
Livia berpikir akan baik-baik saja karena malam ini mereka berdua hanya akan tidur. “Toh, Bima juga tidak akan bisa melakukan apa-apa karena dia impoten.” Pikir Livia dalam hati.
Saat Livia keluar dari kamar mandi dan menuju ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah, Bima tercengang melihat pemandangan ini. Biasanya dia sering mendengar bualan teman-temannya yang mengatakan jika pasangannya terlihat seksi saat memakai kemeja mereka yang tampak kebesaran ditubuh wanitanya. Selama ini Bima hanya menganggap jika mereka hanya membual dan membesar-besarkan saja. Namun malam ini Bima membuktikannya.
Bima melihat Livia sangat menggoda dengan kemeja yang dipakainya. Walau nampak kebesaran, tapi sangat cocok ditubuh putih Livia. Kemeja itu tidak terlalu tipis, namun Bima bisa melihat jika Livia hanya memakai ****** ***** dibalik bajunya. Karena ada sesuatu yang memantul saat Livia menggerakkan tangannya saat mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Seberani inikah dia?” gumam Bima. Laki-laki itu mendekati Livia dan memeluk Livia dari belakang.
“Rupanya kamu gadis yang cukup berani, Livi.” Bisik Bima tepat didepan telinga Livia. Livia terkejut dan ingin melepaskan pelukan Bima, namun dia sudah terperangkap.
“Bim? Apa maksudmu?”
“Kamu hanya menggunakan ****** ***** dibalik baju ini, hm?”
“Bim, lepaskan aku. Ok?” Livia mencoba setenang mungkin dibalik perasaannya yang sudah tidak karuan. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang karena sentuhan dari Bima. Livia tidak mengenakan bra-nya karena dia kira Bima pasti sudah tidur karena kelelahan.
“Kenapa? Kamu kan sudah menjadi istriku. Kamu milikku, Livi. Milikku . . .” sesekali Bima mengecup leher Livia.
Livia masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Bima, dia takut jika akan kecewa karena Livia sudah mulai terbakar oleh kecupan yang Bima lakukan, tapi belum sempat lepas, tiba-tiba Livia menyadari sesuatu.
__ADS_1
“Bim? Apa itu?” Livia bertanya karena ada sesuatu yang menegang dibalik tubuhnya.
“Hm?” Bima membalik tubuh Livia sehingga mereka berhadapan, “Milikmu, Sayang.”
Belum bisa Livia menjawab, namun bibirnya kini dibungkam oleh ciuman panas dari suaminya. Livia terkejut untuk beberapa detik, namun otaknya sudah tak bekerja lagi karena gairah yang mulai menyusupi tubuhnya. Livia bukanlah gadis yang dengan mudah menyerahkan dirinya hanya dengan beberapa rangsangan, namun entah kenapa saat Bima menyentuhnya, tubuhnya sama sekali tidak menolaknya. Perlahan Bima mengangkat tubuh Livia dan membaringkannya diatas tempat tidur.
Livia memilih untuk membalas ciuman yang Bima berikan dan melupakan pertanyaan yang sempat hinggap dipikirannya. Sebelum Livia semakin terhanyut, sekuat mungkin dia mencoba mengembalikan akal sehatnya yang entah hilang kemana. Livia sedikit mendorong tubuh Bima yang sudah melekat erat dengan tubuhnya.
“Tunggu, tunggu dulu, Bim.” Ucap Livia sembari merenggangkan pelukan laki-laki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
“Ada apa, Livi?” jawab Bima dengan sedikit kesusahan.
“Kenapa memangnya? Bukankah ini normal. Aku laki-laki, Livi.”
“Tapi, bukannya kamu impoten?”
“Aku tidak pernah meng-iyakannya, bukan?”
“Dan kamu juga tidak pernah menyanggahnya.”
__ADS_1
“Untuk apa?” jawab Bima acuh.
“Untuk apa? Apa kamu tidak merasa terganggu dengan rumor yang selama ini mengelilingimu?”
“Tidak menggangguku sama sekali. Aku bahkan senang tidak harus berurusan dengan sembarang wanita.”
“Tapi,tapi, bukannya waktu pesta Intan . . .?”
“Kenapa memangnya? Aku tidak bereaksi begitu?”
Livia mengangguk pasti sambil menunggu jawaban yang sangat dia inginkan.
“Aku bukan binatang, Sayang. Yang bisa berhasrat kepada semua wanita.” Jawab Bima. Bima juga memainkan ujung rambut Livia yang sedikit menyapu wajahnya.
“Tapi kenapa denganku bisa?”
“Kira-kira kenapa?” jawab Bima yang masih tetap berfokus pada rambut Livia yang lembut.
“Apa kamu punya perasaan padaku?” tanya Livia hati-hati. Dan karena pertanyaan Livia itu, Bima menghentikan gerakan tangannya dan sekarang terfokus melihat kedua mata indah istrinya.
__ADS_1
“Aku rasa memang itu jawabannya.”