
“Apa kamu tak khawatir padaku?” Bima merangkul Livia. Dan Livia melingkarkan kedua tangannya kepinggang suaminya.
“Hm? Kenapa aku harus khawatir? Bukannya sebelum menikah denganku pun selalu ada jadwal pekerjaan luar?”
“Betul. Tapi kali ini berbeda.” Jelas Bima.
“Kenapa?” tanya Livia penasaran.
“Kali ini sekretarisku adalah seorang perempuan.”
Livia sebenarnya sudah tahu lama jika sekretaris Bima adalah seorang perempuan, namun ia tidak mempermasalahkannya karena Bima pernah memintanya untuk percaya pada suaminya itu, “Dia cantik?”
“Lebih cantik istriku.”
“Dia baik?”
__ADS_1
“Tentu saja. Aku kan pimpinannya.”
“Dia perhatian padamu? Bukan sebagai bawahan kepada pimpinan, tapi sebagai perempuan kepada laki-laki yang kumaksud.”
“Emmm . . . kalau kata Yuda sih, kemungkinan dia tertarik padaku.”
“Kalau menurutmu?” kini Livia menegakkan duduknya dan menghadap Bima dengan serius.
“Emmm . . . dia sering menanyakan apakah aku sudah memakan makan siangku, tanpa ku suruh dia selalu membuatkan kopi untukku, dan . . .” Bima sengaja mengatakannya untuk melihat bagaimana reaksi Livia. Tapi dia tak bisa mengatakan jika sekretarisnya itu selalu memakai pakaian seksi tiap bekerja. Bima tak ingin membuat Livia menaruh curiga padanya.
“Bagaimana bisa begitu? Level kalian berbeda. Dia bawahanku, dan kamu istriku.”
Livia bergelayut manja lagi kepada suaminya, tak bisa dipungkiri hati Bima bahagia melihat istrinya sekarang semakin nyaman berada di sisinya.
“Aku rasa tak pernah memperhatikanmu.” Ucap Livia.
__ADS_1
Bima tahu kalau Livia mencari jawaban darinya, dan dia memberikan jawaban itu. “Kamu sangat perhatian padaku. Kamu tahu? Sesibuk apapun dirimu, kamu selalu menyempatkan menyiapkan baju kerjaku setiap pagi, dan jika ada waktu, kamu juga selalu memasak untukku. Dan yang paling penting . . .” Bima mengangkat dagu istrinya agar kedua mata mereka bertemu, “Kamu selalu menyanggupi keinginanku walaupun lelah mendera tubuhmu.”
“Itu sudah kewajibanku.” Jawab Livia dengan senyum.
“Dan aku menyukai itu. Aku mencintaimu, Livia.” Ucap Bima sembari mengecup mesra bibir istrinya.
Livia terpaku menatap kedua mata Bima, sepasang bola mata hitam kini sedang memandangnya dengan tatapan penuh cinta. Livia ingin memastikan sesuatu, ia merasakan dengan jelas detak jantungnya yang berdegup hebat, dia juga merasakan kenyaman yang tak pernah dia dapatkan dari laki-laki lain selain kakeknya. “Apa aku harus memastikannya hari ini?” pikir Livia dalam hati.
“Livi?” panggil Bima yang keheranan melihat istrinya terpaku menatapnya.
“Cium aku sekali lagi, Bim.”
Bima menurut dan mengecup sekali lagi bibir Livia, Bima menerka jika Livia sedang memastikan sesuatu darinya, “Apa mau sekali lagi?” tanya Bima. Livia mengangguk. Jadi kini Bima mencium Livia lebih dalam. Bima mengangkat tubuh Livia dan mendudukkannya diatas pangkuannya agar memudahkannya untuk mencium istrinya.
Livia menatap kedua mata Bima lagi setelah mereka melepaskan ciuman dalam itu, “Aku sudah selesai memastikannya.” Kata Livia, dan sambil tersenyum manis Livia mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Aku juga mencintaimu, Bima.”
__ADS_1
Kedua mata Bima berkedip tak percaya, diwajahnya terlihat jelas jika dia sedang terkejut, perasaannya membuncah, rasa bahagia yang begitu meluap, setelah sekian bulan, akhirnya dia mendapatkan jawaban atas pernyataan cintanya. Walau Livia selalu berbuat baik padanya dan selalu melakukan kewajibannya sebagai istri, namun terkadang Bima masih diliputi oleh rasa takut jika Livia memilih untuk meninggalkannya. Kini Bima bisa tersenyum bahagia dan memeluk istrinya dengan erat.