OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 57


__ADS_3

Selama satu tahun Bima terus mencari keberadaan Livia dan Rendra, sebab kakaknya juga menghilang bersamaan lenyapnya keberadaan Livia dan kakek Anwar. Laki-laki tampan itu tidak pernah berhasil membujuk orang-orang dikeluarganya untuk memberitahukan dimana keberadaan Livia ataupun Rendra.


Sebagai penerus keluarga Mahardika, Bima tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya yaitu menjalankan perusahaannya. Setelah jam kerjanya selesai, dia akan kembali lagi mengerahkan semua orang untuk mencari keberadaan Livia. Namun perempuan yang dicintainya itu seperti lenyap ditelan bumi, tidak ada yang bisa menemukannya.


Ditahun ketiga, Bima mendapatkan kabar jika kakek Anwar telah meninggal dunia. Namun saat Bima mencoba mencari informasi dari kakeknya, lagi-lagi kakek Galih tidak memberikan informasi padanya. Kakek Galih merasa sangat kecewa kepada cucu keduanya itu, maka dari itu, kakek Galih ikut merahasiakan keberadaan Livia dan juga Rendra.


Kini tepat 5 tahun setelah perpisahannya dengan Livia, kini Bima sudah berusia 34 tahun. Ketampanannya tidak pernah memudar walaupun bulu halus mulai bersarang didagunya, tidak pernah terlihat senyuman diwajah laki-laki itu. Auranya kembali terasa menyeramkan saat berada didekat laki-laki itu.


“Apa kalian sudah mengetahui dimana keberadaan istriku?”


“Maaf, Pak. Kami belum bisa menemukan Bu Livia.”

__ADS_1


“Apa saja yang kalian lakukan selama ini, hah!” Bima menggebrak meja ruangannya. Diluar matahari sudah tak lagi menampakkan cahayanya, yang berarti bulan yang sudah menggantikannya. Artinya waktunya Bima kembali mencari informasi tentang keberadaan Livia.


“Maafkan kami, Pak. Tapi ini sudah lebih 5 tahun. Tapi kami tidak mendapatkan informasi apapun.”


“Keluar kalian semua!!!” bentak Bima. “Tidak pecus!”


“Apa yang harus kulakukan? Livia, kamu ada dimana sayang?” lirih Bima. Setiap malam ia selalu meminta maaf pada gelapnya malam, beberapa tahun ia lewati dengan penuh penyesalan. Karena terbakar cemburu, dia menjadi buta, logikanya tak berjalan, dan membuatnya menyakiti seseorang yang sangat dicintainya.


Tok . . . tok . . . tok . . . “Pak, ini saya.”


“Lebih baik Pak Bima beristirahat. Besok Bapak akan terbang ke Bali untuk melakukan pengecekan pabrik disana, Pak.”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, Dam. Pulanglah.”


“Saya akan berjaga disini untuk menunggu Bapak. Panggil saya jika Pak Bima memerlukan sesuatu.” Adam tetap berjaga diruangannya karena khawatir jika pimpinannya akan pingsan seperti sebelum-sebelumnya.


Bima sering pingsan karena kelelahan akibat kurang istirahat. Dia sering terbang keluar kota secara mendadak apabila mendapat informasi tentang orang yang mirip dengan Livia. Namun berkali-kali dia harus kecewa karena ternyata orang itu bukanlah Livia.


Pagi menjelang, Adam bersiap setelah semalaman menginap dikantor. Saat dia mengetuk ruangan Bima, pimpinannya itu sudah siap dengan pakaian rapinya. Dibawah matanya terdapat lingkaran hitam yang samar, karena sejak Livia menghilang, Bima sering mengalami insomnia.


“Sudah siap, Pak?”


“Ayo kita pergi, Dam.” Jawab Bima dengan tenang. Setiap jam kerjanya Bima akan tetap tenang, namun jika jam kerjanya telah usai, maka Bima akan berubah menjadi orang yang mudah uring-uringan kepada anak buahnya yang ia pekerjakan untuk mencari Livia.

__ADS_1


Bima dan Adam terbang ke Bali untuk mengecek pabrik furniture khas Bali yang akan di ekspor kemanca negara. Pabrik itu berada dipedalaman desa, karena harus memastikan limbah kayu tidak mengotori udara, maka Bima membangunnya jauh dari kota.


Setelah memastikan semua produk sesuai standar, Bima melepas lelah ditaman sekitar pabrik. Taman itu dijaga dan dirawat dengan apik, bunga-bunga bermekaran disetiap sisi jalan. Bangku taman menghias dibeberapa tempat, disekitar pabrik terdapat beberapa rumah dalam jarak satu kilometer. Namun karena taman bunga didekat pabrik dikelola sangat baik, terkadang beberapa orang datang berkunjung hanya untuk berfoto ataupun hanya berjalan-jalan.


__ADS_2