
Tok . . . tok . . . tok . . .
“Ini aku.”
“Masuklah.”
“Akhirnya kamu masuk juga, Bim. Kamu tahu betapa setresnya aku memegang pekerjaan ganda. Kamu juga kenapa sudah waktunya masuk kerja malah mendekam diperusahaan Livia. Aku tahu jika istrimu itu cantik, tapi tak perlu sebegitunya juga kali jagainnya.” Cerocos Yuda saat dia memasuki ruangan Bima.
“Aku hanya memastikan istriku aman, Yud. Aku tak mau ada laki-laki lain yang selalu berada didekatnya, sedangkan aku terpisah tempat dengannya.”
“Dasar laki-laki posesif! Kenapa tidak kamu bangun gedung saja yang besar dan gabungkan perusahaan kalian?”
Bima menghentikan pekerjaannya dan berfikir keras, “Kenapa aku tidak pernah terfikirkan ide itu, ya? Tumben idemu bagus, Yud.”
Yuda melebarkan mulutnya tanda terkejut, “Kamu serius?”
“Tentu saja. Dengan begitu aku bisa dengan mudah menemui Livia.”
“Aku hanya memberikan ide aneh padamu, Bim. Aku hanya sedang menyindirmu, kenapa malah kamu menurutiku?”
“Karena idemu patut diperhitungkan.”
__ADS_1
“Jangan! Jangan lakukan itu. Kantor ini adalah bukti kerja keras kakek, jangan pernah kamu merusaknya.”
“Aku tidak merusaknya. Aku hanya akan menjadikannya lebih besar.”
“Dengan menggabungkan perusahaan Livia.”
“Hmm.” Bima mengangguk dan tetap terfokus dengan pekerjaannya.
“Apa yang Livia lakukan padamu? Apa dia melakukan cuci otak padamu?” Yuda merasa frustasi karena sepupunya kini sudah tunduk dengan istrinya.
“Mungkin saja.”
Bima tetap diam dan melanjutkan pekerjaannya, “Padahal sebelum cutimu selesai, dia memakai baju yang normal-normal saja, tapi ketika jadwal cutimu habis, dia langsung bertolak belakang dari biasanya. Bukankah dia sangat seksi?” Yuda kini duduk tepat didepan meja Bima. “Apa dia sedang mencoba merayumu? Aku saja terkejut jika Tari bisa begitu.”
“Hentikan ocehanmu. Keluarlah. Aku sedang bekerja.”
“Kenapa kau begitu menyebalkan.” Tak ada tanggapan dari sepupunya, Yuda akhirnya memilih pergi meninggalkan ruangan Bima dengan hati yang kesal.
Hari-hari berikutnya dilalui Bima dan Livia dengan penuh kesibukan. Apalagi masa cuti keduanya yang cukup panjang, membuat tumpukan pekerjaan yang teramat banyak, apalagi posisi Livia yang saat ini sudah menjadi direktur utama, membuatnya harus menghabiskan waktu untuk penyesuaian pekerjaan barunya.
Bima bisa bersama dengan istrinya hanya saat ia menjemputnya untuk pulang dan menuju rumah, namun Livia terlalu lelah setelah menjalani hari-harinya, jadi selama diperjalanan pulang, sering kali Livia tertidur dan tak sadar hingga keesokan hari. Bima selalu mengangkatnya pelan-pelan masuk kerumah dan tak mengganggunya. Apalagi kini sekretarisnya berganti, tak seperti Andra yang sudah terbiasa dengan jabatannya yang selalu siap menyediakan semua keperluan Livia sebelum rapat dengan para klien, sekretaris barunya masih perlu beradaptasi dengannya.
__ADS_1
***
Hari ini, Mahardika Group akan mengadakan pesta. Pesta peringatan berdirinya perusahaan yang telah berkembang berpuluh tahun. Semua relasi dari berbagai bidang akan turut hadir, tak terkecuali Rehardi Group dan Admaja Group.
“Bagaimana penampilanku?” Livia memutar tubuhnya untuk memamerkan gaun hitam yang dipakaianya. Livia menyamakan warna gaunnya dengan setelan jas yang dipakai oleh Bima. Rambut hitam gadis itu digulung keatas dan menampakkan leher putihnya dengan mudah.
Bima harus menelan ludah saat melihat leher yang begitu seksi dimatanya. Pikiran kotor sempat terbesit dikepalanya. Bayangan saat dia menyentuh tubuh Livia dan melihat wajah kekasihnya itu yang penuh rasa nikmat. Bima menggeram dalam hati, dan berfikir apakah harus menyerang Livia saat ini juga?
“Bima?” panggil Livia memecahkan lamunannya.
“Kamu sangat cantik, Sayang.” Bima mengecup keningnya, namun tangannya baru menyadari sesuatu saat dapat menyentuh punggung istrinya secara langsung, “Tapi aku benci gaun ini. Gaun ini menunjukkan punggungmu terlalu banyak. Lalu apa ini? Belahannya sampai menyentuh pahamu. Membuatku ingin menyobek gaun ini menjadi tak berbentuk.” Bisik Bima.
“Jangan mulai lagi, Bim.” Protes Livia.
“Bagaimana aku tidak protes padamu. Gaunmu ini sangat seksi.” Bima menenggelamkan wajahnya ditengkuk leher Livia, Bima memeluk istrinya dengan posesif. “Bagaimana jika kamu memakainya nanti saat hanya berdua denganku, hm? Sekarang tolong bergantilah dengan gaun yang lebih tertutup.” Pinta Bima penuh harap.
“Aku menyukai gaun ini, dan aku akan memakainya untuk kepesta.”
“Lihatlah.” Bima menurunkan salah satu sisi pengait gaun Livia dengan mudah dan memamerkan pundak seksinya.
“Apa yang kamu lakukan, Bima?” tanya Livia, gadis itu mencoba menahan salah satu sisi bajunya yang sedikit melorot.
__ADS_1