OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 17


__ADS_3

Sesampainya dirumah utama, Livia terkejut melihat para pelayan dan beberapa pelayanan tambahan membersihkan seisi rumah. Chef dan asistennya sedang sibuk memasak berbagai menu didapur. Dan beberapa lagi sedang membuat camilan dan kue.


“Kakek akan kedatangan tamu?”


“Keluarga Mahardika akan kesini sore ini.”


“Kakek Galih?”


“Ya, Galih dan cucunya akan kesini.”


“Apa? Untuk apa kakek Galih kesini dengan cucunya. Bukannya biasanya kakek Galih sendirian kesini.”


“Kali ini kedatangan mereka mempunyai arti yang berbeda.”


“Maksud Kakek apa?” Livia berpura-pura menanyakan kejelasannya lagi kepada kakeknya, sebenarnya Livia sudah sedikit mengerti kenapa keluarga Mahardika kesini.


“Dasar anak nakal! Bagaimana bisa kalian akan menikah tanpa melakukan pertemuan keluarga. Bahkan waktu 2 bulan itu tidak akan cukup untuk persiapan pernikahan kalian.”


“Apaaaa!!! Kakek tahu dari mana?”


“Tentu saja dari Galih. Dia saja tahu dari cucunya, kenapa aku saja yang tidak tahu.”


“Tapi kan tidak harus dibesar-besarkan, Kek, pestanya. Bisa yang sederhana saja.” Livia memohon pada kakeknya sembari mengantarkan kakeknya masuk dan berbaring didalam kamar.

__ADS_1


“Mana bisa! Pernikahan kedua penerus utama perusahaan besar di adakan dengan sederhana. Sungguh tidak pantas.” Kakek Anwar bersungut-sungut.


“Sudah-sudah. Kakek jangan marah-marah lagi ya. Nanti jantung Kakek sakit lagi. Sekarang istirahat dulu.”


“Kamu bersiap-siaplah. Rias dirimu dengan cantik.”


“Apa yang perlu dirias, Kek? Bukannya cucu Kakek ini sudah cantik?” Livia mengedipkan matanya.


“Kamu memang cucu kakek yang paling cantik.”


“Livi keluar dulu ya, Kek.” Livia mengecup sayang kening kakeknya itu.


Setelah keluar dari kamar kakeknya, Livia memutuskan untuk pergi sebentar mengunjungi butik langganannya. Bagaimanapun juga ini merupakan pertemuan kedua keluarga, Livia tidak ingin kakeknya malu karena melihat penampilan cucunya yang tidak sesuai.


Setelah mendapatkan dress yang dirasa sesuai, Livia bergegas untuk kembali kerumah utama. Gadis itu tidak pernah datang kesalon untuk merias wajahnya, karena kulitnya yang putih dan wajah yang halus, tidak menyulitkannya untuk mempercantik diri. Livia terbiasa memoles wajahnya senatural mungkin karena gadis itu tidak menyukai make-up yang tebal.


Sore ini Livia hanya menggerai rambut hitam sebahunya, tidak ada aksesoris apapun yang menempel dirambut indahnya. Livia turun kelantai atas setelah asisten rumah tangga memberi tahu jika tamu sudah datang. Saat dia turun kebawah, gadis itu sudah melihat kedua kakek yang sangat dikenalnya juga wajah pria dengan perawakan tinggi besar yang juga duduk disofa yang sama.


“Sore Kakek Galih.” Sapanya sembari memberi salam.


“Sore juga cucu kakek. Sore ini kamu cantik sekali.”


“Apa selama ini Kakek Galih menganggap Livi tidak cantik, hm?” seperti biasa Livia mengeluarkan sifat kekanakannya didepan para kakek itu.

__ADS_1


“Hahahahah . . . tentu saja kamu cantik. Kamu juga bandel. Persis Bima.” Kakek Galih melihat cucunya yang sedari tadi terdiam disebelahnya.


Bima sempat mengobrol sesaat dengan kakek Anwar dan kakeknya, tepat setelah Livia turun kebawah, Bima cenderung pendiam dan hanya memperhatikan saja.


“Sambil menunggu makan malam, bagaimana jika kita minum teh diteras belakang?” tawar kakek Anwar kepada kakek Galih.


“Ide bagus, ide bagus.” Kakek Galih setuju. Mereka berdua meninggalkan kedua muda-mudi itu diruang tamu sendirian.


“Tidak disangka.” Tiba-tiba Bima berbicara.


“Apa?”


“Ternyata kamu sangat akrab dengan kakekku.”


“Tentu saja. Bagaimana tidak, aku sudah bertemu dengan kakek Galih sejak aku kecil.”


“Betulkah? Bagaimana bisa?”


“Maksudnya?”


“Maksudku, bagaimana bisa kamu kenal dengan kakekku tapi tidak kenal dengan keluarga yang lain.”


“Entahlah.” Jawab Livia enteng. “Bagaimana kalau kita masuk keruang kerjaku? Ada sesuatu yang ingin kukatakan.”

__ADS_1


“Tentu.”


__ADS_2