
Merasa dirinya akan menyerah dengan mudah jika membiarkan suasana ini terus berlanjut, Livia memutuskan untuk sedikit menjauh dari Bima.
“Lebih baik kita kembali sekarang, sudah malam.”
“Kembali kemana?” tanya Bima penasaran.
“Tentu saja kerumah masing-ma. . . .“Livi menghentikan ucapannya karena dia merasa salah.
“Kerumahku saja dulu. Kalau kamu sudah cocok dengan rumah ini, lusa kita bisa mulai pindah. Bagaimana?” tawar Bima.
“Hmmm . . . baiklah.”
“Tunggu sebentar.” Bima menahan istrinya dan mendekapnya. “Bukankah hari ini kamu sudah mengacuhkanku, Livi?”
“Apa maksud . . .” Livia terkejut lagi saat Bima berhasil merebut perhatiannya dengan ciuman panas yang didapatnya.
Livia mencoba meronta dan mendorong dada Bima, namun percuma saja, laki-laki itu tidak bergeming sedikitpun dan tetap menyerang bibir Livia dengan semangat. Ciumannya terasa panas namun lembut saat Livia terima.
Livia bisa terlepas dari Bima saat suaminya itu yang melepaskan ciuman mereka terlebih dahulu, dengan pandangan yang begitu intens, Livia tahu kemana arah sentuhan mereka selanjutnya.
__ADS_1
“Nanti saja dirumah, jangan disini.” Putus Livia dan dia melangkah pergi untuk menuju mobil.
Bima terpaku dan tersenyum heran dengan tingkah istrinya itu, “Aku akan membuatmu mencintaiku dan tak akan bisa meninggalkanku, Livi. Tunggu saja, aku pastikan itu.” Gumam Bima.
***
“Bima! Sejak kemarin aku mencarimu.” Rendra mencegah Bima yang sudah akan pergi dengan Livia.
“Ada apa, Kak?”
“Bisa kita bicara sebentar. Ini penting bagiku.” Kata Rendra sambil menatap Livia.
“Kamu bisa pergi dulu, Livi? Aku akan menyelesaikan urusanku sebentar dengan Kak Rendra. Nanti aku akan menyusulmu.”
“Ok.” Livia ingin masuk kedalam mobil.
“Tunggu!” Bima mengecup mesra bibir Livia. Livia terkejut sejenak, namun dia cepat-cepat melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobil. Bima sengaja melakukan itu didepan kakaknya karena dia merasakan sesuatu yang aneh secara tiba-tiba.
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Rendra dengan dingin.
__ADS_1
“Tentu saja karena Livi adalah istriku, Kak. Tidak ada yang salah dengan tindakanku.”
“Bukankah kalian menikah dengan sebuah perjanjian? Kalian tidak saling mencintai.”
“Aku tidak perduli dari mana Kak Rendra mendapatkan info seperti itu, tapi satu yang pasti, aku akan membuat Livia jatuh cinta padaku.”
“Dan . . . apa ini sebenarnya yang ingin Kakak katakan?”
“Livia adalah gadis yang sedang kucari selama ini.”
Bima tetap tenang walaupun tatapan matanya kini sedingin malam. “Livia adalah istriku, Kak. Jadi jangan lagi mencarinya atau mengganggunya. Hapus perasaanmu.” Bima bersiap untuk pergi meninggalkan kakaknya.
“Tapi aku yang mencintainya, Bim. Bukan kamu. Aku bisa membahagiakannya.”
Bima berbalik menghadap kakaknya lagi, “Kata siapa aku tidak mencintainya, Kak? Aku jatuh cinta padanya, tepat pada pandangan pertama. Jadi buang jauh-jauh perasaanmu yang akan berakhir sia-sia.” Jawab Bima dengan ketus. Dia meninggalkan kakaknya dan ingin cepat menyusul Livia.
“Bagaimana aku bisa melupakannya, Bim. Dia selama ini yang aku cari. Aku harus merubah rencana yang bisa membuatku dekat dulu dengan Livia.” Tekad Rendra.
Bima menyusul istrinya di salah satu pusat perbelanjaan di kota Jakarta, dari kejauhan Bima dapat melihat jika istrinya sedang memilih beberapa perlengkapan untuk rumah baru yang akan mereka tinggali besok. Wajah Bima yang selalu tenang kini tersenyum hangat melihat sosok Livia yang berkesan sejak pertama mereka berjumpa. Bima masih ingat jelas waktu pertama kali mereka berdua bertemu saat dipesta Intan. Hanya Livia, perempuan yang tidak mencoba mendekatinya secara langsung, banyak sekali perempuan yang selama ini dia temui, berusaha mendekat padanya dan ingin membuktikan apakah benar dia laki-laki impoten atau bukan.
__ADS_1
Saat Livia membela Intan dan marah kepadanya, wajahnya terlihat sangat cantik sekali. Perasaan ini lah yang membuatnya menerima masa lalu Livia dengan laki-laki lain sebelum menikah dengannya. Livia juga adalah gadis yang jujur, dengan berani dia mengatakan jika sudah tidak perawan lagi sebelum menikah dengannya.