
“Halo cantik. kenapa kamu tidak mengenalkanku pada temanmu?” tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan bola mata berwarna biru menghampiri Intan dan Livia.
“Oh, Justin! Terimakasih sudah mau datang. Dan maaf, insiden barusan.”
“No problem. Tidak masalah. Ngomong-ngomong siapa gadis cantik ini?”
“Dia temanku, Livia.”
“Hai Livia, Justin.” Justin menjabat tangan Livia.
“Halo Justin.” Balas Livia.
“Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua. Selamat bersenang-senang.” Intan pergi untuk menemui temannya yang lainnya.
Justin mendekatkan wajahnya kearah telinga Livia dan berbisik, “Maukah kamu bersamaku malam ini, Baby?”
“Sungguh berterus terang sekali. Tapi maaf, Justin, aku tidak berminat untuk melakukkannya denganmu.”
__ADS_1
“Why? Apa yang salah denganku. Lihatlah!” Justin menunjuk kejantanannya, “Dia bisa membuatmu menjerit berkali-kali hingga lemas, Sayang.”
“Maaf sekali lagi, aku tidak tertarik untuk mencobanya. Permisi.” Livia baru saja melangkahkan kakinya, namun gerakannya terhenti karena Justin dengan sengaja memeluknya.
“Jangan sok suci Livia. Intan saja sudah pernah tidur denganku. Kamu pasti juga sama dengan temanmu itu, kan?”
“Lepaskan tanganmu!” ancam Livia.
“Kalau tidak, memangnya kenapa? Mau main kasar? Aku lebih suka kalau lebih kasar, Sayang.” Bisik Justin terdengar menjijikkan ditelinga Livia.
“Jika tidak, maka aku akan mematahkan sebelah tanganmu, Bro!” Andra tiba-tiba sudah berada tepat dibelakang Livia dan dengan mudah memutar tangan Justin yang memeluk tubuh Livia dengan paksa.
“Aku akan melepaskanmu jika kamu pergi dari sini sekarang.”
“Untuk apa aku harus menuruti . . . awwwww!” Justin berteriak kesakitan karena tangannya sudah dipelintir dengan keras oleh Andra.
“Masih mau mencoba hingga patah?”
__ADS_1
“Ok, ok, aku akan pergi. Lepaskan tanganku!” Justin jatuh tersungkur karena dorongan dari Andra.
Pria blesteran itu pergi dengan terburu-buru meninggalkan pesta dengan tatapan marah kepada Andra dan Livia.
“Kamu tidak apa-apa, Liv? Harusnya kamu tadi langsung teriak dan memanggilku.” Andra terlihat sangat khawatir.
“Aku tidak apa-apa, Ndra. Lagi pula disini sangat ramai. Tidak mungkin dia berani bertindak lebih dari itu.”
“Tidak ada jaminan untuk itu. Lihat saja tadi. Dia berani memelukmu dengan paksa.”
“Sudahlah. Yang penting aku sekarang baik-baik saja. Lebih baik kita lanjutkan bergabung kepesta.”
Andra dan Livia bergabung kedalam pesta yang mulai meriah karena para tamu undangan Intan semakin banyak berdatangan. Dentuman musik yang keras menenggelamkan semuanya kedalam pesta yang semarak. Minuman keras pun menjadi bagian dari pesta yang mulai memanas. Livia hanya bisa mencicipi sedikit karena dilarang keras oleh Andra. Sedangkan laki-laki yang setia berada disekitar Livia itu tidak menyentuh minuman keras agar bisa tetap sadar dan mengamankan teman yang juga merupakan pimpinannya itu.
Jam dua dini hari, dengan susah payah Andra membujuk Livia untuk pulang. Awalnya Livia bersikeras untuk bertahan, namun Andra tak pantang menyerah karena pukul 10 pagi akan ada meeting besar dengan klien penting.
Setelah berhasil membujuk Livia untuk pulang, Andra mengantarkan Livia sampai kedalam rumah. Tak sulit untuk masuk kedalam, karena satpam 24 jam bertugas untuk menjaga kediaman temannya itu. Mereka juga telah mengenal siapa Andra, hal itulah membuatnya mudah membawa Livia untuk masuk.
__ADS_1
Andra perlu membopong tubuh Livia, karena temannya itu sudah tidak sadarkan diri. Sesampainya didalam kamar Livia, dengan hati-hati laki-laki tampan itu meletakkan tubuh Livia diatas tempat tidur. Saat Andra ingin pergi untuk memanggil pembantu agar mengganti baju Livia, tangannya tiba-tiba ditarik dan membuatnya terjatuh keatas tubuh Livia.