OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 50


__ADS_3

“Apa yang telah kulakukan? Aku hanya ingat jika aku minum alkohol karena terlalu marah melihat foto-foto yang dikirimkan padaku. Tapi kenapa aku bisa menyentuh Tari? Arggghhh!!!” Bima mengacak-acak rambutnya sendiri dengan marah.


“Aku telah menghianati istriku. Bagaimana aku bisa menatapnya nanti? Tapi . . .” tiba-tiba amarah Bima meninggi. “Bagaimana bisa dia menghianatiku disaat ia memintaku sebuah kesetiaan? Bahkan dengan kakak kandungku?”


Bima teringat jika sebelum menikah dengannya, Livia adalah perempuan yang bebas dan berhubungan dengan laki-laki yang bukan suaminya. “Apakah dia memang perempuan seperti itu? Bukankah baru beberapa waktu lalu dia mengatakan jika mencintaiku!” amuk Bima didalam kamar.


“Brengsek! Brengsek! Brengsek!” Bima begitu terluka, karena baru kali ini dia menambatkan hatinya kepada seorang perempuan.


Dihari ketiga ini, Livia merasa aneh. Tak seperti biasanya Bima tidak memberikannya kabar. Setelah mengantarkan kakek Anwar pulang kerumah utama dan menenangkan kakeknya, Livia terus memandangi androidnya. Livia sudah mencoba mengirimkan pesan, tapi tak ada balasan. Dia juga mencoba untuk menghubungi Bima, namun sama, tak ada jawaban yang ia terima.


Rendra masih berada diruang tamu keluarga Admaja, Livia mengikuti Rendra duduk diruang tamu. “Kak, terimakasih atas bantuannya. Berkat Kak Rendra, kakek sedikit lebih tenang kemarin.”


“Tak apa-apa, Livi. Aku hanya menemani kakekmu bermain catur semalaman. Apa setiap tahun memang seperti itu?”


Livia mengangguk, “Setiap tahun, setiap tanggal dan bulan yang sama, saat peringatan meninggalnya nenek, kakek akan seperti itu. Dia akan sedih dan diam-diam menangis. Jadi pilihanku setiap tahun adalah seperti kemarin, membawanya menginap diluar rumah utama. Aku pernah membawa kakek kerumahku, tapi kakek tetap terkenang karena nenek pernah singgah dirumahku dulu. Hanya itu jalan satu-satunya.”


“Lalu? Siapa yang biasanya menemani kakekmu untuk menghilangkan kesedihannya?”


“Siapa lagi kalau bukan kakek Galih? Mereka itu teman layaknya saudara. Tapi apa Kak Rendra sudah tahu bagaimana kabar kakek Galih? Kata Kakak, kakek kurang enak badan, kan?”

__ADS_1


“Emmmm, kakek . . . kakek Galih sudah baik-baik saja. Aku sudah menelepon asisten rumah tangga pagi tadi dan memastikan keadaannya.”


“Syukurlah kalau begitu.” Livia tersenyum lega, “Emm, Kak. Apa Bima ada menghubungi Kak Rendra?” tanya Livia dengan ragu. Sebenarnya dia tahu jika hubungan Bima dan kakaknya kurang harmonis akhir-akhir ini, namun Livia hanya ingin memastikannya saja tentang kabar Bima.


“Belum. Kenapa?”


“Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja aku kesulitan menghubunginya hari ini.”


“Mungkin dia hanya sedang sibuk. Tunggu saja kabar darinya.”


“Baiklah.” Livia tersenyum ketir.


Sementara itu di Singapura . . .


Bima duduk berhadapan dengan Tari diruang tengah. Hari ini dia sengaja meminta Tari untuk mengosongkan semua jadwalnya karena ingin menyelesaikan masalah mereka berdua.


“Jadi, Tari. Jujur, saya masih belum percaya jika saya melakukan hal itu denganmu.” Ucap Bima dengan nada bicara dan ekspresi wajah yang sangat dingin.


“Tapi, Pak. Bagaimana bisa Bapak meragukannya? Jika, jika semua bukti sudah ada. Bapak juga sudah melihat sendiri noda darah yang ada diatas seprai, itu tandanya Bapak yang pertama untuk saya.”

__ADS_1


“Berapa yang kamu inginkan agar kamu bisa pergi jauh dan menganggap hal itu tidak terjadi?”


“Apa maksud, Anda?” Air mata meleleh membasahi wajah Tari yang terkejut akan sikap dingin Bima.


“Come on! Hari gini sudah biasa, Tari. Banyak perempuan disana yang kehilangan keperawanannya dan mereka biasa saja. Malah kamu tahu sendiri jika banyak yang menjualnya, bukan?” tatap Bima dengan bengis.


“Apa Bapak kira saya seorang pelacur?”


“Jangan kamu anggap saya tidak tahu jika selama ini kamu sengaja menggodaku dengan pakaianmu. Aku pandai menilai seseorang, Tari.”


Tari terhenyak, rupanya niat awalnya terbaca jelas dimata Bima, dia berpikir keras untuk membuat alasan yang masuk akal.


“Itu karena . . . karena saya mencintai Pak Bima. Sejak pertama kali bertemu di cafe saat itu, saya sudah jatuh hati pada Bapak. Dan saya bertekad jika Bapak harus jadi milik saya!” tari menjerit histeris. “Saya tidak ingin uang! yang saya inginkan hanya kamu.”


“Kamu perempuan gila!!!”


“Ya, saya memang gila. Saya gila karena mencintai Bapak!”


“Apa kamu tidak tahu jika aku sudah mempunyai istri?”

__ADS_1


“Saya tahu, Pak. Tapi saya tidak bisa menghentikan perasaan ini.” Tari menangis tersedu-sedu. “Tolong jangan buang saya, Pak. Tolong! Hanya Bapak satu-satunya yang saya izinkan untuk menyentuh tubuh saya.”


__ADS_2