
Sejak lama Bima tidak tertarik dengan tubuh gadis manapun kecuali Livia. Bahkan dulu pernah ada gadis yang sudah bertelanjang bulat dihadapannya, namun Bima tak bergeming. Pernah dia merasa takut jika dirinya adalah penyuka sesama. Namun kekhawatirannya terhenti saat pertama kali bertemu dengan Livia, sejak awal dia merasa jika Livia-lah yang dia inginkan.
Keesokan harinya, Bima bekerja lebih keras lagi dibanding hari-hari sebelumnya, tampak wajah lelah mulai mendera wajah manis Tari. Dia tak sempat melancarkan rencananya untuk mendekati Bima, karena saat waktu istirahatnya, Bima selalu bekerja diruang yang berbeda dengannya sekarang.
“Apa yang harus kulakukan untuk mendekati Pak Bima?” pikir Tari sembari menggigiti kukunya. “Aku harus membuatnya membenci Livia dan menjadikannya milikku. Aku sudah cukup bersabar untuk diam selama ini, sekaranglah kesempatan baik yang datang padaku. Kamu harus menjadi milikku, Bima.”
Beberapa menit kemudian, ada pesan gambar yang terkirim ke handphone Tari. Sebelumnya, Bima meminta seseorang untuk selalu menjaga Livia disaat Bima melakukan perjalanan dinasnya, karena sekretaris Livia yang juga merupakan mata-matanya sedang cuti karena kesehatannya yang menurun, namun ternyata diam-diam, Tari juga menemui dan membayar seseorang itu untuk melaporkan hal yang dia temukan pada Tari.
Tari membuka pesan gambar itu dan menampakkan kepuasan didalamnya. Dia melihat Livia sedang bersama laki-laki lain yang wajahnya mirip dengan Bima. Bahkan difoto berikutnya, Livia dan laki-laki itu kedapatan memasuki kamar hotel berdua.
“Ini sangat bagus.” Gumamnya.
“Apa kamu sudah mengirimkannya juga pada Pak Bima?” isi balasan pesan pada seseorang itu.
“Sudah. Dan Pak Bima terlihat sangat marah saat menghubungiku.”
Tari tersenyum senang, akhirnya masa yang ia inginkan selama ini akan segera terwujud. Bima akan segera menjadi miliknya.
Tari mempunyai firasat baik malam ini, jadi dia membersihkan dirinya dan memakai baju tidur se-seksi mungkin. Lewat tengah malam, seseorang memasuki kamar, dan dapat Tari pastikan jika Bima sedikit mabuk malam itu.
__ADS_1
“Pak Bima?” panggil Tari dengan mesra. “Kenapa Bapak begini?” Tari berlari untuk menopang tubuh Bima yang oleng.
“Lepaskan aku!” Bima mencoba mendorong Tari, namun tubuhnya yang sudah tidak bisa berdiri tegak, justru terjatuh kelantai.
“Bapak!” seru Tari melihat Bima terjatuh.
“Livia . . . Livi-ku. Kenapa . . .” Bima meracau memanggil istrinya.
Tari berjongkok didepan tubuh Bima yang terduduk dilantai, “Bima?” panggilnya dengan mesra.
“Livi?”
Bima mencoba memfokuskan kedua matanya yang kabur, dan dia melihat wajah istrinya sedang berada didepannya dan tersenyum manis padanya. “Kamu disini, Sayang?”
“Ya, aku disini.” Tari mendekatkan wajahnya dan mencium Bima. Bima membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Bima berdiri dan mengangkat tubuh Tari dengan sekuat tenaga, membawanya masuk kedalam kamarnya dengan langkah gontai.
***
“Ukh! Kepalaku sakit sekali.” Bima memijat pelipis kepalanya karena terasa nyeri. Lalu dia menoleh karena ada sesuatu yang berat sedang menimpa tubuhnya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan!” teriak Bima saat dia melihat Tari sedang tidur disampingnya tanpa pakaian.
Tari yang terkejut terduduk sambil membungkus tubuhnya dengan selimut. “Pak Bima?” panggil Tari dengan suara yang bergetar.
Bima turun dan memakai celana panjangnya yang terhambur dilantai. “Apa yang kamu lakukan dikamarku, Tari! Lancang kamu!” teriak Bima dengan marah.
“Pak Bima tidak ingat semalam?”
“Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyentuh perempuan lain selain istriku.”
“Tapi semalam Pak Bima telah melakukannya dengan saya. Pak Bima memaksa saya untuk melayani Bapak. Bapak tak ingat? Ini adalah yang pertama kali bagi saya. Saya telah memberikan keperawanan saya pada Bapak.”
“Tidak. itu tidak mungkin!” tolak Bima. Lalu tanpa sengaja matanya tertuju pada noda merah yang berada diatas tempat tidur. Bima terkejut, dia mulai takut jika dia benar-benar telah melakukan hubungan badan selain dengan istrinya.
“Kita bahkan melakukannya diatas meja kerja Pak Bima.” Isak Tari.
“Apa?” Bima membuka pintu kamarnya dan menemukan meja kerjanya yang berada diantara kedua kamar benar-benar berantakan. Semua barang berjatuhan.
“Sekarang keluarlah dari kamarku. Aku perlu mendinginkan kepalaku.”
__ADS_1
Tari turun dari ranjang dengan hati-hati, dan keluar dengan membawa selimut yang masih membalut tubuhnya.