OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 11


__ADS_3

“Bagaimana keadaan kakek sekarang, Paman?” tanya Livia, setelah dia bisa menguasai perasaannya.


“Tadi kata Pak Hermawan, kakekmu masih berada diruang ICU. Tenanglah Livi, berdoalah agar kakekmu baik-baik saja.”


Livia sangat ketakutan. Dia takut akan kehilangan kakeknya, baginya, hanya kakeknyalah yang selalu ada untuknya. Yang menyayanginya dengan sepenuh hati.


Sesampainya dirumah sakit, keduanya berlari memasuki rumah sakit, didepan lobi, mereka berdua bertemu dengan Pak Hermawan yang sudah selesai mengurus administrasi.


“Pak Hermawan, bagaimana keadaan Pak Anwar?” tanya paman Samuel.


“Pak Anwar sekarang sudah masuk keruang perawatan, Pak.” Jawab laki-laki yang saat ini sudah berusia 51 tahun.


“Ruang sebelah mana, Pak.” Livia juga bertanya.


“Naik saja kelantai 2, dari lift belok kanan, kamar kedua. Ada nama kakek Nona didepan.”


Livia dan paman Samuel mengangguk dan berpamitan agar naik terlebih dahulu. Sesampainya didepan kamar inap kakek Anwar, terlihat dokter dan perawat baru saja keluar.


“Dokter Joseph, bagaimana keadaan kakek?” tanya Livia kepada dokter yang sudah lama menangani kesehatan kakeknya.


“Tidak terlalu bagus, Livia. Jangan membuat kakemu marah. Serangan jantungnya semakin parah. Jadi lebih menurutlah dengan kakekmu. Kita tidak ada yang tahu rahasia umur. Jadi saat kakekmu masih hidup, buatlah dia bahagia.” Perkataannya membuat Livia menitikkan air mata.


“Apa pak Anwar harus di operasi lagi, Dok?” tanya paman Samuel.


“Untung saja tidak sampai harus tindakan operasi. Kalian bisa masuk. Pak Anwar baru saja sadarkan diri.”


Paman Samuel mengangguk dan membawa tubuh Livia yang kembali mematung karena ucapan yang baru saja dokter ucapkan pada keponakannya. Dokter senior itu tahu betul keluarga Anwar Admaja, dia juga mengenal Livia dengan baik, karena dari kecil sampai usia sebesar ini, Livia juga mendapatkan perawatan dari dokter Joseph apabila dia sakit.


“Kakek.” Isak Livia saat bertemu kakeknya yang masih terbaring lemah.

__ADS_1


“Livia.” panggil kakek Anwar dengan lemah.


Livia langsung memeluk kakeknya dan menangis terisak. Dia sangat ketakutan jika terjadi hal yang membahayakan nyawa kakeknya.


“Bagaimana kondisinya sekarang, Om?” tanya paman Samuel kepada kakek Anwar.


“Sudah lebih baik. Hanya saja, aku tidak tahu sampai kapan bisa hidup.”


“Kakek, tolong jangan mengatakan hal itu. Livi mohon.” Sahut Livia. Dia begitu ketakutan jika kakeknya sudah membicarakan tentang kematian.


“Kematian itu pasti, Nak. Semuanya hanya tinggal menunggu waktunya. Apalagi kakek sudah tua, dan banyak beban pikiran.”


“Apa . . . apa yang membuat beban pikiran buat kakek? Bilang, Kek. Livi akan mencoba untuk menghilangkan beban itu, agar Kakek bisa terus menemani Livi.”


“Menikahlah, Nak. Hanya itu satu-satunya yang Kakek inginkan, Kakek ingin melihatmu memiliki pendamping. Dengan begitu, Kakek akan tenang jika meninggal nanti.”


“Apa itu sulit untukmu? Demi Kakek, Livi.”


Livia begitu sangat gusar, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keinginan kakeknya kali ini, karena dokter sudah mengatakan jika tidak boleh ada tekanan pikiran lagi untuk kakeknya. Livia menengadah, memandang pamannya yang berdiri disebelahnya. Paman Samuel mengangguk pelan dengan tersenyum lembut dan berusaha menguatkan keponakannya.


“Baik, Kek. Livi akan menikah demi Kakek. Tapi bolehkah Livia memilihnya sendiri?”


Sepucuk senyum singgah di wajah tua kakek Anwar, “Pilihlah sendiri calon suamimu, karena dia yang akan mendampingimu nanti. Tapi Kakek minta, calon suamimu itu harus dari kelas yang sama. Kakek hanya ingin memastikan hidupmu bahagia, Sayang.”


“Iya, Kek.” Livia memeluk tubuh tua kakek Anwar.


Tok . . . tok . . . tok . . . Andra mengetuk pintu untuk meminta izin masuk kedalam ruang inap kakek Anwar.


“Maaf, Bu. Tapi satu jam lagi akan ada meeting klien dari Korea.” Andra dengan tidak enak hati harus mengingatkan jadwal rapat pada Livia.

__ADS_1


“Ndra, bisakah ditunda? Aku ingin disini dengan Kakek,”


“Tapi bu . . .”


“Livi, klien kali ini sudah jauh-jauh dari Korea, mana bisa kita dengan mudah membatalkannya. Apalagi kita sebenarnya yang memerlukan mereka karena ingin memasarkan produk kita ke pasar Korea.”


“Tapi, Paman. Kakek . . . “Livia memandang kakeknya yang sekarang memejamkan matanya.


“Disini ada Paman yang akan menjaganya. Pergilah.”


“Ndra, bisakah panggilkan dokter Joseph kesini? Aku hanya ingin memastikan kesehatan Kakek sebelum meninggalkannya.”


“Baik, Bu.”


Andra melaksanakan perintah dari pimpinannya itu, dan setelah 5 menit berlalu, dokter Joseph masuk kedalam ruangan.


“Ada apa, Livia?”


“Maaf, Dok. Livia kurang sopan meminta dokter untuk kesini. Livia ingin memastikan bagaimana kondisi kakek?”


“Intinya kakekmu jangan sampai ada tekanan pikiran yang terlalu berat. Itu saja.”


“Bisakah Livia meninggalkan kakek, Dok?”


“Tentu saja bisa. Di rumah sakit ini banyak perawat yang bisa membantu untuk menjaga kakekmu jika memang kalian berhalangan untuk datang.”


“Tidak, Dok. Livia hanya akan rapat sebentar. 3-4 jam lagi Livi akan kembali kesini. sementara ini Paman Samuel yang akan berjaga disini.”


“Bagus kalau begitu. Sekarang pergilah.” Perintah dokter Joseph kepada Livia.

__ADS_1


__ADS_2