OH! MY LIVIA

OH! MY LIVIA
Episode 29


__ADS_3

Livia bertugas menata barang yang ringan, sedangkan Bima yang bertugas membantu Livia mengangkat barang besar dan berat sesuai arahannya. Tepat pukul empat pagi, mereka menyudahi pekerjaan mereka. Semua barang sudah masuk kedalam tempatnya masing-masing, hanya saja kardus kemasan yang masih berserakan dilantai.


“Tidurlah, biar besok aku memanggil seseorang dari rumah utama untuk membersekannya.”


“Ya.” Jawab Livia singkat. Tubuhnya begitu lelah.


Livia melemparkan tubuhnya diranjang dan langsung terlelap. Bima yang menyusul untuk tidur, dengan perlahan membalik tubuh Livia agar menghadapnya. Bima tertidur sembari memeluk tubuh istrinya.


Sudah satu minggu sejak Bima dan Livia pindah rumah, semua pernak pernik kebutuhan rumah juga sudah selesai mereka rapikan. Malam ini Livia berniat untuk mengundang kakeknya dan juga kakek Bima.


Kakek Anwar tiba terlebih dahulu disusul oleh kakek Galih dan juga Rendra.


“Bagaimana kabarmu, Livi?” tanya kedua kakek itu.


“Kabarku baik-baik saja Kakek-kakekku. Sekarang silahkan bersantai sebentar, makanan akan segera siap.”


“Ini untukmu, Livia.” Rendra memberikan satu ikat bunga mawar merah. Dia menyusul Livia yang sedang sibuk didapur.


“Terimakasih, Kak.” Jawab Livia sambil meletakkan bunga di atas meja.


“Maafkan aku tempo hari, Livi. Pasti kamu sangat kaget.”


“Tak masalah, Kak. Mungkin Kakak hanya sedang bingung saja.”


“Boleh kita berteman?”


“Berteman? Maksud Kak Rendra?”

__ADS_1


“Kamu kan adik iparku. Aku rasa aku juga akan lama tinggal di Jakarta sementara waktu ini. Jadi aku tak ingin hubungan kita canggung. Apalagi kita akan sering bertemu jika kamu ke rumah utama.”


“Berteman?” Rendra mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Livia.


“Baiklah, Kak.” Livia menjabat tangan Rendra.


Begitu bahagianya perasaan Rendra. Hanya dengan menggenggam sebentar tangan gadis yang dicintainya saja bisa membuatnya tak sadar jika ada kedua mata dingin yang sedang menatap keduanya dari kejauhan.


Rendra memutuskan untuk berkumpul dengan kedua kakek tua itu diruang tengah, Bima yang muncul dari belakang Livia langsung memeluk gadis itu dari belakang.


“Bim! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku sedang memasak.”


“Apa yang kalian bicarakan barusan?”


“Dengan Kak Rendra?”


“Hmm. Kenapa kamu menjabat tangannya?”


“Apa ada yang belum kuketahui?” tanya Bima penasaran.


“Bukan hal penting.”


“Tapi aku ingin tahu itu, Livi.”


“Baiklah, nanti aku akan mengatakannya padamu. Sekarang tolong bantu aku dulu. Bawakan piring dan tata dimeja makan.”


“Hanya itu?”

__ADS_1


“Oh, iya. Gelas juga sudah aku siapkan. Letakkan di sebelah piring.”


“Ok, My Queen.” Bima dengan cekatan menata piring dan gelas di meja makan.


“Waahhh . . . ternyata kamu bisa merubah Bima menjadi seperti ini, Livi.” Ucap kakek Galih saat dia menyusul kedapur.


“Memangnya Bima kenapa, Kek?” protes Bima.


“Kamu selalu melawan kakek, sekarang bisa-bisanya kamu jadi seorang penurut.”


“Mau bagaimana lagi. Kalau mau aman, tetap harus mengikuti perkataan bos dirumah ini.”


“Hahahaha . . . benar sekali, Bim. Bahagiakan istrimu, maka keberkahan akan selalu menghampirimu.” Tambah kakek Anwar.


Rendra mengikuti kedua kakek itu dari belakang. Dapat terlihat jelas jika senyuman diwajahnya sangat dipaksakan. Bima dapat mengetahuinya itu dengan jelas.


“Kapan Kak Rendra kembali ke Bali?” tanya Bima ditengah-tengah makan.


“Sementara ini aku akan berada di Jakarta. Karena kamu pindah, kakek tidak ada yang menemani.”


“Bukankah Kakak bilang akan kembali secepatnya? Apa karena Livia?”


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Rendra tersedak makanannya.


“Apa maksudmu, Bim?” tanya kakek Galih.


“Tidak, Kek. Bukan apa-apa. Bima hanya sedang menjahiliku.” Jawab Rendra cepat.

__ADS_1


“Tak apa, Kak? Ini minumnya.” Livia menuangkan air putih di gelasnya.


“Terima kasih, Livi.” Ucap Rendra dengan senyum lebar diwajahnya.


__ADS_2