OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 34


__ADS_3

Bima mengikuti acara peluncuran produk kosmetik diperusahaan Livia. Sementara Livia sedang memberikan sambutan di depan, Bima dengan pandangan penuh rasa bangga selalu menatap kepada istrinya. Namun konsentrasinya terusik karena bisikan-bisikan dari meja belakang yang sedang menggosipkan dirinya.


“Eh-eh, denger-denger, suami direktur kita ini impoten kabarnya.”


“Hah? Masa?”


“Iya. Gosipnya sudah menyebar luas, loh.”


“Wah, berarti bu Livia masih perawan dong sampai sekarang. Hihihi.”


“Sayang banget, padahal suaminya sangat tampan. Tapi bu Livia ko mau sih?”


“Ehem! Mulut kalian tidak bisa direm rupanya. Bagaimana jika pak Bima mendengarnya, hah?” tegur Andra tiba-tiba dari arah belakang.


“Apaan sih, Ndra. Bukannya kamu malah seneng ya kalau bu Livia masih perawan? Masih ada celah untuk merebut bu Livia, Ndra. Semangat!”


“Sudah, tutup mulut kalian. Lihat saja didepan.”

__ADS_1


“Cie-cie, yang lagi kesemsem sama gebetannya.” Olok lainnya.


Tanpa mereka sadari, Bima sudah merasa kesal dan dongkol dalam hatinya. “Bisa-bisanya mereka menyebarkan fitnah seperti itu. Dan apa? Gebetan? Jangan harap laki-laki brengsek itu bisa merebut Livia dariku. Mereka tak tahu saja jika Livia sudah takluk dengan keperkasaanku, cih.” Batin Bima.


Ditengah acara, dia mendapatkan pesan dari Yuda. Yuda memintanya untuk menemuinya sebentar dikantor. Setelah Livia kembali ketempat duduknya, Bima memberitahu Livia jika akan pergi sebentar.


“Aku harus kekantor sebentar, Livi. Yuda mengajakku bertemu dikantor.”


“Oh! Baiklah. Hati-hati dijalan.”


“Nanti aku akan menjemputmu.” Bima mengecup mesra kening istrinya. Dapat dia dengar ada teriakan histeris yang tertahan dari belakang meja mereka. Bima berdiri dan sengaja tersenyum sinis kepada Andra saat tatatapan mereka berdua bertemu.


Andra merasakan tatapan sinis dari Bima, namun ia tidak ambil pusing karena Andra masih yakin jika Livia belum tersentuh oleh suaminya.


Ditengah perjalanan, Yuda mengubah pertemuan mereka ke salah satu cafe yang terdapat di Jakarta Selatan. Saat Bima sampai dan mencari keberadaan Yuda, dia menemukan seorang perempuan yang duduk disamping sepupunya itu sambil bercanda gurau.


“Halo, Brother!” sapa Yuda saat dia melihat Bima sudah duduk dikursinya.

__ADS_1


“Kalau tahu jika ini bukan pertemuan penting, aku tidak akan meninggalkan Livia demi datang kesini.”


“Ini juga hal penting, Bim. Perkenalkan cewek cantik disebelahku ini.”


“Halo, Pak. Saya Tari.” Ucap gadis berambut hitam panjang itu.


“Bima.” Jawab Bima singkat.


“Sekretarismu bulan depan akan resign kan, biarkan dia menggantikannya. Tari juga lulusan administrasi perkantoran. Aku juga mengenalnya cukup lama. Kerjanya pasti bagus.”


“Aku berencana mencari sekretaris laki-laki, Yud.”


“Pak, tolong terima saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak. Ekonomi keluarga saya sedang tidak bagus.” Tari ikut dalam obrolan Yudan dan Bima. Saat ia mendengar jika Bima akan mencari laki-laki, Tari turut memohon.


“Iya, Bim. Terima saja Tari.” Bantu Yuda.


Bima memperhatikan sosok Tari sekilas. Disorot mata gadis itu terdapat harapan dan keinginan yang kuat. Sebenarnya Bima ingin tetap mencari sekretaris laki-laki karena tidak ingin istrinya mencurigainya jika dia pulang larut malam karena pekerjaannya. Namun, Bima melihat Tari juga bukan perempuan neko-neko yang menyerahkan tubuhnya untuk mendapatkan pekerjaan darinya. Terlihat dari pakaian yang Tari kenakan, semuanya serba panjang dan tertutup.

__ADS_1


“Baiklah. Besok kamu bisa mulai masuk kekantor dan temui Yuda. Dia akan mengantarmu keruanganku dan bertemu dengan sekretarisku. Belajarlah dengannya selama satu bulan ini.”


“Terimakasih, Pak, terimakasih.” Ucap Tari tulus dan penuh rasa bahagia.


__ADS_2