuk Andra saat ini adalah kebahagiaan Livia.
Sementara itu, Bima telah sampai dikantornya. Bima langsung menuju keruangan yang sudah ditinggalkannya beberapa minggu ini.
“Selamat siang, Pak.” Sapa Tari pada Bima.
“Siang.”
“Apa hari ini jadwal Pak Bima bisa saya alihkan dari jadwal Pak Yuda?” tanya Tari. Selama Bima cuti, semua jadwal Bima dialihkan sepenuhnya kepada Yuda. Hal itulah yang membuat Yuda sering marah-marah karena banyaknya pekerjaan.
“Alihkan saja besok. Hari ini saya mau memeriksa laporan ini saja.” Bima mulai fokus dengan tumpukan laporan dihadapannya.
__ADS_1
“Baik, Pak.” Tari meninggalkan ruangan.
Sepintas Bima memandang penampilan Tari yang sedikit berani. Sekretarisnya itu memakai kemeja dengan kancing yang terbuka cukup banyak, hingga dengan mudah bisa memperlihatkan dadanya, tidak ada masalah pada panjang roknya, rok itu dibawah lututnya, namun belahan yang ada didepannya cukup tinggi. Namun Bima tidak menghiraukannya, setelah melihat sepintas, dia berkonsentrasi lagi pada laporan-laporan yang ada didepannya.