
“Ayo!” ajak Livia saat dia sudah mendapatkan tasnya.
“Tunggu dulu.” Bima menarik pinggang Livia untuk mendekat dengan tubuhnya.
“Hari ini aku belum mendapat ciuman.”
“Ciuman? Kurasa kita tidak punya kebiasaan seperti itu.”
“Dalam rangka merayumu agar bisa mencintaiku, kurasa perlu kita buat rutinitas seperti itu.”
“Seperti ini?” Livia mengecup singkat suaminya.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku ingin lebih dalam lagi.” Kali ini Bima yang ******* habis bibir istrinya itu. Livia tak ingin kalah dari suaminya, tak gentar dia membalas ciuman panas seorang Bima Dwi Mahardika.
“Kenapa kamu begitu menggoda, Sayang?” bisik Bima.
__ADS_1
“Kamu sedang menantangku?”
“Aku sengaja memprovokasi dirimu.” Jawab Bima dengan senyuman licik.
“Aku akan menjawab tantanganmu.” Livia mendorong tubuh Bima sampai dia terjatuh diatas sofa. Kini Livia sudah duduk dengan sempurna diatas pangkuan Bima.
Dengan terampil Livia melepaskan sabuk celana Bima, dia tahu jika penghuninya sudah meronta-ronta ingin dibebaskan.
“Kita mau melakukannya disini?” tanya Bima penasaran.
Jantung Bima berdetak hebat, “Aneh rasanya melakukannya didalam ruangan kantor seperti ini, tapi entah kenapa rasanya begitu menyenangkan dan menantang?” ucap Bima dalam hati.
Tangan Bima sudah masuk menyusup kedalam kemeja yang Livia pakai, saat pemanasan dirasa cukup, Livia mengangkat rok pendeknya dan bersiap-siap untuk melakukan penyatuan, namun belum sempat dia melakukannya, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
“Siapa?” tanya Livia saat dia menghentikan gerakannya.
__ADS_1
“Cita, Bu. Ada sedikit revisi.” Teriak Cita dari luar.
“Tunggu diluar. Aku akan segera datang.” Gadis cantik itu melihat wajah suaminya yang syarat akan protes, hal itu membuat Livia cekikikan dan berniat mengerjai suaminya.
“Hari ini Anda beruntung, Tuan. Aku tidak akan memakanmu.” Livia turun dari pangkuan Bima dan membetulkan kancing bajunya dan menurunkan kembali roknya.
“Apa kamu bercanda? Ini bukan keberuntungan, Livia. Ini kemalangan. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku disaat begini?” Bima menunjuk bagian bawahnya yang sudah mengeras.
“Hahahahahaha . . . jinakkan dia dulu. Kita lanjutkan dirumah.” Tunjuk Livia. Lalu dia keluar untuk menemui Cita.
Bima merasa kesal, kecewa dan marah saat waktunya saat bersama Livia diganggu. Padahal baru saja Bima akan merasakan pengalaman yang belum pernah ia rasakan, yaitu bercinta dengan pujaan hatinya ditempat yang tidak biasanya, hanya tinggal hitungan detik Livia bergerak melakukan penyatuan antara mereka berdua, namun semuanya terhenti dengan paksa saat ada gangguan.
Wajah suram Bima sudah tidak bisa dikendalikan lagi saat mereka berjalan menuju parkiran mobil, rencana awal adalah melanjutkan kegiatan yang sempat terganggu itu dirumah, tapi tidak sesuai rencana, Bima tidak bisa menahannya jika harus menunggu sampai dirumah, jadi mereka melakukannya di parkiran basement, disaat parkiran sepi karena pemiliknya sedang bekerja keras diruangannya masing-masing, sepasang suami istri itu berpacu merasakan kenikmatan dunia.
Hari-hari penuh dengan kemesraan pun berlanjut, selama sisa cuti pasangan suami istri itu, Bima tidak pernah terpisah jauh dari Livia. Kemanapun istri cantiknya itu pergi, maka disitulah Bima berada. Termasuk saat hari pertama mereka masuk kembali bekerja, Bima mendampingi Livia dalam pemilihan sekretaris barunya. Dimana jika ada pelamar dengan wajah tampan dan proporsi tubuh yang sempurna, Bima akan menghasut Livia untuk tidak memilihnya, dan mengutamakan sekretaris perempuan dari pada laki-laki. Tentu saja Livia tahu maksud tersembunyi suaminya itu.
__ADS_1