OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 62


__ADS_3

“Apa yang disukai dari kakakku itu?”


“Kak Rendra banyak mempunyai kelebihan, kok. Dia tampan, baik, tinggi besar, pelukis handal, pria yang romantis, dan juga . . .”


“Livi? Apa kamu tahu jika aku sekarang sedang merasa cemburu?”


“Dia kakakmu, Bim.”


“Tetap saja aku tak suka jika kamu memuji laki-laki lain. Hanya aku, tolong hanya lihat aku saja.” Bima menyatukan keningnya dengan kening Livia. “Karena aku tak akan tahan jika ada laki-laki lain yang mendekatimu.”


“Dasar posesif.”


“Itu aku.”


“Pria pencemburu.”


“Itu juga aku, Sayang.” Bima tak tahan lagi dan mencium Livia dengan dalam. Sebenarnya ingin sekali ia menyentuh istrinya kembali, namun Bima berjanji akan melakukannya jika Arya sudah menerimanya sebagai ayahnya.


“Ini sangat menyiksaku.” Bisik Bima saat ia melepaskan ciumannya.

__ADS_1


“Itu hukuman untukmu, Tuan Bima.” Livia tersenyum melihat Bima yang sudah cemberut.


***


Livia pernah bertanya kepada Arya, bagaimana jika Bima juga menjadi ayahnya. Awalnya Arya menolak dengan mengatakan jika ia tidak menyukai Bima. Namun setelah itu Arya akan terus mengoceh tentang senangnya harinya saat bermain bersama Bima, dari situlah Livia bisa mengetahui jika Arya sebenarnya menyayangi Bima.


Sedikit susah mendekati Arya, karena bocah itu selalu waspada. Sudah hampir satu bulan, dengan sabar Bima terus mendekatkan dirinya dengan buah hatinya. Pernah saat Bima membelikan Arya mainan baru, saat merasa ada kesempatan, Bima berusaha mendekati Livia yang duduk tak jauh dari mereka. Namun baru saja Bima ingin memeluk istrinya, ada yang menendang kakinya dari belakang.


“Jangan pernah mencoba, Paman!” Arya mendorong tubuh Bima untuk menjauh dari ibunya. Lalu ia duduk dan memeluk Livia dengan posesif, “Bunda hanya milik Arya!”


Bima tersenyum kecut melihat kopiannya yang sama persis menginginkan Livia. Bima memutar otaknya, mengatur cara bagaimana bisa mendapatkan pengakuan dari bocah kecil itu.


“Kenapa, Sayang?” tanya Livia saat melihat raut wajah Arya yang sendu. “Arya menunggu Paman Bima?”


“Tidak!” jawab Arya bohong.


“Betulkah? Kalau begitu Paman Bima bisa pulang kerumahnya yang ada ditempat jauh.”


“Kenapa, Bunda?” Arya mendekati ibunya dan bersandar pada ibunya.

__ADS_1


“Karena Arya tak suka sama Paman Bima, kan?” tanya Livia.


“Arya hanya . . .”


Tok . . . tok . . . tok . . .


Dengan cepat Arya memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang, “Paman Bima!” seru Arya dengan senang saat melihat Bima masuk kedalam rumah.


Bima berjongkok menyamakan posisinya dengan tinggi Arya, “Arya, jaga Bunda baik-baik, ya.”


“Paman mau kemana?” tanya Arya dengan sendu.


“Paman akan kembali lagi ke Jakarta.” Bima melihat kedua mata Arya mulai berkaca-kaca. Sebenarnya dia tidak tega membuat Arya menangis, tapi ini dilakukannya agar bisa mendapatkan hati anak kecil itu. Sedangkan Livia hanya menyaksikan interaksi kedua ayah dan anak itu dengan senyuman.


“Berjanjilah pada paman untuk menjaga bunda.” Bima mendapatkan anggukan kecil Arya sebagai jawabannya.


“Kalau begitu, Paman Bima pamit, ya.” Bima berdiri dan membalik badannya. Baru saja ingin melangkahkan kakinya, hatinya bergetar saat ada tangan kecil yang menggenggam jarinya.


“Jangan pergi, hiks . . . hiks . . . tetap disini bersama Arya . . . Ayah.”

__ADS_1


Bima terhenyak dan perasaan haru memenuhi relung hatinya. Bima langsung mengangkat dan memeluk tubuh Arya, “Bisa panggil sekali lagi?” pinta Bima.


__ADS_2