OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 13


__ADS_3

“Aku tidak perlu mengatakannya untuk yang kedua kali, bukan?” tatapan kakek Anwar begitu mengintimidasi. “Jangan kira aku tidak tahu hubunganmu dengan cucu kesayanganku itu. Aku tahu semuanya.”


Andra tercengang, ada perasaan lega, namun perasaan khawatir lebih besar mendera hatinya.


“Tapi jangan kira jika kamu akan bisa bersama dengan Livia. Aku perlu cucu menantu yang tetap bisa membantu Livia berdiri kokoh.”


“Apa Bapak tidak merasa kasihan jika Ibu Livia harus menikah tanpa cinta?” ucap Andra dengan nada berat.


“Cinta? Apa kamu kira Livia mencintaimu? Jika dia mencintaimu, maka dia akan menyeretmu kehadapanku saat aku memintanya untuk menikah. Tapi Livia tidak melakukannya, bukan?” kakek Anwar berusaha menyadarkan posisi Andra.


Andra terdiam tak dapat membalas ucapan pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu. Tanpa sadar Andra membenarkan apa yang di ucapkan kakek Anwar, jika Livia selama ini hanya memerlukan kepuasannya, bukan hatinya.


“Baik, Pak. Saya akan lakukan perintah Pak Anwar.” Ucap Andra dengan pasrah.


“Bagus jika kamu lebih cepat sadar. Aku punya saran, bagaimana jika kamu dorong Livia untuk memilih cucu dari temanku.”


“Kalau saya boleh tahu namanya, Pak.”


“Bima Dwi Mahardika, cucu dari Galih Mahardika. Cari tahu semua tentangnya, dan laporkan padaku apa yang kamu temukan.”

__ADS_1


“Baik, Pak, saya akan laksanakan.” Andra undur diri dari hadapan kakek Anwar. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan gontai. Pikirannya melayang disaat dia harus menyaksikan perempuan yang dicintainya akan bersanding dengan laki-laki lain.


“Ada apa kakek memanggilmu?” tanya Livia saat Andra sudah kembali kekantor.


“Pak Anwar memintaku untuk mencari informasi tentang seseorang.”


“Untukku?”


“Kamu mengetahui itu?” tanya Andra terkejut.


“Tentu saja aku tahu. Aku menyanggupi keinginan kakek untuk segera menikah.”


“Tapi kenapa Liv? Kenapa kamu mau untuk menikah? Bukannya kamu berencana untuk tidak menikah?” Andra tiba-tiba menggenggam tangan Livia dan memojokkannya dikursi kebesarannya.


Andra tersadar atas perbuatannya, dia cepat-cepat melepaskan genggamannya dan berdiri menjauh dari Livia.


“Maafkan aku, Liv.”


“Apa kamu punya perasaan padaku?” tanya Livia tiba-tiba. Hal itu cukup membuat Andra terkejut dan berpikir keras. Apakah dia harus mengakui perasaannya dan menerima segala resikonya, atau dia harus bersembunyi dalam hubungan yang bernamakan pertemanan.

__ADS_1


“Tidak, Liv. Aku tidak mempunyai perasaan padamu.”


Livia menghembuskan nafas leganya, “Sekejap aku berpikir jika kamu memiliki perasaan padaku tadi. Jika iya, itu berarti hubungan kerja kita harus selesai sampai disini.”


Perkataan Livia inilah yang membuat Andra memilih untuk mengubur perasaannya, karena di awal hubungan dekat keduanya, Andra menyanggupi keinginan Livia itu, jika ingin terus berlanjut harus tidak ada perasaan cinta didalamnya.


“Aku hanya khawatir dengan traumamu.” Andra beralasan.


“Aku sadar itu. Tapi demi kesehatan kakek, semua akan kulakukan.” Livia kali ini menghembuskan nafas beratnya. “Jadi apa yang kamu temukan?”


“Pak Anwar memintaku untuk mencari tahu tentang Bima Dwi Mahardika, dan aku memperoleh beberapa informasi saat kembali kesini.” Andra menyerahkan satu tablet pintar kepada Livia.


“Bima Dwi Mahardika? Cucu kakek Galih?”


“Kamu mengenal Pak Galih Mahardika?” tanya Andra.


“Tentu saja aku mengenalnya. Dia bagaikan kakek keduaku yang suka memarahiku. Tapi aku tidak mengenal keluarganya.” Livia tiba-tiba teringat pembicaraan kakeknya dengan kakek Galih malam itu. Yang menyatakan jika cucu kakek Galih yang saat ini menjabat sebagai seorang direktur utama itu adalah seorang impoten.


Livia memperhatikan data-data yang Andra dapatkan. Dari wajah yang tampan, kulit putih dan berambut hitam. Sorot matanya tajam dan begitu gelap. Jelas jika para pengusaha muda memancarkan aura maskulin yang cukup kuat.

__ADS_1


“Jika melihat wajahnya, jelas ketampanan kakek Galih menurun padanya.” Livia memberikan komentar tiba-tiba. Andra terus saja memperhatikan Livia yang sedang menganalisis dan terkadang mengangguk pelan.


Livia lanjut memperhatikan biodata yang Andra peroleh. Dengan tinggi 185 cm, dan badan yang atletis, sebenarnya cukup menggoda bagi Livia. Usianya pun dirasa cukup karena diatasnya 2 tahun. Usia Bima saat ini adalah 29 tahun. Merupakan cucu ke-2.


__ADS_2